Satu Langkah Berani, Seribu Pelajaran Berarti

Oleh : Tia Rahmadani Nasution

Setiap orang memiliki kisah perjuangannya yang berbeda. Ada yang berjalan mulus sesuai rencana, ada pula yang harus melewati berbagai rintangan sebelum sampai pada tujuan. Begitu juga dengan perjalanan hidupku. Jika melihat ke belakang, aku tidak pernah menyangka bahwa keputusan yang awalnya kuambil dengan penuh keraguan justru menjadi awal dari begitu banyak pelajaran berharga dalam hidupku.

Setelah lulus dari SMA, aku berada pada fase yang cukup membingungkan. Saat teman-temanku sudah mantap menentukan jurusan dan kampus impian mereka, aku masih bertanya-tanya tentang masa depanku. Sejak lama aku memiliki ketertarikan pada dunia komunikasi. Aku membayangkan diriku belajar tentang media, penyiaran, dan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kemampuan berbicara di depan umum. Namun, di tengah kebingungan itu, ayahku memberikan saran yang berbeda. Beliau menyarankan agar aku memilih jurusan Manajemen Pendidikan Islam.

Awalnya aku merasa ragu. Jurusan tersebut bukanlah pilihan yang selama ini aku bayangkan. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah aku mampu menjalani perkuliahan di jurusan itu? Apakah ini benar-benar jalan yang tepat untukku? Namun, di balik semua keraguan itu, aku percaya bahwa orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Aku teringat sebuah nasihat yang sering kudengar bahwa “Ridha Allah Bergantung Pada Ridha Orang Tua”. Dengan keyakinan itu, aku mencoba menghilangkan keraguan dan memberanikan diri mengikuti jalur SPAN-PTKIN dengan memilih jurusan Manajemen Pendidikan Islam di UIN Mahmud Yunus Batusangkar.

Alhamdulillah, aku dinyatakan lulus. Kabar tersebut membawa kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aku sadar bahwa kuliah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebagai seorang anak, aku memahami bahwa orang tuaku telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, aku tidak ingin hanya berpangku tangan dan menambah beban mereka.

Saat masa liburan setelah kelulusan, aku memutuskan untuk bekerja. Ketika sebagian teman menikmati waktu luang sebelum memasuki dunia perkuliahan, aku memilih mengisi hari-hariku dengan bekerja. Bukan karena terpaksa, melainkan karena aku ingin belajar mandiri dan membantu mempersiapkan kebutuhan kuliah. Dari pengalaman tersebut, aku belajar bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memberikan manfaat, meskipun hasilnya tidak selalu terlihat secara langsung.

Di tengah kesibukan bekerja, aku menemukan informasi mengenai Beasiswa Tahfiz. Kesempatan itu langsung menarik perhatianku. Tanpa berpikir panjang, aku mempersiapkan segala persyaratan yang dibutuhkan dan mendaftarkan diri. Saat itu aku tidak terlalu memikirkan hasil akhirnya. Aku hanya ingin berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan sisanya kepada Allah.

Hari pengumuman pun tiba. Dengan perasaan yang bercampur antara harapan dan kegelisahan, aku melihat hasil seleksi. Betapa bahagianya aku ketika menemukan namaku tercantum sebagai salah satu penerima beasiswa. Saat itu aku benar-benar merasakan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mau berusaha dan berdoa. Beasiswa tersebut menjadi jawaban atas doa-doa yang selama ini kupanjatkan. Selain membantu biaya pendidikan, beasiswa itu juga meringankan beban orang tuaku karena pada semester pertama aku tidak perlu membayar UKT.

Pengalaman tersebut mengajarkanku sebuah pelajaran penting yaitu “Jangan Pernah Takut Untuk Mencoba”. Sering kali kita mengurungkan langkah karena takut gagal, padahal kesempatan terbaik justru datang kepada mereka yang berani mencoba. Jika saat itu aku memilih untuk tidak mendaftar beasiswa karena merasa tidak mampu atau tidak percaya diri, mungkin aku tidak akan mendapatkan kesempatan yang begitu berharga.

Beberapa waktu kemudian, tibalah hari yang paling mengharukan dalam hidupku, yaitu hari keberangkatan menuju kampus. Aku harus meninggalkan kampung halaman di Sumatera Utara dan merantau ke Sumatera Barat untuk menuntut ilmu. Bersama keluarga, aku memulai perjalanan panjang menuju tempat yang akan menjadi rumah keduaku selama beberapa tahun ke depan.

Perjalanan itu ternyata tidak berjalan semudah yang dibayangkan. Di tengah perjalanan, kami mendapat kabar bahwa jalan utama yang biasa dilalui ditutup karena adanya demonstrasi. Kami terpaksa mencari jalan alternatif yang lebih jauh dan berliku. Hujan deras terus mengguyur sepanjang perjalanan. Bahkan beberapa ruas jalan yang kami lewati tergenang banjir hingga sebahu mobil.

Dalam situasi tersebut, kami hanya bisa berdoa dan terus melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Tidak banyak percakapan yang terjadi di dalam mobil. Masing-masing larut dalam pikiran dan perasaan sendiri. Aku memandang keluar jendela sambil membayangkan kehidupan baru yang akan kujalani. Di satu sisi aku merasa sedih karena harus berpisah dengan keluarga, tetapi di sisi lain aku juga merasa bersemangat untuk memulai perjalanan baru sebagai mahasiswa.

Sesampainya di perantauan, aku mulai belajar menjalani kehidupan yang berbeda. Jauh dari orang tua membuatku harus lebih mandiri. Aku belajar mengatur waktu, mengelola keuangan, menyelesaikan berbagai persoalan sendiri, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang kuambil. Tidak jarang rasa rindu kepada keluarga datang menghampiri, terutama ketika melihat teman-teman yang masih bisa berkumpul dengan orang tua mereka. Namun, aku menyadari bahwa semua ini adalah bagian dari proses pendewasaan.

Sebelum aku berangkat, ayah dan ibu pernah menyampaikan pesan yang hingga kini selalu kuingat. Mereka berkata, “Jadilah Orang Yang Bisa Memberi Bermanfaat Bagi Orang Disekitarnya .” Kalimat ini menjadi kompas hidupku di perantauan ini, yang mengingatkanku ketika lelah melanda, yang membangkitkanku ketika semangat mulai redup. Karena sejatinya, kuliah bukan hanya soal nilai dan gelar kuliah tetapi tentang membentuk diri menjadi manusia yang lebih baik, yang siap memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitar.

Kepada kamu yang sedang berjuang, yang sedang ragu, yang mungkin merasa jalanmu tidak semulus jalan orang lain , aku ingin kamu tahu bahwa perjuanganmu itu nyata, dan itu berharga. Tidak ada perjuangan yang sia-sia selama kamu terus berdoa dan berusaha. Kampus impianmu mungkin bukan yang kamu bayangkan dari awal, tapi bisa jadi itulah yang terbaik yang Allah rancangkan untukmu.

Perjalananku menuju kampusku ini tidaklah selalu berjalan dengan mulus. Ada air mata yang jatuh, keraguan yang sempat menghampiri, bahkan rintangan yang datang silih berganti, termasuk banjir yang menghadang di tengah perjalanan. Namun, justru di sanalah letak keindahan sebuah perjuangan. Sebab, perjuangan yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan tentang seberapa teguh kita menjaga amanah dalam setiap langkah yang ditempuh.

Berangkatlah. Bawa doamu. Bawa amanahmu. Dan percayalah, Allah tidak pernah salah dalam memilihkan jalan terbaik untuk hamba-Nya yang mau berusaha.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *