Ketika Harapan Hampir Padam, Pendidikan Menjadi Cahaya
Sejak kecil, aku percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah hidup. Aku tidak berasal dari keluarga berada, tetapi aku selalu menyimpan harapan sederhana: suatu hari nanti aku bisa kuliah dan bisa mengangkat derajat keluargaku.
Namun, semesta selalu punya kejutan yang bahkan tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Pada tahun 2023, keluargaku mengalami krisis ekonomi yang begitu berat. Utang yang menumpuk membuat rumah kami berkali-kali didatangi penagih utang. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana suasana rumah berubah menjadi tempat yang dipenuhi rasa takut. Ketukan pintu yang keras, suara orang-orang yang datang menagih, hingga ancaman yang terdengar di depan rumah menjadi pengalaman yang sulit kulupakan. Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 12 SMA dan belum cukup dewasa untuk memahami semua yang sedang terjadi. Di saat teman-temanku sedang mempersiapkan diri ke universitas impian mereka, aku malah tenggelam karena rasa cemas, rasa tak aman, dan selalu waspada.
Keadaan semakin sulit ketika ibuku memutuskan merantau ke Manado demi bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan dengan penghasilan yang sangat terbatas. Dengan gaji sekitar Rp2.500.000 setiap bulan, beliau tetap berusaha memenuhi kebutuhan kami bertiga sambil melunasi utangnya. Aku dan kedua kakakku tinggal bersama keluarga di Kupang agar tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Di tengah dunia yang sibuk, aku sering merasa waktuku berhenti dan aku sering bertanya kepada diri sendiri, "Apakah aku masih punya kesempatan untuk kuliah?"
Ada kalanya aku merasa tubuhku patah karena rasa malu, takut, dan cemas sering datang bersamaan. Bahkan sampai sekarang, suara ketukan pintu atau telepon dari nomor yang tidak kukenal masih terkadang menjadi alarm yang membangkitkan kewaspadaanku. Pengalaman tersebut meninggalkan luka yang luar biasa membekas.
Setelah lulus SMA, aku tidak langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bukan karena aku tidak memiliki keinginan untuk kuliah, melainkan karena kondisi keluargaku saat itu sedang berada di titik terberat. Krisis ekonomi yang kami alami membuat impian untuk menjadi mahasiswa terasa sangat jauh. Aku memilih menjalani gap year sambil berusaha menerima kenyataan bahwa untuk sementara waktu, aku harus menunda mimpiku.
Di tengah masa gap year itulah aku mulai mencari berbagai informasi tentang cara agar tetap bisa melanjutkan pendidikan. Aku menemukan secercah harapan setelah mengetahui adanya program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa keterbatasan ekonomi bukan berarti impianku harus berakhir.
Sejak saat itu, aku mempersiapkan diri menghadapi SNBT dengan belajar secara mandiri melalui video-video pembelajaran di YouTube. Aku tidak mampu mengikuti bimbingan belajar berbayar, sehingga YouTube menjadi "guru". Aku mencatat materi, mengerjakan latihan soal, dan belajar sedikit demi sedikit setiap hari. Aku percaya bahwa Sang Mahakuasa tak pernah menutup mata dan telinga bagi orang yang berusaha.
Ketika hari pengumuman SNBT tiba, aku diterima di Universitas Nusa Cendana. Aku menangis mengingat pernah ada sebagian dari diriku yang pesimis tentang masa depan. Aku juga dinyatakan sebagai penerima KIP Kuliah. Aku merasa semua perjuangan selama masa gap year tidak sia-sia. KIP Kuliah bukan hanya membantuku secara finansial, tetapi juga membuka pintu yang sebelumnya terasa tertutup rapat. Program itu memberiku kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan terus mengejar cita-citaku.
Perjalanan menuju kampus impianku mengajarkanku bahwa perjuangan tidak selalu tentang nilai yang tinggi atau persaingan yang ketat. Terkadang, perjuangan terbesar adalah tetap berdiri ketika hidup berkali-kali mengombang-ambingkan kita. Aku tidak dapat memilih dari keluarga seperti apa aku dilahirkan. Aku juga tidak dapat menghapus masa lalu yang pernah terjadi. Tetapi aku dapat memilih untuk terus melangkah.
Aku percaya, seberat apa pun keadaan hari ini, selalu ada harapan bagi mereka yang tidak berhenti berusaha. Dan bagiku, harapan itu bernama pendidikan.
