Semua Sudah Sesuai Dengan Takdirnya

Shafa Naurah | UIN Syarif Hidayatuulah

Runtutan kata yang ku tulis mungkin sedikit tidak tentang kampus impian. Bukan juga tentang alur cerita bagaimana aku bisa berada PTN Impian. Bukan juga tentang mimpi yang hilang hanya karena semua tidak sesuai bayangan kepala. Justru tulisan ini dibuat untuk kalian yang sedang bermuka dengan kekecewaan dengan jam lima belas waktu Indonesia bagian barat. Kata-kata yang ku tata ini untuk kalian yang terus jangan pernah padam api semangatnya.

Kembali mengingat aku di jaman sekolah menengah. Dalam takdir yang ditetapkan, ternyata aku ditetapkan untuk menempuh pendidikan tingkat menengah di pondok pesantren. Tertulisnya lagi diatas garis tanganku, sekolahku tidak mendukung santrinya untuk bisa berjuang dan berada di PTN ternama dengan kredibilitas tinggi. Sehingga aku sama sekali tidak tahu menahu bagaimana orang orang diluar sana berambisi mengejar kampus kampus

Yang ku tahu hanyalah lulus SMA pasti aku mengenyam bangku universitas. Hingga sampailah di hari mendekati kelulusan ku. Aku didaftarkan oleh kedua orangtua ku di salah satu PTKIN terbaik di di Indonesia. Benar, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Apakah pada saat itu aku mengambil keputusan dengan tidak rela? Jawabannya tentu saja tidak. Aku mengambil keputusan tersebut dengan rasa yang hambar. Tidak semangat dan juga tidak lesu. Biasa saja.

Tak terasa aku sudah menggenggan almamater biru muda itu begitu juga dengan algoritma sosial media pada saat itu. Dari situlah, aku baru menyadari betapa beruntungnya mereka yang bisa berada di universitas-universitas kredibilitas di Indonesia. Apalagi kalau mendengar kabar susahnya mencari kerja untuk lulusan dari PTKIN. Rasanya aku menyesal sekali, kenapa aku tidak menyelam lebih awal mengenai bangku perkuliahan. Aku merasa tidak percaya diri dengan statusku sendiri. Merasa aku paling belakang.

Terus menerus dibawah kesedihaan. Banyak sekali penyesalan. Namun satu kalimat ini berhasil mengubah cara pandangku. Dari aku yang penuh keresahan dan ke kekhawatiran menjadi aku yang jauh lebih tenang.

Tujuan hakikat dari kuliah adalah mencari ilmu, masalah pekerjaan pasti akan ada jalannya selama kita tekun apa yang kita jalani. Awalnya aku juga amat susah sekali untuk menerima susunan kata tersebut kedalam hatiku. Aku masih terpacu dengan standar sosial media yang jauh dari realita kehidupanku sendiri. Namun, Tuhan selalu berada disisiku. Lambat laun aku mulai menemukan kemana arahku kedepannya. Kemana aku harus melangkah. Kemana aku harus memandang.

Bahkan aku tidak pernah terbayangkan akan bisa begini jadinya. Saat ini aku menekuni dunia media dan broadcasting. Memiliki banyak relasi dan koneksi dengan orang orang hebat. Kuliah dengan beasiswa. Adalah doa doa yang ternyata pernah aku panjatkan. Namun, Tuhan selalu memberikan jawaban dari jalan jalan yang kita keluhkan.

Cerita ini memang sangat sederhana. Tapi aku banyak berharap sekali melalui tulisan ini dapat menyalakan kembali api-api yang pernah sengaja dimatikan oleh pemiliknya. Kita boleh merenungi kegagalan, tapi yang tidak boleh menyerah karena kegagalan. Lakukan semua yang ada di depan matamu tanpa tanda tanya tanpa keraguan. Selama kita menekuni apa yang kita jalankan, maka keberhasilan itulah yang akan menjemput kita dengan sendirinya. Pandangan takdir kita hanya sebatas hari ini dan detik ini. Namun rencana yang sudah di takdirkan Tuhan lebih jauh lebih baik dan indah dari apa yang kita kira. Mari mensyukuri apa yang telah kita genggam, bukan melepas genggaman hanya karena melihat genggaman yang bukan kita punya.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *