JUDUL ARTIKEL: KISAH INSPIRATIF PERJUANGAN MERAIH PERGURUAN TINGGI: REFLEKSI AGROTEKNOLOGI UBB MENUJU ERA PETANI BERTEKNOLOGI

BAB I: Romantika Asrama dan Titik Balik Paradigma Impian

Perjalanan akademis saya dimulai dengan sebuah dinamika yang cukup kontras di sekolah berasrama SMA Negeri 1 Pemali. Sebagai siswa yang tergabung dalam program kelas beasiswa PT Timah Tbk., sebuah kelas unggulan yang diisi oleh talenta-talenta berbakat. Ekspektasi dan tekanan internal maupun eksternal menjadi bagian dari keseharian. Pada awal kelas X, di tengah proses adaptasi kehidupan berasrama yang ketat, minat saya justru tertambat pada dunia Teknologi setelah bergabung dengan Ekstrakurikuler Tim Olimpiade Informatika. Ketertarikan yang menggebu-gebu pada dunia digital ini bahkan membuat saya sempat menuliskan sebuah target ambisius di catatan pribadi: “Teknik Informatika, Oxford University.” Sebuah mimpi yang terdengar naif bagi sebagian orang, namun menjadi simbol determinasi awal seorang Peserta didik asrama.

Namun, arah perjuangan mulai berubah ketika saya menginjak kelas XI dan diamanahkan menjadi bagian dari Organisasi Intra Asrama (OSIA) di Divisi Kewirausahaan. Salah satu fokus program kerja kami adalah mengelola lahan pertanian kecil di area asrama untuk budidaya sayuran. Pengalaman langsung menyentuh tanah, merawat benih, dan melihat sayuran tumbuh subur memicu sebuah kesadaran baru di dalam diri saya. Didukung oleh latar belakang orang tua yang merupakan seorang petani, saya melihat sebuah peluang cerah dan masa depan yang sangat menjanjikan di dunia pertanian modern. Dunia digital yang saya pelajari di informatika tidak harus ditinggalkan, melainkan dapat dikawinkan dengan dunia pertanian. Sejak saat itu, kiblat impian saya bergeser menuju Institut Pertanian Bogor (IPB). Saya mendalami berbagai informasi hingga menemukan formula akademis yang saya anggap sempurna melalui program Mayor-Minor di IPB, yakni mengambil Mayor Agronomi dan Hortikultura (AGH) yang dikombinasikan dengan Minor Proteksi Tanaman (PTN).

BAB II: Menghadapi Rentetan Kegagalan dengan Keteguhan Mental

Dalam upaya mengejar tiket emas menuju IPB, saya aktif berburu informasi perlombaan. Saya menemukan informasi mengenai Olimpiade Pertanian Indonesia (OPI) yang diselenggarakan oleh IPB, yang menyediakan golden ticket masuk tanpa tes bagi para pemenang. Namun, takdir menguji kesiapan saya. Saya mengingat dengan sangat jelas momen di suatu malam ketika saya menemukan informasi tersebut pada pukul 23.32 WIB, sedangkan batas akhir pendaftaran sekaligus pengumpulan esai jatuh pada pukul 23.59 WIB di malam yang sama. Dengan sisa waktu 27 menit dan kewajiban melampirkan surat izin resmi dari Kepala Sekolah, saya terpaksa melewatkan peluang tersebut. Kekecewaan semakin mendalam ketika beberapa minggu kemudian saya mengetahui bahwa terdapat satu cabang lomba kelompok yang batas waktunya diperpanjang satu minggu dari malam tersebut. Sebagai ketua kelas unggulan yang dikelilingi oleh rekan-rekan berotak cemerlang, saya sebenarnya sudah merancang formasi tim ideal berdasarkan keahlian masing-masing. Penyesalan itu membekas, namun saya menolak untuk terpuruk dan memilih fokus pada peluang berikutnya.

Peluang itu datang melalui Future Agile Leader Program (FALP) yang diadakan oleh Himpunan Alumni IPB. Berbekal rekam jejak organisasi yang padat, mulai dari Ketua OSIA 2025, Ketua Ekstrakurikuler Robotika 2025/2026, Wakil Ketua Palang Merah Remaja (PMR) 2024/2025, hingga pengalaman sebagai kakak tutor di Tim Informatika, saya mendaftarkan diri. Uniknya, jika mayoritas peserta membawa nama OSIS, saya dengan bangga membawa nama OSIA. Langkah saya sempat melaju hingga babak Top 4000 dan mengikuti serangkaian webinar series. Namun, periode tersebut menjadi fase tersibuk dalam hidup saya. Fokus saya terpecah karena jadwal FALP berhimpitan langsung dengan TKA dan seleksi Beasiswa Perintis.

Di tengah badai aktivitas tersebut, kegagalan kembali menghampiri secara bertubi-tubi. Saya dinyatakan gugur dalam tahapan FALP. Di saat yang sama, pada seleksi ujian Beasiswa Perintis, sebuah kendala teknis yang fatal terjadi laptop yang saya gunakan tiba-tiba mengalami hang parah, mati total, dan baru dapat menyala kembali di penghujung waktu ujian. Kesempatan emas itu lenyap seketika. Di bidang olimpiade pun, saya harus menerima kenyataan pahit terkunci di babak provinsi (OSN-P) sebanyak tiga kali berturut-turut. Pada OSN-K 2024 saya meraih Juara 1, namun terhenti di OSN-P. Pada OSN 2025, peringkat saya di kabupaten turun menjadi Juara 2 dan kembali tereliminasi di tingkat provinsi. Bahkan saat mencoba peruntungan di ajang baru, OSN-AI (Artificial Intelligence), langkah saya kembali terhenti di peringkat Top 1430 seleksi online. Selalu setingkat sebelum memasuki babak nasional.

BAB III: Takdir Jalur SNBP dan Keikhlasan Langkah Baru

Ketika Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dibuka, saya menyusun strategi dengan rasionalitas tinggi. Mengikuti regulasi wajib memilih PTN di dalam provinsi asal, saya menempatkan Agronomi dan Hortikultura IPB pada Pilihan Pertama, dan Agroteknologi Universitas Bangka Belitung (UBB) pada Pilihan Kedua. Sebagai rencana cadangan, saya juga mengikuti seleksi administrasi Universitas Pertahanan (Unhan) pada jurusan Sejarah karena nilai rapor yang tidak mencukupi untuk jurusan Informatika, serta menyiapkan empat pilihan strategis untuk jalur UTBK-SNBT dan sekolah kedinasan POLTEKSSN.

Kejutan takdir dimulai ketika pengumuman Unhan menyatakan saya lolos seleksi administrasi bersama enam rekan asrama lainnya. Namun, beberapa waktu kemudian, hasil SNBP resmi diumumkan. Saya mendapat warna BIRU sebuah tanda kelulusan resmi pada Pilihan Kedua Agroteknologi Universitas Bangka Belitung.

Berdasarkan regulasi ketat, siswa yang telah dinyatakan lolos SNBP secara otomatis tidak dapat mendaftar UTBK-SNBT maupun sekolah kedinasan yang mensyaratkan nilai UTBK, seperti POLTEKSSN. Di persimpangan jalan tersebut, setelah melakukan refleksi mendalam, saya mengambil keputusan besar untuk melepaskan peluang di Universitas Pertahanan dan memilih sepenuhnya untuk berfokus pada ilmu pertanian di Universitas Bangka Belitung. Proses daftar ulang saya lalui dengan konsentrasi penuh. Saking fokusnya menyelesaikan seluruh berkas administrasi hingga mendapatkan Nomor Induk Mahasiswa (NIM), saya sampai melewatkan rutinitas harian di aplikasi Ruangguru, yang mengakibatkan streak belajar selama 350 hari yang sudah saya bangun dengan susah payah harus reset kembali ke angka nol. Sebuah pengorbanan kecil yang ironis di tengah perjuangan besar.

BAB IV: Fase Transisi dan Misi Strategis Menuju Swasembada Pangan

Kini, status sebagai mahasiswa baru Universitas Bangka Belitung telah resmi saya sandang. Meski demikian, perjuangan belum sepenuhnya selesai. Sebagai pendaftar KIP-Kuliah yang dinyatakan masuk dalam kategori non-eligible karena berada di Desil 5, saya harus memutar otak dan berjuang secara mandiri untuk mencari beasiswa pendamping dari pemda maupun swasta yang saat ini masih dalam proses menunggu pengumuman resmi, program beasiswa Amgala Vision pada bidang STEM.

Di masa transisi dari bangku sekolah menuju dunia perkuliahan ini, saya tidak membiarkan waktu terbuang sia-sia. Setiap hari, saya mendedikasikan diri untuk membantu menjaga toko milik Ibu. Namun, di sela-sela aktivitas tersebut, ketertarikan saya pada dunia teknologi terus menyala. Saya memanfaatkan waktu luang untuk mengambil berbagai kursus dan pelatihan sertifikasi online di bidang teknologi, seperti Dicoding, AWS Academy, hingga Cisco.

Melalui perjalanan berliku ini, saya menyadari bahwa takdir tidak membawa saya ke Oxford ataupun Bogor, melainkan menempatkan saya di program studi Agroteknologi UBB. Di sinilah tempat terbaik bagi saya untuk menyusun sebuah misi besar, mengintegrasikan ilmu informatika dan digitalisasi yang saya pelajari secara otodidak ke dalam sektor pertanian modern. Langkah nyata ini merupakan sebuah komitmen transformasi, bergerak dari ranah akademis Agroteknologi UBB menuju pembentukan generasi Petani Berteknologi yang mampu membawa Indonesia, khususnya wilayah Bangka Belitung, menuju Swasembada pangan.

Tinggalkan Komentar