Orang-Orang yang Tidak Pernah Pulang
"Kadang, orang yang paling berjasa dalam perjalanan kita adalah mereka yang bahkan tidak pernah kita kenal namanya."
Pagi yang Selalu Lebih Awal
Pagi pertama sebagai mahasiswa Universitas Malikussaleh terasa seperti membuka halaman baru dalam hidupku.
Udara Lhokseumawe masih menyisakan dingin ketika aku melangkah melewati gerbang kampus.
Seorang lelaki tua.
Seragam kebersihannya berwarna jingga, tetapi telah memudar dimakan waktu. Topi lusuh menutupi rambutnya yang memutih. Sepasang sepatu karetnya dipenuhi bekas lumpur yang tak pernah benar-benar hilang.
Tangannya terus mengayunkan sapu lidi.
Aku melihatnya sekilas.
Lalu berjalan pergi.
Saat itu aku tak tahu, lelaki itu akan menjadi guru terbaik yang pernah kutemui.
Kertas yang Terbang
Seminggu kemudian, dosen memberiku tugas pertama.
Aku membawa setumpuk kertas menuju perpustakaan.
Namun angin pagi berembus lebih kencang dari biasanya.
Brak.
Seluruh lembar tugas beterbangan.
Aku panik.
Kertas-kertas itu berhamburan ke jalan setapak, taman, bahkan sebagian masuk ke selokan kecil.
Sebelum sempat kupungut, seseorang telah berjongkok lebih dahulu.
Lelaki tua itu.
Ia memunguti setiap lembar dengan sangat hati-hati.
Ketika semua kertas kembali ke tanganku, beliau tersenyum.
"Jangan sampai mimpi ikut terbang."
"Terima kasih, Pak."
Beliau hanya mengangguk pelan, lalu kembali menyapu dedaunan seolah tidak terjadi apa-apa.
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku sepanjang hari.
Jangan sampai mimpi ikut terbang.
Sederhana.
Terasa jauh lebih dalam daripada nasihat panjang yang pernah kudengar.
Bangku di Bawah Ketapang
Sejak kejadian itu, aku mulai memperhatikannya.
Setiap hari Pak Idris bekerja dengan tenang, tanpa pernah mengeluh.
Suatu siang, aku memberanikan diri duduk di bangku tempat beliau beristirahat.
Beliau sedang membuka bekal.
Hanya nasi putih, ikan asin, dan sambal.
"Saya duduk di sini, ya Pak?"
"Tentu."
"Nama Bapak siapa?"
"Idris."
"Kalau saya, Nara."
Beliau tertawa kecil.
"Nama yang bagus."
Lalu beliau bertanya,
"Capek jadi mahasiswa?"
Aku tertawa.
"Baru seminggu saja sudah banyak tugas."
Beliau mengangguk pelan.
"Bagus."
Aku mengernyit.
"Kenapa bagus?"
Beliau menatap pepohonan.
Kemudian berkata pelan.
"Karena sesuatu yang berharga memang jarang datang tanpa rasa lelah."
Aku tidak menjawab. Entah mengapa, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu terdengar seperti telah lama dipikirkan.
Lelaki yang Mengenal Kampus
"Pak, Bapak sudah kerja di sini berapa lama?"
Beliau berpikir.
"Lupa."
Kami mulai sering mengobrol.
Aku baru tahu bahwa beliau hafal hampir semua nama petugas keamanan. Pak Idris mengenal kampus dan orang-orang di dalamnya lebih baik daripada siapa pun. Bertahun-tahun bekerja membuatnya memahami banyak hal yang sering luput dari perhatian mahasiswa.
Mimpi yang Tertunda
Aku menoleh kepadanya.
"Kalau bermimpi…" katanya pelan, "…aku pernah."
Beliau tersenyum, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Dulu aku lulus SMA. Nilai raporku cukup bagus. Aku bahkan sudah diterima di perguruan tinggi."
"Lalu?"
"Hari sebelum daftar ulang, ayahku meninggal."
Hujan di depan kami masih turun.
Tak ada suara selain rintiknya yang memukul atap seng.
"Ibuku sakit. Adik-adikku masih kecil. Kalau aku kuliah, siapa yang bekerja?"
Aku menelan ludah.
"Jadi Bapak memilih bekerja?"
Beliau mengangguk.
"Hidup kadang membuat kita memilih mimpi siapa yang harus diselamatkan lebih dulu."
Aku terdiam.
Kalimat itu menancap begitu saja di dadaku.
"Bapak menyesal?"
Beliau memandang halaman kampus yang mulai dipenuhi genangan air.
Kemudian tersenyum.
"Menyesal hanya akan membuat langkahku berhenti. Aku lebih memilih bersyukur karena adik-adikku bisa sekolah."
"Sekarang mereka bagaimana, Pak?"
"Yang sulung guru."
Beliau mengangkat satu jari.
"Yang kedua bidan."
Satu jari lagi terangkat.
"Lalu Bapak?"
Beliau tertawa pelan.
"Aku tetap menyapu kampus."
Tidak ada nada kecewa dalam suaranya.
Seolah pekerjaan itu adalah pilihan yang selalu ia syukuri.
Orang yang Tidak Pernah Masuk Ruang Kuliah
Sejak hari itu aku mulai melihat Pak Idris dengan cara yang berbeda.
Beliau bukan dosen.
Bukan pula mahasiswa.
Beliau mengenal kampus lebih baik daripada siapa pun.
Beliau bahkan mengenal suara langkah beberapa dosen.
Suatu pagi aku bertanya,
"Pak, kenapa Bapak hafal sekali kampus ini?"
Beliau tertawa.
"Karena setiap hari aku berjalan lebih jauh daripada kalian."
Aku ikut tertawa.
Lalu beliau menambahkan,
"Kalian mengenal kampus dari ruang kelas. Aku mengenalnya dari setiap langkah."
Musim Ujian
Aku mulai jarang duduk di bangku bawah ketapang.
Kadang hanya sempat melambaikan tangan kepada Pak Idris dari kejauhan.
Suatu sore beliau memanggilku.
"Nara."
"Iya, Pak?"
Beliau mengeluarkan sebuah buku kecil dari tas kainnya.
Sampulnya sudah kusam.
"Aku tidak sempat kuliah."
Beliau tersenyum.
"Tapi aku suka membaca."
Aku membuka halaman pertama.
Di sana tertulis sebuah kalimat dengan tinta yang mulai pudar.
Ilmu tidak memilih siapa yang berhak mencarinya.
"Buku ini untukmu."
"Pak… ini buku Bapak."
"Mulai hari ini jadi bukumu."
Aku memegang buku itu erat.
Rasanya seperti menerima sesuatu yang jauh lebih berharga daripada hadiah.
Bangku yang Kosong
Ujian akhir semester selesai.
Aku pulang ke kampung selama dua minggu.
Ketika kembali ke kampus, hal pertama yang kulakukan adalah berjalan menuju bangku bawah pohon ketapang.
Selama tiga hari bangku itu tetap kosong.
Aku menghampiri seorang petugas kebersihan lain.
"Pak… Pak Idris ke mana?"
Lelaki itu menghentikan sapunya.
"Kamu mahasiswa yang sering ngobrol sama beliau?"
Aku mengangguk.
Beliau menarik napas panjang.
"Pak Idris meninggal minggu lalu."
Dunia seakan berhenti.
Aku tidak mendengar apa pun lagi.
Yang tersisa hanya satu kalimat yang terus berputar di kepalaku.
Pak Idris meninggal.
Aku terlambat.
Aku bahkan belum sempat mengembalikan buku yang beliau berikan.
Belum sempat mengucapkan terima kasih.
Belum sempat mengatakan bahwa beliau telah mengubah cara pandangku terhadap hidup.
Pelajaran Terakhir
Sore itu aku duduk sendirian di bangku bawah pohon ketapang.
Angin menggugurkan daun-daun kering.
Pelan.
Seperti seseorang yang sedang berpamitan.
Aku membuka buku pemberian Pak Idris.
Di halaman terakhir, ada tulisan tangan yang belum pernah kulihat.
"Kalau suatu hari aku tidak ada, jangan mencariku di jalan yang bersih.
Carilah aku pada setiap orang yang memilih tetap berbuat baik meski tidak pernah mendapat tepuk tangan."
Selama ini aku mengira beliau hanya petugas kebersihan.
Padahal beliau sedang mengajarkan kehidupan.
Orang-Orang yang Tidak Pernah Pulang
Kini setiap kali melangkah memasuki kampus, aku selalu memperhatikan halaman yang bersih.
Tidak pernah berdiri di depan kelas memberi kuliah.
Namun jejaknya tinggal di setiap langkah kami.
Beliau mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya tumbuh di ruang kuliah.
Ilmu juga lahir dari ketulusan.
Dari pengorbanan.
Dari kerja yang dilakukan tanpa berharap dikenal.
Kini aku mengerti mengapa beliau selalu tersenyum.
Karena ada orang-orang yang tidak pernah pulang membawa gelar.
Mereka memilih tinggal…
agar orang lain bisa berangkat mengejar mimpinya.
Aku menutup buku itu perlahan.
Lalu menatap langit kampus yang mulai berwarna jingga.
Dalam hati aku berbisik,
"Terima kasih, Pak Idris. Bapak memang tidak pernah menjadi mahasiswa Universitas Malikussaleh. Tetapi bagi saya, Bapak akan selalu menjadi guru terbaik yang pernah dimiliki kampus ini."
Daun ketapang berguguran.
Dan untuk pertama kalinya…
aku merasa seseorang yang telah pergi masih sedang berjalan bersamaku.
TAMAT.
Biografi Penulis
Tigris Naurah Asthirah, mahasiswi Manajemen Universitas Malikussaleh, percaya tulisan sederhana meninggalkan jejak abadi.
