Mimpi Seorang Anak Buruh Tani Menuju Kampus Impian
Tidak ada yang benar-benar mudah bagi anak seorang buruh tani. Saya lahir dan dibesarkan di keluarga sederhana. Ayah bekerja sebagai buruh tani, sedangkan ibu membantu mencari nafkah dengan pekerjaan seadanya. Penghasilan orang tua tidak pernah menentu. Ketika musim panen bagus, kami masih bisa sedikit bernapas lega. Namun ketika hasil panen gagal atau sedikit, kami harus lebih banyak berhemat. Di tengah keterbatasan itu, ayah dan ibu hanya memiliki satu harapan, yaitu melihat anaknya bisa kuliah dan memiliki kehidupan yang lebih baik daripada mereka.
Sejak duduk di bangku SMA, saya selalu bermimpi bisa kuliah di perguruan tinggi negeri. Bukan karena gengsi, tetapi karena saya ingin membuktikan bahwa anak buruh tani juga berhak memiliki masa depan yang cerah. Saya percaya pendidikan adalah jalan untuk mengubah keadaan keluarga kami.
Kesempatan pertama datang melalui jalur SNBP. Saya menaruh harapan yang sangat besar. Setiap hari saya berdoa agar nama saya muncul saat pengumuman. Namun kenyataan berkata lain. Saya dinyatakan tidak lolos. Hari itu saya menangis diam-diam karena merasa sudah berusaha semampu saya. Meski kecewa, saya memilih bangkit. Saya masih memiliki kesempatan melalui SNBT.
Saya mulai belajar lebih giat dan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Hari pelaksanaan SNBT menjadi salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Lokasi ujian berada sekitar empat jam dari rumah. Saya berangkat sebelum matahari terbit, diantar oleh paman menggunakan sepeda motor. Udara pagi terasa begitu dingin, tetapi pikiran saya dipenuhi harapan. Sebelum berangkat, ayah, ibu, kakek, dan nenek mengantar saya sampai depan rumah dan melihat saya berangkat. Mereka tidak banyak bicara, hanya mendoakan saya. Saya masih ingat wajah mereka yang berusaha tersenyum, tetapi mata mereka berkaca-kaca. Seolah mereka menitipkan seluruh harapan keluarga pada perjalanan saya hari itu.
Empat jam perjalanan dengan sepeda motor bukanlah perjalanan yang ringan. Badan terasa pegal, tetapi saya terus meyakinkan diri bahwa semua perjuangan ini akan terbayar. Saya masuk ruang ujian dengan doa yang tidak pernah putus. Saya mengerjakan setiap soal dengan sungguh-sungguh karena saya tahu perjuangan ini bukan hanya milik saya, tetapi juga milik keluarga yang telah mengorbankan banyak hal.
Sayangnya, hasil yang saya tunggu kembali tidak sesuai harapan. Saya kembali dinyatakan tidak lolos SNBT. Saat membaca pengumuman itu, rasanya dunia berhenti sejenak. Dua kesempatan telah berlalu, tetapi saya tetap gagal. Saya mulai berpikir bahwa mungkin mimpi kuliah di perguruan tinggi negeri memang bukan untuk saya. Saya bahkan sempat ingin menyerah dan berhenti mencoba.
Namun, di saat saya kehilangan semangat, orang tua saya justru menjadi alasan terbesar untuk kembali bangkit. Ayah memandang saya sambil berkata, "Biar bapak sama mamak yang jadi buruh tani, kamu jangan." Kalimat itu sederhana, tetapi begitu dalam maknanya. Saya tahu ayah mengucapkannya setelah bertahun-tahun bekerja di sawah dengan tenaga dan keringat yang tidak pernah dihitung. Beliau tidak ingin anaknya menjalani hidup yang sama karena keterbatasan ekonomi.
Dengan sisa keyakinan yang saya miliki, saya mendaftar Seleksi Mandiri Universitas Negeri Yogyakarta. Kali ini saya benar-benar pasrah. Saya hanya ingin berusaha sekali lagi agar tidak menyesal di kemudian hari. Ayah kembali menunjukkan pengorbanannya. Beliau rela mengantar saya ke Yogyakarta untuk mengikuti ujian. Kami menempuh perjalanan hampir satu hari satu malam, menggunakan mobil dan menyeberang dengan kapal. Saya tahu perjalanan itu menguras tenaga dan biaya, tetapi tidak sekalipun ayah mengeluh.
Selama saya mengikuti ujian, ayah menunggu di luar. Kami hanya berdua di kota yang jauh dari rumah. Setelah ujian selesai, kami tidak langsung pulang. Ayah mengajak saya menunggu pengumuman di Yogyakarta. Beliau berkata bahwa apa pun hasilnya, kami akan menerimanya bersama.
Malam setelah salat Magrib menjadi malam yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Dengan tangan gemetar saya membuka laman pengumuman. Saya memasukkan nomor peserta sambil terus berdoa. Beberapa detik kemudian, tulisan "LULUS" muncul di layar. Saya terdiam. Air mata langsung mengalir tanpa bisa saya tahan. Ayah yang berdiri di samping saya ikut menangis. Untuk pertama kalinya saya melihat ayah menangis karena bahagia. Kami saling berpelukan di tempat itu. Semua rasa lelah, perjalanan jauh, kegagalan di SNBP dan SNBT, serta doa yang setiap hari dipanjatkan akhirnya terjawab.
Hari itu saya sadar bahwa perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil. Jalan saya memang lebih panjang dibandingkan orang lain, tetapi setiap langkah mengajarkan arti sabar, ikhlas, dan pantang menyerah. Saya berhasil menjadi mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta bukan karena saya yang paling hebat, melainkan karena saya memiliki orang tua yang tidak pernah berhenti percaya kepada anaknya.
Kini, setiap kali mengenakan almamater kampus, saya selalu teringat ayah yang bekerja di sawah dan ibu yang terus mendoakan saya dari rumah. Saya ingin menyelesaikan pendidikan ini dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk terima kasih atas setiap tetes keringat dan pengorbanan mereka. Saya berharap suatu hari nanti ayah dan ibu tidak lagi bekerja sekeras sekarang. Karena mimpi saya sejak awal bukan hanya menjadi mahasiswa di kampus negeri, tetapi juga mengangkat derajat keluarga kecil saya.
Bagi saya, diterima di kampus impian bukanlah akhir dari perjuangan. Justru inilah awal dari janji yang harus saya tepati kepada kedua orang tua, bahwa pengorbanan mereka tidak akan pernah sia-sia.
