Mengetuk Gerbang Pendidikan Selama Lima Tahun, Dari Titik Nol , Meski Periode Waktu Habis,Tak Kenal Mundur Menggapai Impian
Tidak semua usaha yang kita perbuat langsung membuahkan hasil begitu saja. Terdapat impian yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk diwujudkan, dilalui dengan air mata, kegagalan, serta pengorbanan yang tak terlihat oleh kebanyakan orang. Ketika teman-teman saya mulai memakai jas almamater dari Universitas yang mereka impikan, saya justru harus mulai menerima kenyataan bahwa nama saya belum ada dalam daftar penerimaan mahasiswa baru. Saat itu, saya belum memahami bahwa perjalanan pendidikan yang akan saya jalani ternyata jauh lebih panjang daripada yang saya perkirakan. Bagi sebagian orang, mencapai pendidikan tinggi mungkin hanya memerlukan satu upaya. Namun, bagi saya, perjalanan menuju Universitas yang di idamkan merupakan cerita tentang jatuh bangun yang berulang. Ini adalah kisah tentang diri saya sendiri,yang saya angkata menjadi sebuah artikel dimana seorang anak dari daerah yang berulang kali mencoba berbagai cara untuk memasuki perguruan tinggi, menghadapi kendala finansial, menjadi mahasiswa yang merantau sambil bekerja, hingga harus menghentikan studi untuk sementara waktu karena situasi yang sulit.
Namun, satu hal yang selalu tetap menjadi sumber keyakinan saya adalah keyakinan bahwa pendidikan itu sesuatu yang patut dan wajib hukumnya untuk diperjuangkan.Di mulai dari awal mimpi yang sederhana. Saya izin perkenalkan diri singkat, saya sering di panggil Rona sesuai nama awal saya , saya berasal dari Kota Pematangsiantar, Provinsi Sumatera Utara. Sejak kecil, saya meyakini bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah nasib saya ke depannya. Saya tumbuh dengan minat yang sangat tinggi terhadap matematika dan ipa (sains) ilmu eksakta dan ilmu yanga penuh kepastian. Mata pelajaran yang dianggap sulit oleh banyak siswa justru menjadi yang paling saya cintai. Saat di bangku SMA, saya mulai memimpikan untuk menjadi mahasiswa di salah satu Universitas terbaik. Saya membayangkan bisa belajar lebih mendalam, berinteraksi dengan orang-orang hebat, mengembangkan diri, dan suatu hari membuat keluarga bangga.
Seperti banyak siswa lainnya, saya memiliki harapan besar untuk berbagai jalur dapat menghampiri diri saya untuk masuk perguruan tinggi. Saya belajar dengan tekun dan percaya bahwa usaha keras akan mengantarkan saya ke kampus impian. Namun, kehidupan ternyata memiliki cara unik untuk mengajarkan arti dari perjuangan itu sendiri. Tahun 2019 adalah tahun bersejarah bagi saya yang dimana tahun pertama saya berusaha masuk ke perguruan tinggi. Pada saat itu, saya mendaftar di Universitas Brawijaya pada Jurusan Matematika melalui jalur SNMPTN / Undangan yang sekarang disebut dengan jalur SNBP. Selain itu, saya juga mengeksplorasi berbagai peluang di Universitas Sumatera Utara, baik di Jurusan Teknik Kimia maupun Jurusan Kimia melalui jalur SNBP dan SNBT.
Tidak hanya itu, saya turut ikut serta dalam seleksi kedinasan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), yang merupakan salah satu institusi pemerintah yang di idamkan oleh banyak pelajar di Indonesia.Saya menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap setiap tahapan seleksi yang saya ikuti. Setiap hari saya menghabiskan waktu untuk belajar, berlatih menyelesaikan soal, dan membayangkan bagaimana rasanya jika suatu saat saya berhasil mengenakan jaket almamater impian di kampus idaman itu.
Namun, pengumuman hasilnya mulai diumumkan satu per satu. Dan satu per satu juga saya harus menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil. Nama saya tidak tercantum dalam daftar peserta ujian yang lulus. Pada saat itu, saya merasa sangat tertekan. Saya melihat teman-teman saya mulai memasuki dunia perkuliahan sementara saya terjebak di situasi yang sama melewati hari-hari dengan status yang sama. Saya sempat merasakan kekecewaan dan mempertanyakan potensi diri saya. Saya tidak selera untuk makan dan malas beraktivitas lainnya dan nangis terus-menerus, saya merasa di titik terendah titik kekosongan dalam hidup saya , setelah menerima kelulusan waktu SMA, saya berpikir hidup seperti apa ini ? Setelah melewati masa-masa sulit itu, saya menyadari bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Kegagalan hanyalah bagian dari proses menuju keberhasilan.
Saya memutuskan untuk terus berjuang. Apa arti dari kegagalan? Penjelasan yang paling mudah adalah tidak berhasil. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, gagal berarti tidak mencapai tujuan, tidak terlaksana keinginannya (KBBI, 2014). Tahun 2019 juni sampai 2020 agustus saya memutuskan Gap year. Gap year ini yang mengubah perspektif saya. Saya Memutuskan Untuk mengambil satu tahun tahun jeda untuk belajar lebih banyak dan mencoba kembali di tahun berikutnya. Pilihan ini tidaklah mudah , semudah yang di ucapkan dan di pikirkan semata. Banyak orang menganggap tahun jeda sebagai sesuatu yang menakutkan. Ada ketakutan akan tertinggal dari rekan-rekan, kehilangan dorongan untuk belajar, bahkan dianggap gagal oleh orang-orang di sekitar. Namun, saya tetap konsisten memilih untuk menjadikan tahun tersebut sebagai kesempatan untuk berkembang.
Saya mulai belajar lagi dari awal. Saya menilai dan mengintropeksi kesalahan yang telah saya buat dan berusaha memperbaiki guna meningkatkan kemampuan akademis saya. Setiap hari saya meluangkan waktu untuk belajar, berlatih soal, dan menyiapkan diri menghadapi seleksi selanjutnya. Tahun gap year mengajarkan banyak pelajaran. Saya menyadari bahwa kesuksesan tidak selalu terjadi sesuai dengan harapan kita. Terkadang, seseorang perlu istirahat sejenak untuk mempersiapkan langkah yang lebih besar. Saya terus meyakini bahwa usaha saya belum berakhir. Tahun 2020 menjadi momen penting dalam perjalanan saya. Saya kembali mengikuti berbagai seleksi perguruan tinggi. Saya mendaftar di Universitas Negeri Medan pada program studi pendidikan kimia dan pendidikan matematika melalui jalur SNBT. Selain itu, saya juga mengikuti SIMAK UI dan seleksi kedinasan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Setelah mengalami berbagai kegagalan sebelumnya, saya berusaha untuk tidak terlalu menaruh harapan yang terlalu tinggi. Namun, jauh di dalam hati,saya berdamai dengan segala kemungkinan hasil yang akan keluar saya tetap berdoa agar setidaknya satu kesempatan dapat terbuka.
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya berhasil lulus seleksi SBMPTN atau dalam periode tahun ini disebut dengan jalur SNBT, di Universitas Negeri Medan (UNIMED) pada program studi pendidikan kimia. Saat melihat hasil kelulusan itu, saya tidak bisa menyembunyikan perasaan haru. Hari itu air mata saya menetes kembali tapi bukan sebagai air mata kegagalan melainkan air mata keberhasilan baru untuk mengetuk dan membuka gerbang pendidikan baru untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Semua usaha yang saya lakukan selama satu tahun gap year akhirnya membuahkan hasil. Dengan pengumuman hasil ini saya menunjukkan bahwa kegagalan sebelumnya bukanlah akhir dari segalanya. Lebih membahagiakan lagi, saya juga mendapatkan bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) – Kuliah yang sangat membantu saya memulai perjalanan pendidikan tinggi. Hari itu menjadi salah satu momen paling berarti dalam hidup saya. Saya akhirnya menjadi seorang mahasiswa. Menjadi mahasiswa baru dan rantau. Kebahagiaan karena diterima di perguruan tinggi tidak serta merta menghentikan semua tantangan.
Saya berasal dari kota Pematangsiantar, sementara letak lokasi kampus saya berada di kota Medan. Ini berarti saya harus menjalani kehidupan sebagai mahasiswa perantauan. Saya harus meninggalkan keluarga dan tinggal jauh dari rumah demi mengejar pendidikan saya. Sebagai mahasiswa perantau, kebutuhan yang harus saya penuhi tidak hanya sebatas biaya kuliah saja. Saya juga perlu memikirkan sewa tempat tinggal, makanan sehari-hari, transportasi, keperluan perkuliahan, buku, fotokopi tugas, dan berbagai pengeluaran mendesak lainnya. Di sinilah saya mulai menyadari bahwa perjuangan untuk masuk kampus berbeda dengan perjuangan untuk bertahan di dalamnya. Setiap bulan, saya harus memikirkan cara agar kebutuhan hidup saya tetap terpenuhi tanpa mengorbankan pendidikan yang sedang saya jalani. Dan juga tanpa membebani pikiran orang tua,yang masih memikirkan dua orang adik yang pada saat itu masih kelas XII SMK dan X SMK, karena saya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa hanya mengandalkan keadaan saja. Saya harus berupaya semaksimal mungkin. Agar apa yang saya impikan dapat tercapai.
Bekerja sambil kuliah menjadi alternatif penyelesaian solusi dari masalah yang saya hadapi . Kemampuan saya dalam matematika dan sains pada akhirnya menjadi salah satu modal dan cara untuk mendukung diri saya pribadi . Di tengah kesibukan kuliah, saya mulai mencari berbagai jenis pekerjaan yang relevan dengan bidang pendidikan. Saya mengambil peran posisi sebagai pelatih dan pembina olimpiade ipa kimia untuk siswa yang berencana mempersiapkan diri menghadapi berbagai lomba akademis tingkat SMA. Tugas saya adalah membantu mereka memahami konsep yang lebih kompleks dan mengajarkan teknik untuk menyelesaikan soal dengan cepat dan tepat.
Selain itu, saya juga bekerja freelance part time sebagai tutor untuk siswa di tingkat menengah. Saya membantu siswa yang sedang mempersiapkan diri untuk ujian sekolah dan tes seleksi masuk perguruan tinggi. Sering kali, saya harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain setelah perkuliahan demi menyesuaikan dengan jadwal mengajar.
Saya juga memberikan les privat kepada siswa yang memerlukan bimbingan belajar yang lebih personal dan bersifat privat ke satu orang.
Di beberapa kesempatan, saya di percayakan untuk menjadi pendamping bagi siswa kelas XII yang sedang mempersiapkan ujian akhir serta berbagai tes untuk pendidikan lebih lanjut. Kegiatan harian saya yang padat dimulai sejak pagi di kampus, kemudian berlanjut dengan mengajar hingga malam hari.Setelah kembali dari mengajar, saya masih harus menyelesaikan tugas dari kuliah dan mempersiapkan materi untuk sesi kuliah pertemuan berikutnya. Kelelahan tentunya menjadi sesuatu yang lumrah. Namun, saya tidak pernah melihatnya sebagai beban melainkan sebagai peluang harapan untuk bertahan, karena nanti juga akan terbiasa. Sebaliknya, tiap pekerjaan yang saya jalani menjadi pengingat bahwa saya berjuang untuk sesuatu yang sangat berarti. Saya sedang berjuang demi masa depan.
Aktif berprestasi di tengah keterbatasan menjadi hal yang kerap sekali saya lakukan selama menyandang status mahasiswa . Walaupun harus membagi titik fokus antara kuliah dan pekerjaan, saya terus berusaha terlibat dalam beragam kegiatan akademis. Saya yakin bahwa kondisi keuangan tidak seharusnya di jadikan alasan untuk malas dan berhenti maju. Karena kecintaan saya pada matematika dan sains, saya sering berpartisipasi dalam berbagai olimpiade dan perlombaan akademis selama masa studi. Saya juga secara aktif mencari kesempatan untuk memperkaya dan mengembangkan kompetensi diri. Salah satu pengalaman yang paling membanggakan bagi saya adalah ketika saya berhasil menjadi finalis dalam ajang kompetisi mahasiswa berprestasi. Bagi saya, pencapaian ini bukan hanya sekadar sebuah penghargaan. Itu adalah bukti bahwa seseorang bisa terus tumbuh meskipun menghadapi berbagai rintangan. Saya menyadari bahwa prestasi tidak selalu berasal dari situasi yang ideal. Seringkali, prestasi muncul dari usaha yang tidak terlihat oleh banyak orang.
Di balik setiap keberhasilan, terdapat malam-malam yang panjang yang di isi dengan belajar, bekerja, dan berjuang untuk tetap bertahan. Pandemi yang membantu saya bertahan saat peristiwa pandemi covid – 19 , terjadi, sistem pendidikan beralih ke pembelajaran daring atau jarak jauh. Bagi banyak mahasiswa, keadaan tersebut menjadi sebuah tantangan besar. Namun, bagi saya, keadaan itu justru memberikan sedikit bantuan walaupun tidak pernah berharap dan berpikir peristiwa ini akan terjadi di Indonesia. Pembelajaran online mengurangi beberapa biaya yang seyogianya harus dikeluarkan. Saya tidak lagi harus setiap hari mengeluarkan uang untuk transportasi dan beberapa kebutuhan lain terkait dengan aktivitas luring (tatap muka ) di kampus. Keadaan ini membantu saya untuk bertahan lebih lama dalam mengikuti perkuliahan. Meskipun demikian, saya tetap memahami bahwa situasi ini tidak akan berlangsung selamanya. Ketika kehidupan mulai kembali normal, tantangan finansial mulai terasa semakin berat.
Ketika perjuangan harus berhenti sementara. Saya berusaha berjuang semaksimal mungkin. Saya menjalani pekerjaan sembari menempuh pendidikan. Saya terlibat dalam kegiatan mengajar. Saya berusaha mengurangi pengeluaran. Saya memanfaatkan setiap peluang yang datang. Namun pada akhirnya, ada fakta yang tidak bisa saya elakkan. Keterbatasan finansial keluarga menghalangi saya untuk melanjutkan pendidikan seperti yang saya impikan. Setelah berhasil menyelesaikan semester demi semester, saya hanya mampu bertahan sampai semester ke-lima. Pada akhir tahun 2022 sekitaran bulan desember awal. Keputusan itu menjadi salah satu yang paling sulit dalam hidup saya. Saya tidak menghentikan studi karena kehilangan motivasi untuk belajar. Saya tidak berhenti karena sifat malas.Saya tidak berhenti karena tidak memiliki cita-cita.Saya berhenti karena kondisi yang ada. Saat itu, saya sangat merasa sedih.
Setelah bertahun-tahun berjuang untuk dapat terjun ke perguruan tinggi negeri, saya harus mengakui kenyataan bahwa perjalanan saya terhenti di tengah jalan. Namun di balik kesedihan tersebut, saya teringat satu prinsip yang selalu saya pegang sejak awal. Perjuangan tak selalu berjalan dengan mulus, hidup penuh perjuangan dan pengorbanan. Kadang kita perlu beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Tetap mencoba berbagai kesempatan walaupun menghadapi banyak rintangan, ketika perjuangan harus berhenti sementara, saya tidak pernah berhenti untuk mencari kesempatan. Mulai tahun 2021, saya ikut serta dalam seleksi kedinasan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Tahun 2022, saya mencoba lagi dalam seleksi kedinasan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Dan pada tahun 2023, saya mengikuti seleksi kedinasan Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) di bawah Kementerian Perhubungan.
Berikut adalah rekap perjuangan untuk meraih kampus impian dari tahun ke tahun, selama 5 tahun :
|
Tahun Perjuangan |
Yang Di Perjuangkan |
|
2019 |
Universitas Brawijaya : Jurusan Matematika /Snbp Universitas Sumatera Utara : Jurusan Teknik Kimia / Snbp, Jurusan Kimia / Snbt, Jurusan Teknik Kimia/ Snbt STAN (sekolah tinggi akutansi negara ) 2019 |
|
2020 |
Universitas Negeri Medan : Pendidikan Kimia Dan Pendidikan Matematika / Snbt SIMAK UI STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistika) 2020 |
|
2021 |
BSSN (Badan Siber Dan Sandi Negara ) 2021 |
|
2022 |
STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistika) 2022 |
|
2023 |
KEMENHUB STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat ) 2023 |
Meskipun hasil yang dicapai belum memuaskan, saya tidak pernah menyesali semua usaha yang telah saya lakukan. Saya yakin bahwa setiap langkah selalu memberikan pengalaman dan ilmu yang terlihat maupun tersembunyi yang sangat berharga. Setiap pengalaman gagal membuat saya lebih kuat. Setiap penolakan mempersiapkan saya untuk menjalani tantangan selanjutnya. Dan setiap perjuangan membuat saya semakin menghargai nilai dari sebuah kesempatan. Makna kampus impian yang sebenarnya dulu saya impikan semakin terrevisi oleh setiap perjalanan yang ada, dimana yang dulu saya percaya bahwa kampus impian hanya berkaitan dengan nama Universitas yang terkenal. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman demi pengalaman, perjalanan hidup telah membawa dan mengubah sudut pandang saya. Sekarang, saya menyadari bahwa kampus impian tidak hanya diukur dari reputasi. Kampus impian adalah tempat yang memberi peluang untuk berkembang. Tempat yang memungkinkan seseorang untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Tempat yang mendekatkan seseorang pada impian yang ingin dicapai.
Selain itu yang lebih penting adalah bahwa, kampus impian merupakan simbol harapan. Harapan yang tetap hidup meskipun sering diuji oleh kegagalan dan batasan. Mimpi yang masih saya kejar saat ini dan detik ini juga, mungkin saya belum berada di posisi yang saya impikan.Saya belum menyelesaikan studi saya. Saya belum mengenakan toga kelulusan dan mendapatkan ijazah. Saya belum tampil di panggung wisuda. Namun satu hal yang pasti, saya belum menyerah. Saat ini, saya masih berusaha mengumpulkan dana agar bisa melanjutkan pendidikan dan kembali berjuang di lingkungan pendidikan kampus. Saya yakin bahwa pendidikan yang tertunda bukanlah tanda kegagalan pendidikan. Mimpi yang tertunda juga bukan tanda hilangnya harapan. Selama seseorang masih memiliki keberanian untuk mencoba, selalu ada peluang untuk melanjutkan perjalanan.
Perjuangan yang belum selesai menjadi suatu acuan dan motivasi bagi saya untuk berusaha menyelesaikannya walaupun lewat jalan dan usaha yang berbeda. Jika ada suatu pelajaran paling berarti yang saya ambil dari perjalanan ini, itu adalah bahwa kehidupan tak selalu menawarkan jalan yang mudah. Saya pernah mengalami kegagalan dalam seleksi berbagai Universitas. Saya pernah menjalani tahun waktu jeda (Gap year) . Saya pernah menjadi mahasiswa perantauan yang berkuliah sambil bekerja. Saya pernah berupaya untuk bertahan meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. Saya pernah terpaksa menghentikan studi di semester lima dikarenakan masalah finansial. Namun, saya tidak pernah berhenti untuk bermimpi dan berjuang lagi. Perjalanan menuju Universitas impian saya mungkin belum mencapai akhir. Saya masih melangkah. Saya masih berjuang. Saya masih mengetuk berbagai peluang yang ada untuk mendobrak pintu gerbang pendidikan yang harus saya selesaikan. Dan saya optimis, suatu saat nanti kesempatan yang tepat akan benar-benar terbuka. Ketika saat itu tiba, saya berharap untuk melihat ke belakang dan mengenang seluruh perjalanan ini dengan rasa bangga. Karena pada akhirnya, bukan seberapa cepat seseorang meraih tujuannya, melainkan seberapa tangguh ia bertahan ketika situasi memaksanya untuk menyerah. Saya adalah salah satu dari banyak pejuang pendidikan di tanah air. Dan cerita saya belum selesai. Saya masih melanjutkan perjuangan, langkah demi langkah, menuju Universitas impian yang terus saya kejar hingga kini.
Kalau ada yang mengatakan carilah jalan sampai gagal ke sekian kalinya tapi percayalah kegagalan ke -7 kali akan membawa pintu keberhasilan, kalau saya pribadi menafsirkan demikian , “ carilah jalan dan pintu proses keberhasilan sebanyak 7 77 kali.” Semangat berjuang dan berproses sampai proses itu selesai dan berhasil kita tangguhkan, salam hormat dan salam seperjuangan bagi teman-teman yang juga ikut merasakan perjalanan seperti yang saya lalui sekarang. Semoga kemudahan dan keberhasilan selalu menghampiri kita untuk membuka pintu gerbang pendidikan sesuai impian.
Dokumentasi :
Berikut beberapa dokumentasi arsip file percobaan kedinasan dan PTN serta pengumuman hasil seleksi PTN, sebagian gambar hilang , mohon atas maklumannya .
Sumber gambar : website laman file pengumuman dan pendaftaran dan gambar bersifat sudah di print, gambar punya pribadi di foto dan di upload ke dalam artikel.
