Tema: Perjuangan masuk kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

Oleh: Yusmi Patmawati

Tiga tahun duduk di bangku SMK jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif, saya berjalan tanpa arah. Saya tidak tahu ke mana masa depan akan membawa saya, namun saya memilih menjalaninya dengan penuh semangat. Sebagai seorang siswi di jurusan yang didominasi laki-laki, saya punya satu impian sederhana yang terus saya gantungkan tinggi-tinggi: saya ingin kuliah, tapi saya juga harus bekerja demi membantu perekonomian keluarga.

Masa kelulusan yang dinanti akhirnya tiba. Diruangan Aula seluruh siswa kelas 12 dikumpulkan dan akan diumumkan siapa yang menjadi siswa eligible beserta diadakan sosialisasi memasuki kampus negeri atau swasta. di ruangan yang penuh dengan ribuan siswa yang penuh penasaran, layar menampilkan nama nama daftar siswa yang eligible. Hal yang tidak disangka sangka, nama saya masuk dalam daftar siswa eligible yang berhak mengikuti jalur SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi). Di tengah harapan besar untuk masuk kuliah negeri, saya mendaftarkan diri pada program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Saat itu, saya bahkan belum sepenuhnya paham apa itu KIP. Lewat pencarian singkat di internet, barulah saya tahu bahwa lembar kartu itulah yang kelak menjadi kunci pembuka gerbang mimpi saya dari keterbatasan ekonomi.

Saat pendaftaran SNBP dibuka, saya mengambil keputusan yang cukup nekat. Tanpa riset mendalam dan hanya bermodal rasa penasaran pada namanya yang terdengar unik, saya memilih Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Lucunya, saya yang tinggal di Jakarta sama sekali tidak tahu kalau kampus tersebut berada jauh di Surabaya, Jawa Timur. Tanpa memberi orang tua terlebih dahulu, saya memutuskan untuk mendaftarkan dikampus tersebut.

Di tengah proses menunggu pengumuman, saya bersikap realistis. Sebagai anak dari seorang ibu yang bekerja keras sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) dan ayah yang sedang sakit stroke ringan hingga tidak bisa bekerja, saya tidak berani menaruh ekspektasi tinggi. Saya memutuskan langsung bekerja sebagai tenaga marketing di sebuah dealer motor Honda untuk menyambung hidup. Hingga hari pengumuman itu tiba saat saya sedang sibuk bekerja di dealer. Seorang teman mengirim pesan, mendesak saya untuk memeriksa portal SNBP. Dengan waktu yang sedikit padet di sela-sela jam kerja, saya membuka situs tersebut.

Seketika, layar handphone saya dipenuhi warna biru. Bukan merah. "Masya Allah, Alhamdulillah ya Allah…" bisik saya berulang kali. Air mata saya hampir menetes di depan tempat kerja. Mbatin Saya selalu berkata saya, anak seorang ART, dinyatakan lolos di PENS salah satu politeknik terbaik di Asia. Mimpi saya untuk kuliah di kampus negeri akhirnya dikabulkan Tuhan, terima kasih ya allah sudah mempermudah. Namun, kebahagiaan itu langsung diuji oleh realita yang menampar keras. Saat melakukan daftar ulang secara daring, status KIP Kuliah saya belum diverifikasi karena harus melewati proses wawancara terlebih dahulu. Imbasnya, saya diwajibkan membayar uang pangkal sebesar 4 juta rupiah sebagai syarat awal. Bagi keluarga saya, angka 4 juta rupiah adalah hal yang mustahil ditembus dalam waktu 10 hari jam kerja. Ketika saya memberi tahu ibu saya bahwa saya lolos kuliah di kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) di Surabaya, wajahnya memancarkan binar bahagia, hingga mengeluarkan air mata terharu. Namun, begitu saya menyebutkan nominal pembayaran awal, mata yang senang,bahagia itu redup secara perlahan. Saya melihat beban berat di pundak ibu saya yang hanya bekerja untuk saya,abang,bapak dan ibu rasanya saya tidak tega jika harus memaksakan hal tersebut,mbatin hati saya rasanya nyesek, hati saya sakit sekali melihat kehidupan saya yang penuh dengan ujian ekonomi.

Saya Berkata "Ma, kalau memang tidak ada uangnya, jangan dipaksa. Kan yang kerja cuma Ema doang. Kalau memang tidak bisa, aku ngundurin diri saja," kata saya saat itu. Saya sempat mencoba menghubungi admin kampus, bertanya apakah biaya tersebut bisa dicicil. Jawabannya singkat dan tegas: Tidak bisa. Di titik itu, saya menyerah. Saya memutuskan mengundurkan diri karena tidak ingin menjadi beban bagi orang tua. Keputusan mundur itu saya sampaikan kepada guru di SMK. Di sinilah menurut saya sebuah pertolongan baik Tuhan datang bekerja. Mendengar alasan saya, pihak sekolah terkejut karena jika saya mundur, indeks sekolah akan ikut terdampak. Guru saya dengan sangat tulus menawarkan solusi yang membuat saya terharu: beliau bersedia meminjamkan uang tabungannya agar saya bisa tetap membayar uang daftar ulang tersebut.

Dua hari setelah percakapan emosional itu, saya prustasi kebinggungan namun sebuah harapan muncul. Nama saya resmi tercantum dalam daftar peserta yang maju ke tahap wawancara KIP Kuliah 2024 di PENS. Malam sebelum pengumuman hasil wawancara, saya tahu kekuatan saya hanya ada pada doa. Saya melakukan ikhtiar batin secara total. Malam itu, saya terjaga, bersujud dalam salat Tahajud, menangis semalaman meminta kemudahan agar beban biaya UKT ini bisa langsung terbayarkan tanpa harus menerima pinjaman, karna jujur saya sangat tidak enak dengan yang menawarkan. Walaupun sifatnya membantu sama saja saya merasa sangat tidak enak. Doa di sepertiga malam itu dijawab tunai pada siang harinya. Di lembar pengumuman, tertulis jelas: Yusmi Patmawati, Dinyatakan Lolos sebagai Penerima KIP Kuliah.

Hari itu juga, dengan perasaan lega dan tenang, saya langsung mengabari guru SMK saya. Saya menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga sekaligus mengabarkan bahwa saya tidak jadi meminjam uang karena beasiswa KIP sudah cair. Semua rasa campur aduk senang, bahagia, hingga tangis haru menjadi satu. Kini, di sinilah saya memulai lembaran baru. Menjadi mahasiswi Teknik Telekomunikasi di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Langkah kaki saya mungkin jauh dari rumah di Jakarta, tapi tekad saya jauh lebih besar untuk mengubah masa depan keluarga.

Tinggalkan Komentar