TIDAK SESUAI RENCANA, TETAP SESUAI MIMPI

Karya: Viranica Adelia

Setiap orang memiliki makna yang berbeda tentang kampus impian. Bagi sebagian orang, kampus impian adalah universitas bergengsi dengan nama besar yang dikenal di seluruh Indonesia. Namun, bagi sebagian lainnya, dapat melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah saja sudah menjadi sebuah anugerah. Dulu aku pernah berpikir bahwa kampus impian adalah kampus yang paling terkenal. Namun, perjalanan hidup mengajarkanku bahwa kampus impian bukanlah tentang seberapa besar nama sebuah universitas, melainkan tempat yang mampu membawaku terus bertumbuh dan mendekatkanku pada mimpi.

Namaku Viranica Adelia, biasa dipanggil Adel. Sejak duduk di bangku SMA, aku dikenal sebagai siswa yang aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik. Berbagai perlombaan kuikuti dengan penuh semangat dan beberapa di antaranya berhasil mengantarkanku meraih prestasi. Berbekal pengalaman itu, aku tumbuh dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti aku akan diterima di universitas yang selama ini kuimpikan. Guru-guruku pun memberikan dukungan penuh karena mereka percaya aku memiliki peluang untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri yang bergengsi.

Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan dan Prestasi Penulis di SMA

Sumber: Dokumentasi Pribadi,2022

Lucunya, kampus tempatku menimba ilmu sekarang pernah datang ke sekolahku untuk melakukan sosialisasi. Saat itu aku hanya mendengarkan seperlunya. Dalam hati, aku bahkan sempat berpikir bahwa kampus itu bukanlah tujuan yang kuinginkan. Aku terlalu sibuk mengejar impian yang menurutku lebih besar hingga tanpa sadar memandang sebelah mata kampus yang kini setiap hari menjadi tempatku belajar. Aku tidak pernah menyangka bahwa hidup akan membuatku kembali ke tempat yang dulu tidak pernah masuk dalam daftar mimpiku.

Semua keyakinanku runtuh ketika pengumuman SNBP diumumkan. Namaku tidak ada di daftar mahasiswa yang diterima. Kampus dan jurusan impianku menolakku. Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa usaha yang selama ini kulakukan belum membawaku ke tujuan yang kuinginkan. Aku adalah tipe orang yang mudah memikirkan segala sesuatu secara berlebihan. Berhari-hari aku menyalahkan diri sendiri dan bertanya-tanya di mana letak kekuranganku. Saat teman-temanku mulai merayakan kelulusan mereka, aku justru sibuk melawan rasa kecewa yang tidak mudah hilang.

Akhirnya aku mengikuti SNBT. Kali ini aku tidak lagi berani memilih kampus-kampus yang terlalu tinggi. Yang ada di pikiranku hanya satu, aku harus tetap kuliah tahun itu. Ketika hasilnya keluar, aku diterima di kampus yang dulu pernah kupandang sebelah mata. Aku tersenyum getir. Rasanya seperti benar-benar "kemakan omongan sendiri". Saat itu aku menganggapnya sebagai jalan yang terpaksa kupilih. Aku belum tahu bahwa justru di sanalah Allah sedang menyiapkan jalan terbaik untukku.

Gambar 2. Dukungan Keluarga dalam Perjalanan Meraih Pendidikan

Sumber: Dokumentasi Pribadi,2024

Di balik semua itu, ada alasan mengapa aku begitu ingin melanjutkan pendidikan. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan kami semua perempuan. Ibuku meninggal dunia ketika aku masih duduk di kelas IX SMP. Saat itu adik pertamaku baru kelas satu SD, sedangkan adik bungsuku masih berusia satu tahun. Sejak hari itu, hidup kami berubah. Aku dan adik pertamaku tinggal bersama Ayah, sedangkan adik bungsuku tinggal bersama nenek di kampung karena masih terlalu kecil. Di usia yang seharusnya masih menikmati masa remaja, aku perlahan belajar mengambil peran yang dulu dilakukan oleh Ibu. Menemani adik belajar, membantu pekerjaan rumah, dan berusaha menjadi kakak sekaligus sosok yang bisa mereka andalkan.

Aku selalu kagum pada Ayah. Setelah Ibu pergi, beliau memilih tetap sendiri dan mengabdikan hidupnya untuk membesarkan kami bertiga. Dengan penghasilan sekitar lima puluh hingga seratus ribu rupiah per hari, Ayah harus memenuhi kebutuhan dua rumah sekaligus. Rumah tempat aku dan adikku tinggal bersama beliau, serta rumah nenek yang merawat adik bungsuku. Kami memang bukan keluarga yang berkecukupan, tetapi Ayah tidak pernah membiarkan kami kehilangan harapan. Beliau selalu mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Saat itu aku belum menyadarinya. Penolakan dari kampus impianku ternyata adalah bentuk kasih sayang yang baru kupahami setelah semuanya berlalu. Jika saat itu aku benar-benar diterima di universitas yang letaknya jauh dari rumah, tentu Ayah harus memikirkan biaya transportasi, tempat tinggal, uang makan, dan berbagai kebutuhan lain. Aku tahu beliau pasti akan mengusahakannya, tetapi aku juga tahu betapa berat beban yang harus dipikulnya. Hari ini aku bersyukur karena Allah memilihkan jalan yang lebih sesuai dengan keadaan keluargaku.

Aku sempat berpikir perjuanganku sudah selesai ketika dinyatakan lolos SNBT. Semua berkas untuk daftar ulang sudah kuurus dengan penuh semangat. Rasanya semua kekhawatiran selama ini akhirnya terbayar. Tinggal selangkah lagi, aku benar-benar akan menjadi mahasiswa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bisa bernapas lebih lega.

Namun, kenyataan berkata lain. Saat proses daftar ulang berlangsung, aku mendapat kabar bahwa data milikku tidak sampai ke pihak universitas. Akibatnya, aku dinyatakan tidak dapat melanjutkan proses pendaftaran. Aku benar-benar tidak percaya. Setelah berjuang melewati proses seleksi, ternyata aku hampir kehilangan kesempatan itu karena persoalan administrasi yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Saat itu semua jalur masuk perguruan tinggi negeri sudah ditutup. Tidak ada lagi kampus yang bisa kudaftari. Di sisi lain, masuk ke perguruan tinggi swasta juga bukan pilihan yang mudah karena biaya yang harus disiapkan tentu jauh lebih besar. Aku terus memikirkan Ayah. Selama ini beliau bekerja seorang diri untuk menghidupi kami bertiga. Jika aku tetap memaksakan kuliah tanpa bantuan KIP Kuliah, tentu beban beliau akan semakin berat. Pikiran-pikiran itu terus memenuhi kepalaku hingga akhirnya aku benar-benar merasa ingin menyerah.

Meski begitu, aku masih menyisakan sedikit harapan. Aku mencoba menghubungi nomor-nomor yang ada di grup SNBT. Hampir semua kontak yang tersedia kukirim pesan, berharap ada seseorang yang bersedia membantu. Hari demi hari berlalu tanpa jawaban. Sebagian pesan hanya terbaca, sebagian lagi bahkan tidak pernah dibalas. Semakin lama, aku mulai menerima kenyataan bahwa mungkin memang sampai di sinilah perjalananku.

Di saat harapan itu hampir benar-benar hilang, sebuah pesan masuk dari salah seorang dosen. Beliau menjadi satu-satunya orang yang membalas pesanku. Aku menjelaskan semua yang terjadi, dan tanpa mengenalku sama sekali, beliau bersedia membantu. Beliau memandu setiap proses yang harus kulakukan, memeriksa kembali data-dataku, hingga akhirnya masalah administrasi yang selama ini menghambat bisa diselesaikan. Bagiku, bantuan itu bukan sekadar bantuan administrasi. Bantuan itu mengembalikan mimpi yang hampir hilang.

Alhamdulillah, aku akhirnya dapat menyelesaikan proses daftar ulang dan resmi menjadi mahasiswa di kampus ini. Beberapa waktu kemudian, kabar baik kembali datang. Aku dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah. Rasanya seperti ada beban besar yang akhirnya terangkat. Aku bersyukur bukan hanya karena bisa kuliah, tetapi karena aku tahu Ayah tidak lagi harus memikirkan seluruh biaya pendidikanku seorang diri.

Sampai hari ini aku belum pernah bertemu lagi dengan bapak dosen yang telah membantuku. Nomor beliau pun sudah tidak aktif. Aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengucapkan terima kasih secara langsung. Namun, aku percaya bahwa setiap kebaikan akan menemukan jalannya sendiri. Semoga di mana pun beliau berada, Allah selalu melimpahkan kesehatan, kebahagiaan, dan membalas semua kebaikan yang pernah beliau berikan kepadaku.

Kini aku telah berada di semester lima Program Studi Manajemen. Kesempatan yang dulu hampir hilang itu selalu kuusahakan untuk dimanfaatkan sebaik mungkin. Aku aktif mengikuti berbagai kegiatan kampus, organisasi, serta pengembangan diri agar terus belajar dan bertumbuh. Saat ini aku juga sedang mempersiapkan diri untuk menjalani program magang sebagai langkah awal menuju dunia kerja. Setiap kesempatan yang datang selalu kuingat sebagai pengingat bahwa aku pernah hampir kehilangan semua ini.

Gambar 3. Aktivitas Penulis Selama Menempuh Pendidikan di Perguruan Tinggi

Sumber: Dokumentasi Pribadi,2026

Hari ini aku memahami bahwa kampus impian bukan selalu kampus yang paling bergengsi atau paling sering dibanggakan. Kampus impian adalah tempat yang memberi kesempatan untuk bertumbuh, tempat yang membuat seseorang tetap bisa mengejar cita-cita tanpa melupakan keadaan keluarganya, dan tempat yang mempertemukan kita dengan orang-orang baik yang menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Mimpiku belum selesai. Aku ingin lulus tepat waktu dengan hasil terbaik, memperoleh pekerjaan yang baik, dan suatu hari nanti membalas semua perjuangan Ayah yang telah mengorbankan begitu banyak hal demi kami bertiga. Aku juga ingin membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhana pun bisa bermimpi setinggi langit, selama tidak berhenti berusaha.

Karena pada akhirnya, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas, tidak semua mimpi datang sesuai rencana, tetapi bukan berarti mimpi itu gagal. Kadang, mimpi hanya sedang mencari jalan terbaik untuk sampai kepada kita.

Tinggalkan Komentar