Kisah Perjuangan Meraih Kampus Impian

by. Nadia Khoirun Navila

Pada awal tahun 2024, aku mulai memikirkan setelah lulus MA nanti aku mau lanjut kemana ya? Kuliah apa mondok lagi?? dan selalu itu yang berada di benak kepalaku.

Suatu ketika di sekolah ada isu mengenai sebentar lagi akan dibuka pendaftaran SNBP dan SPAN-PTKIN yang ditujukan untuk siswa/i kelas 12. Setelah mendengar isu tersebut aku mulai memikirkan akan ikut mendaftar atau tidak. Akhirnya, ketika aku berada pondok saat itu kedua orang tuaku menjenguk dan kami saling mengobrol, lalu aku pun bertanya kepada ayahku. “Enaknya aku kuliah atau lanjut mondok lagi ya…” Ayahku berkata “Kamu inginnya gimana? Mau kuliah apa mondok?” Lalu ibuku menimpali “katanya mau mondok lagi”.

Aku merasa bingung antara ingin kuliah dan juga mondok. Lalu aku bilang kalau akan dibuka pendaftaran kuliah melalui jalur SNBP dan SPAN-PTKIN yang mana itu berdasarkan nilai rapot yang didaftarkan dengan nama sekolah juga. Kebijakan dari sekolah itu harus memilih dari salah satu jalur tersebut. Jadi, ayahku pun berkata “kalau kepingin kuliah di kampus negeri ya coba dulu daftar itu lewat jalur rapot”. Sambil aku menunjukkan beberapa brosur kampus negeri yang diberikan oleh beberapa kating dari delegasi tiap kampus negeri. “Ambil jurusan Pendidikan aja nantinya biar jadi guru” kemudian aku buka brosur kampus UIN Walisongo Semarang aku lihat bersama ayahku. Kemudian ayah berkata “dulu ayah kuliah disini, kamu kuliah disana aja nanti ada kenalannya ayah” Aku pun bertanya “kalau kuliah disitu kira-kira aku ambil jurusan apa ya?” Ayah berkata “kalau gitu ambil PAI aja”. Lalu ibuku menambahi “ya dicoba aja dulu, nanti kalau nggak masuk berarti mondok lagi”.

Beberapa hari kemudian, pihak sekolah mulai mendata siswa/i yang akan mendaftar PTN dan PTKIN. Banyak teman-temanku yang ikut mendaftar dan saling support satu sama lain. Akhirnya, aku juga ikut mendaftar di kampus UIN Walisongo. Kemudian, seluruh siswa/i yang akan mendaftar diberikan angket yang harus diisi berisi tentang perjanjian bermaterai 10.000 dan harus siap menerima jika diterima dikampus yang telah didaftarnya serta harus ditemani orang tuanya saat sosialisasi dengan guru BK. Karena pada seleksi tersebut ada 2 pilihan kampus. Tentunya, kami memilih satu kampus impian yang menjadi opsi pertama dan opsi keduanya biasanya direkomedasikan oleh guru-guru kami.

Aktivitas dilaksanakan seperti biasa, sekolah sambil mondok di pesantren. Karena sudah ada WhatsApp Group yang beranggotakan guru serta siswa/i yang akan mendaftar PTN dan PTKIN. Ketika ada intruksi untuk pembuatan akun ataupun pendaftaran nantinya anak yang pondok pasti akan disambang orang tuanya untuk melakukan hal tersebut. Dalam prosesku dibantu kakak laki-laki ku juga. Dia sesekali juga membantu mengecek website pendaftaran sampai finish.

Karena banyak siswa/i yang mendaftar, biasanya juga tiap kampus memiliki kuota siswa/i yang akan diterima dari tiap sekolah yang didaftarkan. Oleh karena itu, aku juga sambil bertanya kepada teman-teman yang sekiranya mendaftar di kampus ataupun prodi yang sama. Alhasil, aku mengetahui bahwa ada 4 anak serta aku yang mendaftar dikampus dan prodi yang sama yaitu prodi PAI di UIN Walisongo.

Ternyata, mereka yang sama mendaftar denganku memiliki nilai raport yang sedikit lebih tinggi daripada nilai raportku. Karena itu, aku mulai overthingking mengenai hal tersebut. Setelah mendaftar hanya menunggu hasil pengumuman SPAN-PTKIN.

Teringat suatu quotes “usaha tanpa doa itu sombong, doa tanpa usaha itu omong kosong”. Jadi, aku juga sudah ikhtiar semaksimal mungkin. Berdoa selalu agar diterima jalur SPAN-PTKIN. Melakukan hal-hal baik yang lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Serta support dan dari kedua orang tua. Teman-teman yang saling menyemangati satu sama lain.

Tepat di bulan Ramadhan, pengumuman hasil SPAN-PTKIN keluar. Karena pengumumannya sore, sejak pagi aku sudah berdoa sebanyak-banyaknya semoga diberikan hasil yang terbaik. Siang setelah dhuhur masih melakukan aktivitas mengaji seperti biasa dan waktu ashar pengumuman tersebut.

Setelah ashar masih mengaji, aku membuka hasil pengumuman tersebut setelah mengaji. Dan ketika disambang orang tuaku aku langsung meminta handpone ku dan segera membuka hasil pengumuman tersebut. Dengan gemetar aku memasukkan ID pendaftaran, lalu muncul hasilnya warna hijau disertai tulisan “Dinyatakan LULUS jalur SPAN-PTKIN 2024 dan di terima di Program Studi Pendidikan Agama Islam PTKIN UIN Walisongo Semarang”. Alhamdulillah, ucapku berkali-kali. Serta teman-teman yang berada di dekatku juga ikut merasa bahagia.

Keempat anak yang mendaftar PAI-UIN Walisongo jalur SPAN-PTKIN lulus semua. Pihak sekolah juga memberikan ucapan selamat bagi siswa/i yang diterima jalur SPAN-PTKIN berupa banner nama-nama yang dinyatakan lulus ditempel disamping gerbang depan sekolah. Jadi, aku setelah lulus MA akan melanjutkan kuliah di kampus UIN Walisongo Semarang.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *