Mengejar Cahaya Dalam Kabut
Karya : Muhammad Hafidz
Namaku Aris, seorang pengelana di bawah atap yang seringkali lupa cara menjadi rumah. Di luar sana, deretan medali atletik dan piagam organisasi adalah topeng kemandirian yang kupakai dengan rapi. Orang-orang menghujani aku dengan tepuk tangan, tanpa pernah tahu bahwa ketangguhan ini adalah produk dari kesunyian yang panjang. Aku sering mencuri dengar dari balik jendela tetangga—di mana tawa pecah dan kalimat “Kami bangga padamu” mengalir seperti air. Bagiku, kalimat itu adalah kasta tertinggi kemewahan yang tak mampu kubeli, bahkan dengan seluruh peluh yang kuserahkan pada keheningan rumah.
Ibuku adalah sebuah malaikat tanpa sayap. Ia adalah tulang punggung yang tak pernah retak, seorang pekerja keras yang menelan amarahnya sendiri demi menjaga langit di atas kepala kami tetap biru. Namun, di sudut lain, Ayah hadir menyerupai badai yang tak terduga. Pria itu, dengan diamnya pengangguran dan lidahnya yang tajam, seringkali menjadikan Ibu sebagai sasaran amuk yang tak beralasan. Aku tumbuh menyaksikan tangan kasar Ayah mendarat di atas ketabahan Ibu yang tak bertepi. Meski Eyang—ibu dari Ayah sendiri—telah memohon agar Ibu pergi mencari suaka, Ibu memilih bertahan. "Demi kamu," bisiknya dalam doa yang seringkali ia sampaikan pada Tuhan lewat sisa air mata.
Puncak kebimbanganku terjadi di sebuah pagi yang dingin, saat Bu Ningsih, guru BK-ku, memanggilku ke ruangannya. Di sana, di antara aroma buku tua dan keheningan yang menyesakkan, ia menanyakan arah masa depanku. "Aris, kau punya kuota eligible. Mau kuliah di mana?" tanyanya. Lidahku kelu. Bagaimana bisa aku menentukan arah, sementara di rumah aku hanya diajarkan cara bertahan hidup dari amarah? "Saya tidak tahu, Bu. Orang tua saya tidak pernah menyediakan peta untuk saya," jawabku getir. Namun, sebuah amplop undangan dari beliau menjadi kunci yang memutar takdir. Saat kuserahkan pada Ibu, kulihat sebuah senyum tulus yang mekar—sebuah pemandangan langka yang akhirnya mengantarkanku ke gerbang Universitas Negeri Jakarta.
Namun, nasib senang sekali bermain dengan komedi putar. Di semester kedua, maut menjemput Ayah. Kepergiannya meninggalkan lubang yang aneh; aku kehilangan sosok pria yang secara administratif adalah ayahku, namun aku menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar memilikinya sejak awal. Ibu memohon agar aku tetap di bangku kuliah, tapi aku tidak bisa lagi menutup mata. Aku tidak ingin melihat Ibu membungkuk lebih dalam karena beban biaya. Dengan kesadaran penuh, kutanggalkan jaket almamaterku dan melangkah ke dunia retail. Aku memilih menjadi pria yang seharusnya hadir di rumah itu sejak lama: seorang pelindung, bukan beban.
Kini, aku berdiri di persimpangan jalan yang baru. Perekonomian kami perlahan membaik, dan aku kembali mengejar pendidikan di sela-sela jam kerjaku. Aku menyadari satu hal pahit: aku memang kehilangan arah dari seorang Ayah, tapi luka itu justru membuatku menciptakan kompas sendiri. Aku bertekad menjadi tembok yang kokoh agar adik-adikku tak perlu merasakan dinginnya lantai yang dipukul amarah. Aku mungkin tidak memiliki keberuntungan seperti mereka yang masa depannya dipetakan dengan rapi oleh orang tuanya. Namun, aku bersyukur, karena melalui gelapnya masa lalu, aku belajar bahwa cahaya yang paling terang adalah cahaya yang kita nyalakan sendiri di tengah kegelapan.
Tentang Penulis
Muhammad Hafidz adalah seorang mahasiswa di Universitas Terbuka sekaligus seorang wirausahawan muda yang bergerak di bidang layanan digital. Selain memiliki ketertarikan pada dunia strategi bisnis dan retail, Hafidz memiliki minat yang mendalam dalam seni bercerita. Melalui karyanya yang berjudul "Di Balik Aroma Minyak Urut dan Segelas Air Hangat", ia mencoba mengeksplorasi kedalaman kasih sayang dan memori melalui karakter imajiner bernama Nala. Bagi Hafidz, menulis adalah media untuk menyuarakan nilai-nilai ketulusan dan bakti yang sering kali terlupakan di era modern.
Penulis dapat disapa melalui email mhmmdhafidz.31@gmail.com atau melalui akun Instagram @apeace.06
