Tanpa Restu, Tanpa Perantara: Aku, KIP-Kuliah, dan PTS atas Takdir Tuhan

Selasa, 18 Maret 2025.

Layar merah, tak ada barcode yang muncul, yang terlihat hanya kalimat…

Air mata mengalir dengan sendirinya, perasaan bercampur antara sedih, kecewa, takut, dan akhirnya ikhlas.

Tekad yang kuat untuk masuk PTN impian ribuan, bahkan ratusan ribu? jutaan? orang itu masih ku kejar. Di hari yang sama, aku langsung mendaftar UTBK-SNBT dengan perasaan yang bisa dibilang sangat terburu-buru untuk menentukan tujuan. Memilih jurusan yang asal, hanya mempertimbangkan passing grade dahun sebelumnya tanpa melihat minat dan bakat diri sendiri.

Rasanya beban di pundak sudah sangat berat, uang pegangan 300 ribu ku habiskan untuk pembayaran UTBK-SNBT ini, 200 untuk ujiannya, 100 untuk ongkos PP dan makan (walaupun katanya ini tuh gratis untuk pendaftar KIP-Kuliah desil 1-3, tapi.. aku tetap bayar karna tidak tercover).

Kalau ditanya…

“Kamu kan dari keluarga ga mampu, kok tekadnya besar sih buat kuliah? Biaya dari mana emang? Kenapa ga kerja aja?”

Aku menjawab,

“Alhamdulilah masih ada kemauan untuk belajar, sayang kan, ijazah ku kan cuma SMA, harusnya memang dari SMA lanjut ke kuliah. Kan ada beasiswa toh? sama.. itu.. program kuliah gratis dari pemerintah buat yang kurang mampu, dapat uang saku juga. Lumayan kan kalau keterima? Masalah kerja kan bisa di dicari passive income, karna sekarang, in this economy sebagai gen z, top 3 hal yang paling di takuti:

  1. Allah SWT.,
  2. Orang tua,
  3. Ga punya duit.”

Semenjak ibuku tahu kalau aku gagal di SNBP, ia semakin menekankanku untuk cepat mecari kerja saja. Menceritakan tetangga, sepantaranku, yang sudah keterima kerja dan bisa bonus dari pekerjaannya, yaa… aku… ngga salah kalau merasa dibandingkan kan? maklum, di keluargaku tidak ada satupun yang berkuliah. Jadi, midsetnya itu: “Ngapain kuliah, toh, nanti kalau udah kerja dan dapat uang bakal ga pengen belajar lagi”, BUT.. heyy! pemikiranku ga seperti itu ya.

Sampai aku berpikir, apa karna doa ibu yang sedikit agak menghambat aku buat kuliah nih, jadi begini lagi, ya? (Rabu, 28 Mei 2025):

Lagi-lagi.. kecewa. Berpikir untuk mengikuti kata ibu untuk bekerja dan masih tertanam di hatiku untuk kuliah, gap year.

Suatu hari, pernah aku apply puluhan, atau bahkan ratusan CV-ku lewat beberapa website dan aplikasi. Bahkan, di media sosial, aku menemukan “Open Recruitment” lewat Live Streaming yang ternyata itu adalah perusahaan pialang yang berbahaya. Mengapa berbahaya?

Aku belajar jahatnya dunia kerja, yang seharusnya melamar kerja untuk bekerja dan mendapatkan uang, yant terjadi di real life malah melamar kerja untuk membayar (ntah embel-embel registrasi, operasional, pelatihan, dll.). Disitulah aku aktif meng-upload postingan TikTok terkat rangkuman informasi yang aku dapatkan mengenai pialang, dari google,rangkuman AI, hingga pengalaman asli orang-orang di komentar. Sesekali aku sharing tentang doa interview, tips setelah lulus, hingga aku mendapatkan engagement tinggi atau istilahnya, fyp, dengan lebih dari 100 ribu viewers di salah satu postingan berjudul:

TikTok: @motivasilewatbacaan (kini menjadi akun pribadi dalam mengembangkan hobi menjadi streaming game, dan program affiliasi TikTok.)

Singkat cerita, pada 31 Juli 2025, pukul 12.08, sebuah notifikasi dari WhatsApp:

Universitas Gunadarma (UG) – (1 Pesan Belum Dibaca)

Aku berpikir,

Mungkin notifikasi yang sama saja dengan universitas lain, apalagi swasta, hanya beri tahu potongan masuk kampus (karena nomor WhatsApp-ku sudah tercatat beberapa kampus pada saat campus fair waktu di SMA). Tetapi, yang ini…

Universitas Gunadarma (UG): “Selamat sdr/i Rizky Regina P./NISN Lolos tahap 1 KIP Kuliah.. Informasi kunjungi (web kemahasiswaan, program KIPK UG) dengan… Baca Selengkapnya

Jujur, tidak langsung merasa senang, tapi, alhamdulillah, Allahumma Baarik. KIP Kuliah ini adalah bantuan kepada mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi, tetapi memiliki potensi akademik yang baik. Aku sudah daftar KIP Kuliah sejak sebelum finalisasi SNBP, karena satu-satunya beasiswa full yang kutahu kala itu.

Ku ikuti alur pendaftarannya, pengisian identitas dan seleksi rapor, seleksi berkas, seleksi wawancara, hingga pengisian formulir pendaftaran calon mahasiswa baru. Ku lalui tahapan ini semua tanpa menceritakan ke ibuku sampai benar-benar menjelang PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru).

Walaupun aku berekspektasi rendah karena berniat gap year, sempat terkendala saat pengumuman hasil seleksi wawancara (kuota tambahan gelombang 1), tapi, justru disinilah Tuhan mengujiku. Bisakah aku bersabar dalam seleksinya, sembari mempersiapkan diri menjalani dunia perkuliahan?

PKKMB berlangsung selama 3 hari. 2 hari daring via zoom meeting (pra-PKKMB) dan 1 hari luring di Kampus H. Disitulah aku pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan kampus, berkenalan dengan camaba dengan beberapa fakultas, seperti Fakultas Ekonomi: Manajemen (S1), Akuntansi (S1), dan Ekonomi Syariah (S1) dari lingkungan yang cukup jauh (walaupun kebanyakan dari Jabodetabek). Acaranya berlangsung dari pagi hingga sore, berangkat gelap, pulang gelap karena untuk pertama kalinya aku naik transportasi umum sendirian, setelah 12-13 tahun sekolah hanya dengan berjalan kaki.

Demikianlah, susah senang yang kulalui di awal perkuliahan ini. Segala penulisan dalam artikel ini murni diketik oleh penulis sendiri, karena sebelumnya penulis sudah diceritakan di website blogger pribadi. Penulis berterima kasih sebesar-besarnya kepada pihak Kampus Swasta karena telah memberikan kesempatan bagi penulis dalam mengadakan Lomba menulis Kisah Perjuangan Masuk Kampus Impian. Semoga ada motivasi berharga dari penulis, dan penulis memohon maaf apabila ada bahasa, susunan, atau kesan yang kurang berkenan.

Tinggalkan Komentar