Satu Bulan yang Mengubah Hidupku

Perjalanan Menuju Kampus Impian

Ada kalanya mimpi datang bukan karena sudah direncanakan sejak lama, melainkan karena seseorang yang terus meyakinkan kita untuk berani mencoba. Begitulah kisahku.

Sejujurnya, aku tidak pernah benar-benar berencana mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Saat melihat teman-teman sudah mempersiapkan diri sejak jauh hari, mengikuti bimbingan belajar, dan rutin mengerjakan try out, aku justru merasa tertinggal. Aku berpikir bahwa kesempatanku untuk lolos sangat kecil. Dalam pikiranku, SNBT hanya akan menjadi perjuangan yang berakhir dengan kegagalan.

Namun, kedua orang tuaku memiliki keyakinan yang tidak kumiliki saat itu.

Mereka terus menyemangatiku dan mengatakan bahwa kesempatan tidak akan datang jika aku sendiri tidak berani mengambilnya. Mereka tidak pernah menuntutku harus lolos, tetapi mereka ingin aku mencoba agar kelak tidak hidup dalam penyesalan. Dari merekalah aku belajar bahwa keberanian sering kali menjadi langkah pertama menuju sebuah mimpi.

Akhirnya, aku memberanikan diri mendaftar SNBT.

Saat itu, waktu yang kumiliki sangat sedikit. Kurang dari satu bulan sebelum pelaksanaan ujian, aku baru benar-benar mulai mempersiapkan diri. Waktu yang bagi sebagian orang mungkin terasa mustahil untuk mengejar begitu banyak materi.

Hari-hariku berubah. Aku belajar semampuku, mengulang materi yang terlupakan, mengerjakan latihan soal, dan terus berusaha memperbaiki kekurangan yang kumiliki. Di sela-sela belajar, rasa takut sering datang menghampiri. Aku sadar banyak peserta lain yang telah mempersiapkan diri selama berbulan-bulan, sedangkan aku baru memulai. Namun, setiap kali rasa ragu muncul, aku kembali mengingat doa dan harapan kedua orang tuaku. Aku tidak ingin menyerah bahkan sebelum berjuang.

Malam-malamku berubah menjadi waktu untuk mengejar ketertinggalan. Ketika banyak orang sudah berada di tahap mengulang materi, aku masih berusaha memahami konsep-konsep yang belum benar-benar kupahami. Berkali-kali aku merasa tertinggal. Berkali-kali pula aku bertanya dalam hati, “Apakah aku masih punya kesempatan?” Namun, aku sadar bahwa rasa takut tidak akan pernah membawaku ke mana-mana. Aku memilih tetap belajar, meski sedikit demi sedikit. Bagiku, lebih baik datang ke ruang ujian dengan segala usaha yang telah kulakukan daripada menyesal karena menyerah sebelum mencoba.

Hari pengumuman SNBT akhirnya tiba.

Aku membuka hasil seleksi dengan perasaan campur aduk antara takut, cemas, dan penuh harap. Tanganku gemetar saat menekan tombol untuk melihat hasilnya. Dalam hati aku hanya mampu berdoa, apa pun hasilnya semoga menjadi yang terbaik.

Beberapa detik kemudian, tulisan yang selama ini kuimpikan muncul di layar.

Aku dinyatakan lulus SNBT di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Purwakarta, Program Studi Pendidikan Sistem dan Teknologi Informasi (PSTI).

Aku terdiam. Air mataku perlahan jatuh. Rasanya sulit dipercaya bahwa perjuangan singkat yang dipenuhi doa dan harapan itu benar-benar membuahkan hasil.

Qadarullah, Allah memberikan jalan yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Dari seseorang yang awalnya bahkan tidak berniat mengikuti SNBT, kini aku justru berhasil diterima melalui jalur tersebut. Saat melihat kedua orang tuaku tersenyum penuh haru, aku sadar bahwa kebahagiaan ini bukan hanya milikku. Ini adalah hasil dari doa-doa yang mereka panjatkan setiap hari dan keyakinan mereka yang tidak pernah goyah kepadaku.

Perjalanan ini mengajarkanku bahwa kesempatan tidak selalu datang ketika kita merasa paling siap. Terkadang, kesempatan hadir justru ketika kita dipenuhi keraguan. Yang membedakan hanyalah satu hal: apakah kita berani melangkah atau memilih menyerah sebelum mencoba.

Kini aku percaya bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Mungkin aku hanya memiliki waktu kurang dari satu bulan untuk mempersiapkan SNBT, tetapi Allah mampu mengubah waktu yang singkat itu menjadi awal dari perjalanan panjang menuju masa depan yang kuimpikan.

Untuk siapa pun yang sedang berjuang meraih kampus impian, jangan pernah takut karena merasa terlambat atau belum siap. Selama masih ada kemauan untuk berusaha, doa yang terus dipanjatkan, dan restu dari orang tua, selalu ada kemungkinan bahwa jalan yang tampak mustahil hari ini akan menjadi kenyataan esok hari.

4 Komentar

  1. Jujurr aku as a gapyear, nyesel ga berani nyoba kaya kamu:)
    Hebat ih semangat ya

  2. hai zahra, btw nama kita hampir mirip nih cuma kebalik aja^-^
    ternyata bener ya doa orang tua tu mustajab banget, ikut seneng ngeliat kamu keterima di ptn itu.. fighting, btw kenalin aku Queenara aulia zahra atau boleh kita mutualan ig yachh @queenaraa

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *