“Jalan Panjang Menuju Kampus Impian”
Oleh: Chelsea Diah Kinasih Pohan
Universitas Sriwijaya
Tidak semua jalan menuju kampus impian dimulai dari keluarga yang serba berkecukupan. Jalan yang saya tempuh justru berawal dari rumah sederhana, tempat ayah bekerja sebagai buruh harian lepas dan ibu mengubur impiannya untuk kuliah. Hai, sebelumnya perkenalkan, nama saya Chelsea Diah Kinasih Pohan, Mahasiswi Universitas Sriwijaya, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Angkatan 2024. Kini saya sudah menyelesaikan empat semester sebagai mahasiswi Universitas Sriwijaya, alhamdulillah ya Allah setengah perjalanan menempuh pendidikan sudah saya lalui, dapat menempuh pendidikan di kampus kuning tercinta ini.
Gambar 1. Foto Kegiatan Praktikum di Laboratorium Biosistematika dan Fisiologi, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Sriwijaya
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026)
Perjalanan saya untuk mendapatkan kampus ini tidaklah mudah. Banyak usaha, doa, dan air mata yang mengalir menemani selama perjalanan menggapai impian ini dan kisah saya tertuang dalam sebuah cerita singkat ini. Tahun 2024 adalah tahun terakhir menghabiskan waktu di Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat ini pikiran saya dipenuhi pertanyaan tentang masa depan yang akan diraih di kemudian hari. Banyak renungan dan lamunan untuk apa yang akan dilakukan ketika sudah lulus SMA nanti, termasuk diri saya sendiri. Saya mulai bertanya-tanya bagaimana masa depan saya setelah lulus SMA, apakah saya akan kuliah?, bekerja?, pertanyaan yang terus berputar di kepala saya.
Gambar 2. Foto Daftar Nama Siswa Terbaik Kelas XII Angkatan 19
SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2024)
Pengumuman siswa eligible pun tiba, dan saya masuk di urutan nomor 12 dalam lingkup Jurusan MIPA. Senang, sedih, dan bingung. Perasaan yang sedang saya rasakan pada saat melihat nama saya ada pada daftar tersebut. Alhamdulillah, selama saya bersekolah di SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi, saya selalu mendapatkan peringkat lima besar di kelas. Eligible telah diraih dan nilai yang didapat juga memuaskan, tetapi ada 1 hal yang harus saya pikirkan terlebih dahulu untuk dapat melanjutkan jenjang pendidikan, yaitu masalah keterbatasan ekonomi keluarga. Saya mulai memikirkan apakah dengan berkuliah nanti saya dapat membebani orang tua saya?, dan apakah ini menjadi jalan yang Allah berikan untuk saya sebagai anak pertama dapat mengubah nasib keluarga menjadi lebih baik?.
Saat ini, ayah bekerja sebagai buruh harian lepas atau disebut juga tukang bangunan, itu pun jika ada orang yang membutuhkan tenaga kerja, jika tidak ada, ayah tidak memiliki pekerjaan. Ayah bekerja mulai dari pagi hingga sore hari. Gaji pekerjaan ayah, terbilang kecil sekitar Rp1.000.000 – Rp1.500.000 per bulan. Di dalam keluarga, ayah memiliki lima tanggungan, terdiri dari ibu saya dan 4 orang anak yang harus dibiayai kebutuhan hidup dan sekolahnya. Sedangkan, Ibu sebagai ibu rumah tangga. Untuk membuka suatu usaha, ibu tidak mempunyai keahlian dan modal untuk itu. Ibu merawat dan menjaga kami dengan penuh kasih sayang, terutama untuk adik saya yang ketiga memiliki keterbelakangan mental atau autisme. Adik saya ini harus memiliki perhatian yang khusus untuknya.
Rasa bingung dan takut mulai datang, pada saat itu ingin membicarakan masalah ini kepada ayah dan ibu. Saya mulai berbicara, bahwa saya masuk di daftar eligible sekolah dan berkesempatan untuk bisa mendaftarkan diri seleksi masuk kampus dengan jalur SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi). Raut wajah ayah yang semula gembira menjadi termenung memikirkan nasib saya, bagaimana ke depannya jika berkuliah. Ibu mulai memberi nasihat dan arahan kepada saya, “Tidak apa-apa mb, kalau mau mencoba dulu, rezeki tidak ada yang tahu, insyaallah nanti dipermudah jalannya”, tutur ibu saya. Ayah saya juga memberikan dukungan kepada saya untuk mencoba terlebih dulu kesempatan yang ada untuk masa depan saya di kemudian hari.
Alhamdulillah karena dukungan orang tua saya, pada akhirnya saya mencoba untuk mendaftar jalur seleksi SNBP. Saya mengambil Program Studi Gizi di Universitas Sriwijaya, karena keterbatasan ekonomi membuat mimpi saya untuk menjadi seorang Dokter tenggelam. Pengumuman SNBP pun telah tiba, saya mulai gemetar, takut, dan gelisah menunggu pengumuman SNBP. Doa yang saya panjatkan selalu, mengiringi detik dan menit menuju pengumuman SNBP. Tepat pukul 16.00 WIB, saya memberanikan diri untuk membuka hasil perjuangan saya selama tiga tahun di SMA dalam laman web SNBP. Layar hp seketika berubah menjadi warna merah dan bertuliskan tetap semangat, membuat saya mengalirkan air mata, dan isakan tangis yang tidak terbendung.
Saya langsung memeluk ibu yang selalu menguatkan saya ketika melihat pengumuman tersebut. Rasa kecewa mendalam itulah yang kurasakan, lemas, putus asa tergambar oleh diri saya. Pada saat pengumuman SNBP tersebut di bulan Ramadhan, saat adzan magrhib berkumandang saya tidak langsung berbuka puasa melainkan, masih meratapi nasib saya selanjutnya. Orang tua saya memberikan dukungan untuk terus semangat dan ikhtiar semoga kekecewaan hari ini dapat tergantikan dengan pencapaian yang memuaskan nantinya.
Hari kelulusan SMA pun tiba, semua antusias menyambut hari perpisahan. Tetapi tidak dengan diri saya yang masih memikirkan bagaimana jalan yang dipilih nantinya untuk masa depan saya. Daftar nama-nama yang lulus dalam jalur SNBP mulai dipanggil sebagai bentuk apresiasi dari sekolah, terhadap pencapaian mereka. Saya hanya termenung melihat teman-teman saya naik ke atas panggung dengan pencapaian yang mereka dapatkan, hanya doa dan harapan yang selalu saya panjatkan, semoga jalan yang nantinya saya pilih dimudahkan oleh Allah Swt.
Gambar 3. Foto Kelulusan SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2024)
Semangat saya mulai kembali, dengan dukungan orang-orang tersayang, jalan lain pun saya tempuh, dengan mengikuti jalur SNBT (Seleksi Nasional Berbasis Tes) untuk masuk perguruan tinggi. Saya mulai mendaftar jalur ini tetapi, untuk Program Studi yang saya pilih berbeda dengan jalur seleksi SNBP, saya memilih Program Studi Biologi di Universitas Sriwijaya. Saya memilih Biologi Murni, dikarenakan saya memiliki minat dan bakat di bidang saintek dan menyukai pelajaran biologi sejak SMA kelas MIPA, sehingga saya ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya juga mencoba mendaftar bantuan beasiswa KIP-K dan alhamdulillah karena saya mendaftar KIP-K biaya pendaftaran UTBK saya gratis. Saya selalu berdoa semoga impian saya dipermudah Allah Swt., tidak lupa saya selalu meminta restu orang tua dalam segala hal yang saya lakukan.
Gambar 4. Foto Keluarga di Laman Web KIP-K
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2024)
Hari menuju UTBK pun mulai dekat, pelaksanaannya saya memilih lokasi UTBK di Universitas Sriwijaya berlokasi di Indralaya, sehingga saya harus merantau untuk beberapa hari di kost bersama teman saya Ramelia. Saya mendapat jadwal UTBK pagi, tepat pukul 06.00 WIB pagi hari itu saya bergegas untuk ke gedung pelaksanaan UTBK, saat itu keadaan saya belum sarapan karena bangun kesiangan, karena tidur terlalu larut malam, demi mempersiapkan tes besok dengan maksimal. Doa dan harapan selalu orang tua saya berikan untuk saya, dalam menghadapi ujian hari ini. 1 jam sudah terlewati di dalam ruang ujian yang dipenuhi komputer dan pendingin ruangan (AC). Pusing dan lemas mulai saya rasakan, melihat soal yang begitu rumit, dan juga karena tidak sarapan sebelum tes tersebut.
Tes UTBK pun telah selesai, lega akhirnya bisa menyelesaikan soal demi soal dalam memperjuangkan masa depan saya. Akhirnya saya dan teman saya pun pulang kembali ke rumah di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dan setia menunggu pengumuman hasil kerja keras yang sudah dilakukan. Doa siang malam mulai dipanjatkan untuk mimpi saya tersebut. Akhirnya pengumuman SNBT pun tiba, rasa kecewa masih membekas di dalam hati, teringat saat membuka pengumuman SNBP pada saat itu. Saya memberanikan diri untuk membuka pengumuman tersebut, dan alhamdulillah ya Allah, hamba bersujud kepada-Mu, hasilnya saya lulus dan diterima di kampus impian Universitas Sriwijaya, dan juga saya menjadi penerima beasiswa KIP-K untuk dapat melanjutkan pendidikan.
Kabar baik ini langsung saya beri tahu kepada ibu, ibu sangat gembira mendengarnya, pada saat itu ayah sedang bekerja sehingga belum mengetahui kabar baik ini, saat ayah pulang, langsung saya beritahukan, sehingga rasa lelah yang masih ada tergantikan dengan senyum bahagia. Pendaftaran ulang pun saya lakukan, berkas-berkas untuk pendaftaran ulang telah selesai dikirim, dan akhirnya jadwal pengambilan almamater pun telah tiba. Rasa bahagia terus ada di dalam diri saya, saya dan ibu saya pun datang ke Universitas Sriwijaya, suasana haru terasa, ibu menangis melihat pencapaian anaknya yang bisa mendapatkan Universitas yang menjadi impian sejak dulu. Saat itu saya menyadari bahwa air mata ibu bukan sekadar ungkapan rasa bahagia.
Air mata itu adalah mimpi yang dulu terpaksa ia lepaskan karena keterbatasan ekonomi, tetapi akhirnya terwujud melalui anaknya. Ibu saya tidak bisa melanjutkan ke jenjang perkuliahan karena keterbatasan ekonomi juga, sehingga ia bertekad agar anaknya bisa merasakan bangku perkuliahan yang belum bisa ia rasakan sejak dulu. Pada saat di sana saya melakukan sesi foto untuk keperluan pembuatan Kartu Pengenal Mahasiswa (KPM), pengambilan almamater Universitas Sriwijaya, dan juga melakukan tes kesehatan di klinik Universitas Sriwijaya. Senyum lepas selalu terpancarkan dari ibu dan juga saya, melihat kebahagiaan yang dirasakan pada saat itu, tidak lupa juga saya dan ibu mengambil foto tepat di depan tugu yang bertuliskan UNSRI.
Gambar 5. Foto di Tugu Universitas Sriwijaya
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2024)
Alhamdulillah rasa syukur dan bahagia selalu saya ucapakan atas pencapaian ini dalam diri saya, mukjizat Allah itu sangat nyata bagi hamba yang selalu berusaha dan berikhtiar untuk perjuangan yang mereka lakukan. Saya berjanji kepada diri sendiri untuk tetap rendah hati atas segala nikmat yang Allah berikan. Saya memahami bahwa jalan menuju kampus impian memang panjang. Jalannya dipenuhi dengan kegagalan, air mata, dan rasa takut. Namun, justru jalan yang panjang itulah yang mengajarkan saya tentang arti rasa syukur, keteguhan hati, dan pengorbanan orang tua. Hari ini saya berdiri sebagai mahasiswi Universitas Sriwijaya bukan karena perjalanan saya yang mudah, melainkan karena saya memilih untuk tidak berhenti terus melangkah.
Di akhir kata, saya berpesan kepada kalian semua untuk selalu berusaha, berdoa, dan berikhtiar dalam menerima takdir, insyaallah apa yang kita impikan pasti dipermudah jalannya, dan apa yang hilang dari kita digantikan dengan yang lebih baik dari Allah Swt., yang menjadi milikmu tidak akan tertukar dengan orang lain. Semoga menginspirasi yaa, sampai jumpa semua.
Gambar 6. Foto Karya Puisi di Majalah Sekolah Angkatan 19
SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2024)
