KESABARANKU MELANGKAH MENUJU UNIVERSITAS DENGAN KETERBATASAN EKONOMI
Pada tahun 2024, aku masih kelas 11 SMK. Seperti kebanyakan orang, aku juga mendambakan kesuksesan dan gelimangan harta. Menjalani kegiatan layaknya siswa-siswi lainnya. Waktu itu aku masih bisa menjalani hidup semudah bangun tidur, berangkat sekolah dengan uang saku yang disiapkan ibu, sarapan sudah tersedia, dan masih merasakan betapa menyenangkannya kegiatan bersekolah. Aku sangat menikmati masa-masa di mana aku tak perlu memikirkan, "Uang besok cukup tidak ya buat makan?" karena ayahku masih dengan jaya mencari nafkah untuk keluarga di perantauan.
Hingga tanpa sadar waktu berjalan begitu cepat, aku sudah berada di kelas 12 SMK. Tahun 2025, aku mulai merasakan ada sesuatu yang janggal dengan suasana rumah. Ibu menjadi lebih sering menatap ponselnya. Tak jarang aku mendengar suara bisik-bisik ibu waktu malam, dan sikap aneh ibu dalam memperlakukan ayah. Saat itu aku belum tahu, ternyata ini ada hubungannya dengan rumah tangga mereka.
Aku berusaha menghalau pemikiran negatifku dengan giat belajar, di mana ujian kelulusan sudah dekat di depan mata. Waktu itu, seperti biasa aku pulang sekolah dengan motor yang sudah menjadi jembatan mencari ilmu. Aku membuka pintu perlahan… aku tak menemukan ibu dan adikku di rumah. "Di mana mereka?" aku bertanya-tanya sembari memasuki rumah. Saat itu aku melangkah berniat mengganti seragam di kamar, tetapi tiba-tiba saja langkahku terhenti kala pandanganku menangkap keberadaan ponsel ibu yang berada di meja ruang tamu. Lantas rasa penasaran membanjiri pikiranku. Aku segera mengambil ponsel itu dengan jantung berdebar, layaknya akan ada peristiwa besar yang terjadi.
Dan… boom! Semuanya runtuh. Aku melihat pesan romantis di ponsel ibu dari seorang laki-laki dan itu bukan ayah. Seketika tanganku bergetar, tak kuat menahan perasaan kecewa sekaligus kesal yang menyeruak dalam hati. Kepercayaanku pada ibu perlahan kian memudar. "Kenapa ibu melakukan tindakan memalukan seperti itu?" batinku bertanya-tanya. Lantas dengan terburu-buru aku pun menghapus semua pesan yang terasa menjijikkan di penglihatanku. Tak sampai di situ, aku bahkan menghapus semua nomor-nomor dari lelaki asing itu dengan benci. Setelah itu, aku mendengar suara ibu dan adikku yang sudah pulang. Dari yang aku lihat, sepertinya mereka habis pergi dari warung saat melihat jajanan yang berada di tangan adikku. Aku menatap ibu yang memasuki rumah dengan tatapan rumit. Ibu yang menangkap tatapanku pun bertanya padaku, dan aku jawab dengan gelengan pelan. Aku pun pergi ke kamar dan menguncinya, tak peduli ibu yang sedang menatapku heran.
Aku menangis dalam diam dengan perasaan bingung. "Apa yang harus aku lakukan?" Aku takut untuk memberitahu ayah. Aku takut jika ayah akan marah besar. Sejak saat itu aku pun berusaha lebih ketat memantau tindakan ibu. Aku lebih sering mengecek ponsel ibu, dan menegur ibu untuk membuatnya sadar. Tetapi entah kenapa ibu terus melakukan tindakan memalukan itu, hingga tibalah saat ayah sudah menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke rumah. Saat ayah pulang pun aku masih tetap belum memberitahu ayah yang sebenarnya. Mengingat temperamental ayah yang keras, aku takut kejadian yang tak disangka-sangka akan menimpa hubungan rumah tangga mereka.
Dan ternyata dugaanku telah terjadi. Ibu ketahuan mempunyai hubungan asmara dengan pria lain. Ayahku marah besar. Emosi yang meluap di sekitar ayah benar-benar menakutkan. Aku menyaksikan sendiri dengan adikku yang berada dalam pelukanku. Aku melihat ibu dipukul dengan sebatang bambu yang keras, bahkan sampai bambu itu pecah. Tak sampai di situ, ibu ditendang layaknya bola, dan didorong dengan keras. Ibu meraung meminta ampun atas kesalahannya yang tak didengar oleh ayah. Tatapan kecewa yang sangat dalam itu dapat terlihat jelas pada netra ayah yang merah, entah karena amarahnya yang meledak atau karena menahan tangis. Aku yang melihat adegan itu pun tak tahan. Aku bergerak mendekati ayah dan menegurnya untuk membicarakan masalah ini baik-baik. Aku menarik tangan ibu dan menghadang ayah, membiarkan ibu berlari keluar masih dengan tangisan.
Dan itu… berhasil. Seorang tetangga mendekati kami dan menyadarkan ayah yang masih dalam emosi tak terkontrol.
Aku menyatakan, tanggal 17 April 2025 adalah hari yang tak akan aku lupakan. Singkat cerita, ibu dibawa ke rumah nenek. Aku dan adikku ikut ibu terlebih dahulu. Aku yang waktu itu sedang menjalani ujian kelulusan pun berusaha yang terbaik untuk mengerjakannya. Aku masih punya impian untuk berkuliah di kampus impianku. Walaupun aku tahu dengan keadaan sekarang, ayah yang masih belum bekerja dan mengalami depresi ringan karena masalah rumah tangganya. Waktu terus berjalan, kedua orang tuaku memutuskan untuk bercerai. Aku tak hanya bisa menerimanya dengan lapang dada.
Ujian selesai, aku merasa kondisi kesehatanku buruk akhir-akhir ini. Batuk tiada henti, sesak, dada yang terasa berat dan nyeri, lemas yang berlebihan, hingga berat badan turun drastis karena tak ada nafsu makan. Aku masih berusaha berpikir positif. Saat itu ekonomi sedang tidak stabil. Ibu yang mau mengurus cerai, yang mana butuh uang tak sedikit. Ayah juga belum bekerja. Di dalam hati, aku menahan keinginan berkuliah. Aku memutuskan untuk bekerja mati-matian di toko baju waktu itu, yang gajinya tak seberapa. Dengan kondisi kesehatan yang memburuk pun aku memutuskan terus bekerja, sampai pada hari di mana aku tak kuat menahan sesak dalam dadaku. Aku memutuskan untuk cuti satu hari untuk diperiksa di rumah sakit.
Dan… entah kenapa nasib malang menimpaku kembali. Aku didiagnosis TB paru. Aku harus perawatan jalan, minum obat tiada henti. Aku berhenti bekerja karena tak boleh kelelahan. Ibu dan Ayah yang tahu aku sakit, mereka kecewa tentu saja, dan kebingungan: uang dari mana untuk perawatan ini?
Dari situ ibu pun menyerah merawatku di rumah nenek. Ia memutuskan untuk bekerja di perantauan untuk mencari uang. Aku ditinggal di rumah nenek dengan adikku. Tetapi kerumitan masih terjadi antara ayah dengan ibu. Ayah memang sudah bekerja. Tapi di suatu hari, aku dan adikku dibawa untuk ikut pihak ayah. Dan saat itulah aku tinggal bersama ayah dan adik di rumah yang sebelumnya menjadi saksi kejadian tak menyenangkan rumah tangga orang tuaku. Keinginan untuk berkuliah mengejar mimpi masih melekat di hati, walaupun itu harus menunggu satu tahun untuk sembuh dari sakitku.
Satu tahun berlalu. Aku tinggal berdua dengan adikku di rumah. Ayah terkadang bekerja di perantauan dan akan pulang satu bulan sekali. Ayah yang tahu keinginanku untuk berkuliah pun setuju dan memperbolehkan. Syukur terucap dari mulutku. Satu tahun sudah aku menjalani pengobatan. Pada April 2026, aku dinyatakan sembuh.
Namun, keadaan ekonomi sekarang masih belum bisa dikatakan stabil. Ayah hanya bekerja jika ada proyek. Sedangkan proyek akan selesai dalam jangka satu sampai dua bulan, dan ayah akan pulang dan menganggur di rumah. Aku kecewa. Perasaan frustasi karena ekonomi yang kian memburuk itu mencekikku. Terkadang aku menangis dalam kamar mandi diam-diam, merenungi nasibku. Aku tak bisa bekerja sekaligus kuliah karena ada seorang adik yang harus aku urus di rumah. Aku kasihan dengan adikku yang masih 8 tahun. Ayah berbulan-bulan belum ada proyek yang cocok untuk dikerjakan.
Hari pembukaan mahasiswa baru sudah dimulai dari lama. Aku semakin terburu-buru dan merasa tertinggal. Aku menangis pada ayah, menyampaikan keinginanku untuk berkuliah. Ayah tak berkutik. Tak menyerah, aku pun berusaha mencari solusi untuk mencapai keinginanku berkuliah. Aku mencari berbagai beasiswa yang cocok untuk kondisiku saat ini. Dan akhirnya aku menemukan beasiswa KIP-K. Tak membuang waktu, aku segera berdiskusi dengan ayah dan mengumpulkan berkas yang dibutuhkan sendirian. Lalu mendaftarkan diri di sebuah universitas swasta di dekat daerahku.
Pada Juni 2026, aku pun sudah mendaftar. Tapi perasaan tenang belum sepenuhnya muncul di hatiku, karena aku harus menunggu pengumuman di mana aku diterima di universitas swasta tersebut.
Hingga pada hari ini, saat aku menulis teks ini dengan sepenuh hati, aku masih menunggu. Sampai aku diterima beasiswa. Tapi, aku sangat yakin aku akan diterima, karena aku sudah berusaha sepenuhnya.
Itulah semua perjalananku yang rumit, di mana ujian-ujian hidup menimpaku. Aku mengambil kesimpulan: hidup akan terus berjalan. Seberat apa pun masalahmu, kamu harus tetap menjalaninya. Kamu boleh mengeluh, menangis, dan marah. Mengoceh karena mengeluh sembari terus berjalan itu lebih baik dibanding kamu mengeluh tetapi diam di tempat tak melakukan apa-apa.
