KISAHKU ISPIRASIKU
“Pengumuman Hijau Kampus Impian yang Meluluhkan Hati Ibu”
Setiap orang punya mimpi dan patut untuk diperjuangkan,salah satunya saya yang punya mimpi untuk bisa kuliah di kampus Impian.Namun untuk bisa kuliah dan mengusahakan mimpi tersebut,perlu perjuangan yang cukup berat.Orang tua saya yang punya keterbatasan ekonomi,dan Pendidikan yang rendah.Ibu saya yang hanya tamatan SD dan Bapak saya seorang tamatan SMP dan kedua orang tua saya kini sudah berpisah,sekarang saya tinggal bersama ibu.Jujur untuk meyakinkan Ibu bahwa kuliah itu punya manfaat yang luar biasa itu lumayan sulit.Dengan segala perkataan dan edukasi yang saya berikan kepada beliau mengenai kuliah tidak cukup membuat ia yakin untuk memperbolehkan saya untuk menempuh kampus Impian itu. Ditambah keterbatasan ekonomi yang membuat nya semakin ragu untuk mengizinkan saya berkuliah.Begitu juga dengan Bapak saya,saya pernah menghubungi dan memberitahu kepada nya bahwa saya ingin melanjutkan mimpi saya dengan berkuliah,namun ternyata ia lebih parah,ia hanya diam dan tak menjawab,bahkan seolah mencari topik baru dan tidak mengubris pernyataan saya tadi,saya muak,alih-alih mendukung anaknya ini malah lepas tanggung jawab.
Saya tidak peduli dengan hal itu,saya harus kuliah! itulah yang ada dibenak saya,dan saya berjanji mencari beasiswa untuk memudahkan jalan saya dalam menempuh kampus Impian tersebut.Memang tidak mudah berkali-kali ingin menyerah tapi entah kenapa semangat dalam jiwa timbul Kembali mengingat saya harus mengangkat derajat kedua orang tua saya.
Saya rela tidak mengikuti les gratis yang disediakan pemerintah disekolah dan memilih belajar sendiri di rumah demi bisa menyempatkan membantu orang tua di ladang,setelah dari ladang lalu saya menyempatkan belajar di malam harinya,walaupun sebenarnya sudah Lelah dan ingin beristirahat.Tapi Mimpi lebih penting daripada itu.Mencoba belajar dari seminar gratis yang tersedia di youtube,meminjam buku soal Latihan dari teman dan segala hal yang mungkin berguna saya lakukan.Namun ada pada suatu waktu saya menangis,ingin menyerah dan marah.Kenapa terasa dunia tidak adil bagi orang miskin,hanya untuk mengejar mimpi saja sulit,ingin curhat dengan Ibu,tapi saya tau ia juga ragu dengan Keputusan yang saya ambil.Pada saat hari pendaftaran saya membicarakan nya lagi kepada ibu saya,bahwa aku sudah daftar dan akan segera ujian di kota.Pada saat itu respon ibu terasa tidak mengenakkan,dari raut wajahnya tampak ia tidak suka,padahal disini aku benar-benar ingin berjuang dan mencapai sesuatu yang mungkin dianggap nya itu salah dan tak berarti.Pandangan nya pada kuliah itu bahwa kuliah itu hanya menunda seseorang untuk mendapatkan pekerjaan,dan setelah selesai kuliah banyak juga yang pulang ke kampung dan mengganggur.Namun saya yakin bahwa mimpi untuk kuliah ini adalah jalan untuk menuju salah satu kesuksesan itu.Aku sudah berungkali menjelaskan nya kepada ibu,tapi tetap saja ia tidak percaya.
Saya pergi ke kota dan segera menyelesaikan ujiannya,dan tahukah anda saya sambil membawa adikku yang memiliki kebutuhan khusus alias tidak bisa berjalan dan berbicara selayaknya anak pada umumnya,usia sudah menginjak 13 tahun.Aku terpaksa membawa adikku agar tidak mengganggu ibu ku untuk bekerja diladang,sehingga aku harus membawa adikku dan menumpang sementara di rumah keluarga.Rasanya memang sulit apalagi ketika melihat teman-teman lain yang datang kekota untuk ujian,lalu pergi untuk berjalan-jalan atau mengelilingi kota,tapi saya harus segera pulang dari Lokasi ujian dan Kembali mengurus adik saya yang sebelum nya saya titipkan di rumah keluarga.Walaupun begitu saya mencoba tidak marah kepada orang tua saya terlebih kepada ibu saya,karna saya sudah melihat bagaimana dia memperjuangkan saya dan adik,sabar merawat kami,bahkan Ketika orang yang dulu dia percayai sebagai kekasih nya(Bapak)pergi meninggalkannya.Tapi ia tetap menjadi ibu yang hebat bagi kami,menyekolahkan saya walau ia harus banting tulang deengan tak kenal waktu di ladang yang bukan milik kami.
Pada hari pengumuman saya berharap sesuatu yang baik terjadi kepada saya,dan ternyata saya lolos di kampus hijau itu,saya amat senang dan berulang kali berterimakasih kepada Tuhan yang Maha Esa,lalu setelah itu saya pun memberitahu ibu saya bahwa saya lolos hingga tetangga di sekitar rumah mendengarnya,dan tahukah anda,saya melihat senyum diwajahnya,saya tahu mungkin dia belum sepenuhnya mengizinkan,tapi saya yakin ini adalah awal yang baik.Hari demi hari ia mulai peduli dengan berkas apa saja yang harus disediakan,menanyakan seetiap waktu apakah sudah beres atau belum,bahkan menemani saya untuk mengurus berkas yang belum selesai.Saya bersyukur ternyata ibu sudah mengizinkan saya untuk mewujudkan berkuliah dikampus Impian itu,dan dia peduli dan berharap saya melakukan dan menanggungjawabi nya dengan baik.
Dari sini saya belajar,ternyata bukan orang tua yang tidak mau mengizinkan namun kita yang harus mau memulai,bertahan,memperjuangkan,dan memberikan hasil yang baik sebagai bentuk kerja keras kita selama ini.Saya pun tak menyangka bahwa hati ibu saya akan luluh,tapi saya bersyukur dan saya sadar berkat ibu saya jadi punya semangat baru untuk memulai mimpi berikutnya.Ibu adalah bentuk cinta paling nyata di dunia ini,kasih sayang dan perhatiannya tak pernah pudar walaupun berganti masa.
Inilah perjuangan ku dalam meraih kampus Impian,meskipun diawal saya banyak mengalami kesulitan,tapi ternayata usaha dan do aitu tidak menghianati hasil,semua dapat diraih asal kita punya niat dan usaha dan tidak lupa untuk berdoa.Bagi teman-teman diluar sana yang punya masalah seperti saya,semoga kalian kelak dapat membaca cerita ini dan dapat mengobati sedikit luka di hati kalian dan boleh menumbuhkan semangat dan motivasi dalam meraih cita-cita.
Terimakasih…
