Jalan yang Tidak Pernah Kumasukkan dalam Rencana

Sumber : Dokumen Pribadi

“Aku berhasil?.”

Dua kata itu muncul dari bibirku ketika aku melihat pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2024. Namun, alih-alih berteriak bahagia, aku justru menangis.

Aku diterima di Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Universitas Lampung. Kampus itu bukan kampus yang selama bertahun-tahun kuimpikan. Bukan kampus yang selalu kusebut dalam doa. Bukan kampus yang kubayangkan akan menjadi tempatku memulai kehidupan sebagai mahasiswa.

Di saat aku menangis karena merasa gagal meraih tujuan yang kuinginkan, kedua orang tuaku juga menangis. Bedanya, mereka menangis karena bersyukur.

Saat itulah aku menyadari bahwa perjuangan masuk kampus ternyata bukan hanya tentang diterima atau ditolak. Ada cerita panjang yang tidak terlihat di balik satu kalimat sederhana, “Aku lolos kuliah.”

Aku berasal dari keluarga sederhana. Ayahku bekerja di sebuah Perusahaan swasta, Perusahaan tersebut menyediakan fasilitas sekolah bagi para karyawannya. Karena itulah aku bisa bersekolah di sana tanpa harus membayar biaya pendidikan. Bagi keluargaku, kesempatan itu adalah sebuah bantuan besar.

Namun, sekolah tersebut hanya memiliki satu jurusan, yaitu IPA.

Aku tidak memiliki banyak pilihan.

Sejak awal aku sebenarnya merasa kurang cocok berada di jurusan itu. Aku bukan siswa yang unggul dalam fisika, kimia, atau berbagai bidang yang sering dilombakan dalam olimpiade sains. Sementara itu, hampir seluruh perhatian sekolah tertuju pada prestasi akademik dan kompetisi sains.

Aku sering merasa tertinggal.

Padahal sejak kecil aku memiliki ketertarikan pada banyak hal lain. Aku senang berenang, bermain tenis meja, membaca pidato, menulis puisi, hingga membuat cerita pendek. Ketika diberi kesempatan berbicara di depan umum, aku merasa percaya diri. Ketika diminta menulis, aku merasa hidup. Bahkan aku sering menjuarai beberapa lomba non akademik sampai aku SMP.

Namun, bakat-bakat itu jarang mendapatkan ruang untuk berkembang ketika aku duduk di bangku SMA. Di sekolahku, yang paling sering terdengar adalah olimpiade, olimpiade, dan olimpiade.

Aku tidak menyalahkan siapa pun. Aku memahami bahwa setiap sekolah memiliki fokusnya masing-masing. Namun, sebagai seorang siswa yang tidak menonjol di bidang akademik, aku sering bertanya-tanya apakah sebenarnya aku juga memiliki kesempatan untuk berkembang?

Ketika teman-temanku mulai mengumpulkan sertifikat dan prestasi akademik, aku merasa tidak memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan. Aku tidak memiliki pencapaian yang cukup kuat untuk membantuku mendapatkan beasiswa atau jalur prestasi.

Sampai hari ini, aku masih menyimpan sedikit penyesalan. Andai waktu bisa diputar kembali, mungkin aku akan memaksa diriku belajar lebih keras di bidang IPA. Mungkin aku akan mencoba mengikuti olimpiade dan mengumpulkan prestasi sebanyak mungkin. Mungkin aku akan mempersiapkan masa depanku dengan lebih baik.

Namun hidup tidak menyediakan tombol kembali. Penyesalan tidak pernah bisa mengubah masa lalu. Karena itulah aku memilih melanjutkan langkah dengan apa yang kumiliki.

Meski berada di jurusan IPA, aku mulai menyadari bahwa minatku sebenarnya berada di dunia bisnis. Aku tertarik pada pemasaran, manajemen sumber daya manusia, keuangan, dan dunia usaha. Aku membayangkan diriku bekerja secara profesional di sebuah perusahaan atau bahkan membangun sebuah bisnis sendiri suatu hari nanti.

Mimpi itu muncul semakin kuat ketika aku melihat peluang yang dimiliki mahasiswa di kota-kota besar. Aku membayangkan kuliah sambil bekerja paruh waktu, mendapatkan pengalaman, dan belajar hidup mandiri jauh dari keluarga. Karena itulah aku jatuh cinta pada Universitas Brawijaya.

Bagiku, kampus itu bukan sekadar tempat belajar. Kampus itu adalah simbol dari masa depan yang selama ini kuimpikan. Aku ingin merantau ke Pulau Jawa. Aku ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun di balik semua mimpi itu, ada kenyataan yang selalu menghantuiku. Orang tuaku pernah mengatakan dengan jujur bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah melalui jalur mandiri ataupun kampus swasta.

Harapanku hanya satu. Aku harus lolos SNBP atau SNBT. Jika tidak, kemungkinan besar aku harus menunda kuliah dan mencari pekerjaan. Kalimat itu terus terngiang di kepalaku. Masalahnya, aku tidak pernah mempersiapkan diriku untuk gagal. Selama SMA, aku mempersiapkan diriku untuk menjadi mahasiswa, bukan menjadi pencari kerja. Aku bahkan tidak memiliki gambaran jelas tentang pekerjaan apa yang akan kulakukan jika tidak berhasil masuk perguruan tinggi. Masa depanku terasa seperti berada di ujung sebuah jembatan yang rapuh.

Ketika hasil SNBP diumumkan, aku dinyatakan tidak lolos. Aku terdiam cukup lama di depan layar. Meskipun sudah berusaha menyiapkan diri untuk segala kemungkinan, kenyataan tetap terasa menyakitkan.

Aku gagal.

Saat itu aku tidak hanya kecewa terhadap diriku sendiri, tetapi juga mulai takut. Takut jika kesempatan kuliah benar-benar hilang. Takut mengecewakan orang tua. Takut menghadapi masa depan yang belum pernah kupersiapkan.

Namun, aku masih memiliki satu kesempatan terakhir: SNBT. Sejak saat itu, aku mulai belajar lebih keras. Di saat banyak teman mengikuti bimbingan belajar dengan biaya jutaan rupiah setiap bulan, aku belajar menggunakan cara yang paling sederhana. Aku mengandalkan video pembelajaran di YouTube. Aku bergabung dengan grup belajar WhatsApp. Aku menghabiskan kuota internet yang dibelikan orang tuaku untuk menonton pembahasan soal dan latihan setiap hari.

Tidak ada kelas premium.

Tidak ada tutor pribadi.

Tidak ada fasilitas mewah.

Hanya ada tekad untuk bertahan.

Sayangnya, perjuangan itu tidak berjalan mulus.

Hasil try out yang kuikuti sering kali membuatku kehilangan semangat. Nilainya tidak sesuai harapan. Bahkan ada masa ketika skor yang kudapat justru semakin menurun.

Aku mulai mempertanyakan kemampuanku sendiri.

Apakah aku belajar dengan cara yang salah?

Apakah aku memang tidak cukup pintar?

Apakah semua usaha ini akan berakhir sia-sia?

Aku mulai merasa lelah.

Aku mulai jenuh.

Aku mulai pesimis.

Namun setiap kali ingin menyerah, aku melihat orang tuaku.

Mereka mungkin tidak mampu membayar bimbingan belajar mahal, tetapi mereka selalu memastikan aku memiliki kuota internet untuk belajar. Mereka tidak pernah mengganggu waktuku ketika belajar. Mereka selalu memberi semangat meskipun sebenarnya merekalah yang paling cemas menghadapi hasil seleksi nanti.

Melihat mereka membuatku malu untuk menyerah.

Sedikit demi sedikit, aku bangkit lagi.

Aku terus belajar.

Aku terus mencoba.

Dan perlahan, hasil try out-ku mulai meningkat.

Tidak sempurna.

Tetapi cukup untuk membuatku percaya bahwa harapan itu masih ada.

Hari pengumuman SNBT akhirnya tiba.

Tanganku gemetar saat membuka hasil seleksi. Jantungku berdegup sangat cepat. Lalu kalimat itu muncul.

Aku dinyatakan lolos di Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Lampung.

Aku diterima.

Namun yang kurasakan bukanlah kebahagiaan seperti yang selama ini kubayangkan. Aku menangis. Aku menangis karena kampus impianku tidak berhasil kudapatkan. Aku merasa semua rencanaku berubah dalam hitungan detik. Aku merasa sedang mengucapkan selamat tinggal kepada mimpi yang selama ini kurawat.

Namun ketika aku melihat kedua orang tuaku, semuanya berubah. Mereka menangis karena bersyukur.

Bagi mereka, kampus mana pun bukanlah masalah utama. Yang terpenting, anaknya masih bisa melanjutkan pendidikan.

Saat itu aku sadar bahwa selama ini aku terlalu fokus pada tempat tujuan, sampai lupa menghargai perjalanan yang sudah berhasil kulewati.

Aku berpikir perjuanganku selesai setelah dinyatakan lolos. Ternyata aku salah. Perjuangan berikutnya justru dimulai setelah pengumuman. Masalah terbesar kami adalah biaya.

Penghasilan ayahku sebenarnya tidak besar. Setelah berbagai kebutuhan keluarga, cicilan, dan kewajiban lainnya, jumlah uang yang tersisa jauh dari cukup untuk membiayai kuliah dengan mudah.

Ketika penetapan UKT diumumkan, aku mendapatkan nominal yang cukup besar. Aku mencoba mengajukan banding. Namun hasilnya tidak berubah. Aku masih ingat bagaimana keluarga kami berdiskusi berkali-kali mengenai biaya kuliah.

UKT harus dibayar.

Kos harus dicari.

Biaya hidup harus dipersiapkan.

Aku akhirnya memilih kos dengan harga paling murah yang bisa kudapatkan dan dekat dengan kampus agar tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk kendaraan. Setiap rupiah terasa sangat berarti.

Di saat yang sama, keluarga kami juga sedang menghadapi berbagai masalah lain. Ada anggota keluarga yang sakit dan membutuhkan bantuan biaya. Ada persoalan utang piutang yang menimbulkan konflik. Ada kebutuhan rumah tangga yang tidak bisa ditunda. Di tengah semua itu, aku sering bertanya dalam hati.

“Apakah aku sebenarnya punya kesempatan untuk kuliah?”

Pertanyaan itu muncul ketika melihat orang tuaku harus meminjam uang demi membayar UKT. Pertanyaan itu muncul ketika melihat mereka mengorbankan begitu banyak hal agar aku tetap bisa bersekolah. Aku merasa menjadi beban. Aku merasa bersalah. Namun setiap kali aku mengungkapkan perasaan itu, orang tuaku selalu mengatakan hal yang sama.

“Teruslah belajar.”

Kalimat sederhana itu menjadi alasan mengapa aku tetap bertahan hingga hari ini.

Kini, setelah menjalani perjalanan tersebut, aku memahami bahwa perjuangan masuk kampus bukan hanya tentang nilai ujian atau hasil seleksi. Perjuangan adalah ketika seseorang tetap berusaha meskipun fasilitasnya terbatas.

Perjuangan adalah ketika orang tua rela mengorbankan kenyamanan mereka demi masa depan anaknya.

Perjuangan adalah menerima bahwa tidak semua doa dikabulkan dalam bentuk yang kita inginkan.

Aku memang tidak kuliah di kampus yang dulu selalu kubayangkan. Aku memang tidak menjalani jalan yang pernah kurencanakan sejak SMA. Namun, Universitas Lampung mengajarkanku sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar status kampus impian.

Ia mengajarkanku tentang ketekunan. Tentang pengorbanan. Tentang rasa syukur. Dan yang paling penting, tentang bagaimana tetap berjalan meskipun hidup tidak sesuai dengan rencana.

Hari ini aku percaya bahwa keberhasilan bukan ditentukan oleh seberapa sempurna jalan yang kita tempuh, melainkan oleh keberanian untuk terus melangkah ketika jalan itu berubah arah. Karena terkadang, jalan terbaik bukanlah jalan yang kita impikan sejak awal. Melainkan jalan yang dipilihkan kehidupan untuk membuat kita tumbuh. Namun, ada satu hal yang baru kusadari setelah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Dulu, aku sering bertanya mengapa aku tidak diterima di kampus yang selama ini kuimpikan. Aku merasa telah berusaha keras. Aku belajar dengan segala keterbatasan yang ada. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh. Karena itu, ketika hasil yang kudapat tidak sesuai harapan, aku sempat menganggap bahwa hidup tidak berpihak kepadaku.

Tetapi waktu mengajarkanku sesuatu.

Semakin lama aku menjalani perkuliahan, semakin banyak hal yang membuatku mengerti bahwa tidak semua kebaikan datang dalam bentuk yang kita inginkan. Ada kalanya Tuhan memberikan sesuatu yang berbeda dari harapan kita karena Dia mengetahui apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Di kampus tempatku belajar sekarang, aku bertemu banyak orang yang memberiku pelajaran berharga. Aku belajar hidup mandiri. Aku belajar mengelola keuangan. Aku belajar menghadapi berbagai tantangan tanpa selalu bergantung kepada orang tua. Aku juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diriku melalui berbagai pengalaman yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan.

Bahkan, aku mulai berani mencoba hal-hal baru yang dulu hanya menjadi angan-angan. Aku belajar memahami dunia bisnis lebih dekat, aktif di organisasi menjadi pengurus, dan merasakan kebanggaan ketika bisa mengelola uang yang aku milki walaupun tidak sebanyak itu. Pengalaman-pengalaman itu membuatku tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dibandingkan diriku beberapa tahun lalu.

Kini, ketika mengingat kembali sore saat aku menangis karena tidak diterima di kampus impian, aku hanya bisa tersenyum. Bukan karena rasa kecewa itu hilang begitu saja, melainkan karena aku akhirnya memahami bahwa setiap jalan memiliki tujuannya masing-masing.

Mungkin jika aku diterima di tempat yang dulu sangat kuinginkan, aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang. Mungkin aku tidak akan mendapatkan pelajaran hidup yang sama. Mungkin aku tidak akan belajar menghargai perjuangan orang tua sedalam ini.

Hari ini aku tidak lagi bertanya mengapa Tuhan membawaku ke tempat ini. Sebaliknya, aku bersyukur karena telah ditempatkan di sini.

Perjalanan ini mengajarkanku bahwa terkadang jawaban dari doa tidak selalu berbentuk apa yang kita minta. Kadang-kadang, jawaban itu hadir dalam bentuk yang berbeda, dalam bentuk yang pada awalnya sulit kita terima, tetapi pada akhirnya menjadi hal terbaik yang pernah diberikan kepada kita.

Kini aku percaya bahwa rencana Tuhan tidak selalu sejalan dengan keinginan manusia, tetapi selalu memiliki tujuan yang baik. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi menyesali jalan yang kupilih, karena aku tahu bahwa jalan inilah yang membawaku menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bersyukur, dan lebih siap menghadapi masa depan.

Tinggalkan Komentar