Restu yang Menuntun Langkah: Perjuangan Mengejar Impian di Tengah Keterbatasan
Oleh: Ummi Kulsum Assyifa
Bagi sebagian besar orang, bangku perkuliahan adalah sebuah gerbang menuju kebebasan dan aktualisasi diri. Namun, bagi saya, perjalanan menuju gerbang itu bukanlah jalan setapak yang lurus dan bertabur bunga. Perjalanan saya adalah sebuah pendakian yang penuh dengan kerikil tajam, pengorbanan perasaan, dan sebuah pelajaran besar tentang arti sebuah restu.
Nama saya Ummi Kulsum Assyifa, dan ini adalah kisah saya, sebuah kisah tentang bagaimana saya berdamai dengan kenyataan demi sebuah pengabdian yang tulus.
Kisah ini bermula saat saya duduk di bangku kelas sebelas di sebuah Madrasah Aliyah swasta di Kabupaten Bandung. Sebagai seorang siswa, masa-masa ini adalah masa yang penuh dengan angan-angan. Di sekolah, saya dikenal sebagai siswa yang cukup ambisius dalam bidang akademik. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap mata pelajaran, terutama pada dua bidang yang sangat saya gemari: Bahasa Inggris dan Informatika. Bukan tanpa alasan, minat ini muncul karena saya merasakan kepuasan tersendiri saat berhasil memecahkan soal logika atau merangkai kalimat dalam bahasa asing.
Ketertarikan saya pada dua bidang ini dibuktikan dengan perolehan nilai yang selalu memuaskan dan apresiasi dari para guru. Hal itulah yang kemudian memicu sebuah pertanyaan besar di dalam kepala: "Setelah lulus nanti, saya ingin jadi apa?" Pertanyaan sederhana itu nyatanya sangat sulit untuk dijawab. Saya berada di persimpangan jalan antara mengejar dunia teknologi yang modern atau mendalami dunia sastra yang indah.
Sepanjang kelas sebelas hingga kelas dua belas, ruang Bimbingan Konseling (BK) menjadi saksi bisu kegelisahan saya. Saya sering berkonsultasi dengan guru BK, berdiskusi tentang minat, bakat, hingga prospek kerja di masa depan. Keraguan seringkali menyelimuti, namun perlahan arah itu mulai terlihat jelas. Hati saya akhirnya berlabuh pada program studi Sastra Inggris. Saya merasa bahwa melalui sastra, saya bisa mengekspresikan diri dengan lebih luas.
Ambisi saya tidak berhenti di situ. Saya menetapkan target yang cukup tinggi untuk jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Dalam pikiran saya saat itu, kampus impian adalah Universitas Padjadjaran (UNPAD) atau Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Saya merasa dengan predikat sebagai Juara Umum selama tiga tahun berturut-turut di sekolah, saya memiliki modal yang cukup untuk bersaing di sana.
Masa-masa mengejar nilai untuk masuk kampus impian tersebut adalah masa yang paling melelahkan sekaligus paling berkesan. Setiap malam saya habiskan untuk belajar, mengerjakan tugas dengan sempurna, dan memastikan tidak ada satu poin pun yang meleset. Tekanan yang saya berikan pada diri sendiri begitu besar. Akibatnya, fisik saya sempat tumbang. Saya didiagnosis menderita gejala tipes dan harus menjalani perawatan intensif serta bedrest selama satu minggu. Namun, di atas tempat tidur rumah sakit pun, pikiran saya tetap pada buku-buku pelajaran. Saya tertawa kecil mengingat betapa keras kepalanya saya saat itu demi sebuah label "Kampus Impian".
Namun, badai yang sesungguhnya datang justru saat pendaftaran SNBP tinggal menghitung hari. Seminggu sebelum penutupan, sebuah pembicaraan serius terjadi di meja makan. Kedua orang tua saya, yang awalnya terlihat mendukung, mulai menyampaikan kekhawatiran mereka. Masalah ekonomi menjadi faktor utama yang tidak bisa ditawar. Sebagai keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, biaya hidup di kota besar atau di kampus dengan biaya UKT yang tinggi menjadi hal yang menakutkan bagi ayah dan ibu saya.
"Daftar ke UIN Sunan Gunung Djati saja, Nak. Biayanya lebih terjangkau dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah," ujar mereka.
Mendengar kalimat itu, dunia saya seolah runtuh seketika. Jarak 25–30 km dari rumah memang terdengar rasional, namun ego saya sebagai remaja saat itu merasa bahwa impian saya sedang dipangkas. Saya sedang sibuk mengurus berkas KIP-Kuliah dengan harapan bisa membantu biaya pendidikan, namun orang tua saya tetap pada pendirian mereka. Saya sadar, menentang mereka hanya akan menambah beban pikiran mereka. Akhirnya, dengan berat hati dan air mata yang tertahan, saya mengubah pilihan pertama saya menjadi Sastra Inggris di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Rasa kecewa itu nyata. Teman-teman dan guru-guru di sekolah pun menyayangkan keputusan saya. Mereka tahu kapasitas saya sebagai juara umum, dan menurut mereka, saya layak berada di kampus yang lebih "bergengsi". Bahkan, ada bisik-bisik yang sampai ke telinga saya, mengatakan bahwa sangat disayangkan seorang siswa berprestasi "hanya" masuk ke UIN. Kata-kata itu pedas, namun saya memilih untuk tetap diam. Saya percaya bahwa kemarahan terbaik adalah dengan membuktikan bahwa di mana pun saya berada, saya tetap bisa bersinar.
Hari pengumuman pun tiba. Nama saya muncul dengan warna biru: Lolos SNBP Pilihan 1 di Sastra Inggris UIN SGD Bandung. Dari seluruh siswa di sekolah, hanya ada dua orang yang berhasil lolos jalur ini, dan saya adalah salah satunya. Seharusnya itu menjadi hari yang membahagiakan. Saat acara wisuda sekolah, nama saya disebut dengan bangga oleh para guru sebagai contoh keberhasilan. Saya terharu melihat apresiasi mereka, namun di rumah, suasananya berbeda.
Saat saya mengabarkan kelulusan ini pada orang tua, tidak ada pelukan hangat atau ucapan selamat yang meriah. Wajah mereka justru terlihat bingung. Mereka malah bertanya mengapa saya tetap memilih jurusan Sastra Inggris dan menyarankan saya untuk pindah jurusan yang menurut mereka lebih menjanjikan secara praktis. Hati saya kembali hancur. Rasanya seperti sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Saya sudah mengalah soal pilihan kampus, namun sekarang jurusan yang saya cintai pun digugat.
Tantangan belum berakhir. Saat pengumuman Uang Kuliah Tunggal (UKT), saya mendapatkan golongan 2. Angka yang sebenarnya cukup kecil, namun bagi keluarga kami, itu tetaplah beban. Saya mencoba mendaftar KIP-Kuliah di kampus, namun takdir berkata lain; saya tidak lolos. Rasa gagal kembali menghantui. Saya mencoba mendaftar lima beasiswa lainnya dengan harapan bisa meringankan beban orang tua, namun semuanya menolak.
Di titik itu, saya benar-benar berada di titik nadir. Saya sempat bertanya pada diri sendiri, "Apakah saya memang tidak cukup baik? Mengapa kegagalan seolah tidak mau beranjak dari hidup saya?" Saya menangis berhari-hari, meratapi nasib yang terasa begitu tidak adil. Teman-teman saya memberikan dukungan, namun rasa sakit karena merasa tidak didukung secara penuh oleh orang tua sendiri adalah luka yang paling dalam.
Namun, di tengah kesedihan itu, saya teringat akan satu hal: saya masih semester dua. Perjalanan saya masih sangat panjang. Jika hari ini saya gagal di lima beasiswa, maka di semester tiga atau empat nanti, saya akan mencoba sepuluh beasiswa lagi. Saya tidak boleh berhenti. Saya menyadari bahwa berkuliah di UIN mungkin adalah cara Tuhan untuk menjaga saya tetap dekat dengan keluarga dan mengajarkan saya tentang kerendahan hati.
Kini, saya mulai mencintai hari-hari saya sebagai mahasiswi Sastra Inggris. Saya menyadari bahwa nilai sebuah prestasi bukan ditentukan oleh nama besar sebuah institusi, melainkan oleh dedikasi orang yang menjalaninya. UIN SGD Bandung bukan sekadar pelarian bagi saya, melainkan tempat di mana saya belajar bahwa restu orang tua adalah energi yang paling kuat, meski terkadang datang dalam bentuk yang sulit kita terima.
Perjuangan saya meraih kampus impian memang berakhir berbeda dari rencana awal. Kampus impian saya ternyata bukanlah tempat yang saya tulis di atas kertas saat kelas dua belas, melainkan tempat di mana saya bisa belajar dengan tenang sambil tetap berbakti kepada orang tua. Saya percaya, suatu saat nanti, keberhasilan saya akan menjadi jawaban bagi semua keraguan, baik dari orang lain maupun dari diri saya sendiri. Karena pada akhirnya, keberhasilan yang paling manis adalah saat kita mampu bertahan di tengah pahitnya kenyataan.
