Menabung mimpi dengan senyum dan loyang
Bagi saya, menulis adalah cara mengenal diri dan mengubah pengalaman menjadi pelajaran. Dari menulis, saya belajar berpikir kritis dan memahami bahwa setiap tulisan bisa menginspirasi.
Perkenalkan, saya Annisa Putri Siregar dari Riau. Kecintaan saya pada literasi tumbuh sejak SMP lewat buku catatan. Di SMK, saya menulis di platform digital dan meraih Juara 1 Kelas XI-XII. Saya aktif di Patroli Keamanan Sekolah, mengikuti Cerdas Cermat dan meraih Juara 2, PKL 6 bulan, serta lulus uji sertifikasi LSP. Semua pengalaman itu membentuk karakter disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab yang saya yakini penting bagi seorang guru.
Namun setelah lulus SMK, saya harus menerima kenyataan. Keterbatasan ekonomi membuat saya menunda kuliah. Ayah saya buruh harian lepas yang bekerja tanpa kenal lelah. Ibu saya berjualan es lilin titipan warung. Dari setiap es lilin yang terjual, Ibu menyisihkan untuk kebutuhan hidup.
Di titik itu saya dihadapkan pada pilihan menyerah atau berjuang. Saya memilih berjuang. Saya memutuskan gap year selama 1 tahun untuk menabung biaya kuliah dan mematangkan diri. Setiap hari saya rutin mencari informasi beasiswa. Saya mencatat syarat dan jadwalnya, karena saya tidak ingin melewatkan satu kesempatan pun.
Selama setahun itu saya menjalani 2 pekerjaan. Pertama, saya menjaga stand di rumah sakit. Dari sana saya belajar disiplin, pelayanan, dan empati. Saya melihat betapa besar peran seorang pendidik dalam membentuk karakter sejak dini. Pengalaman ini menguatkan tekad saya menjadi guru.
Kedua, menjelang Ramadhan saya menjadi staff produksi kue kering. Saya bekerja lembur bersama ibu-ibu. Saya belajar kerja tim, ketelitian, dan arti kerja keras. Setiap kue yang saya kemas adalah hasil keringat, sama seperti setiap rupiah yang saya tabung untuk kuliah.
Di sela pekerjaan, saya tidak meninggalkan literasi. Saya menulis dan membaca di platform daring, mengikuti kelas menulis online dan webinar pendidikan. Setahun itu mengajarkan saya kemandirian, manajemen waktu, dan arti penantian.
Hasilnya, saya berhasil menabung dan diterima di perguruan tinggi impian. Gap year bukan penghalang, justru menjadi bekal. Saya masuk kampus dengan pengalaman, kematangan, dan semangat yang lebih kuat.
Saya bercita-cita menjadi guru karena percaya ruang kelas adalah taman tempat mimpi disemai. Seorang guru bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi juga menghadirkan harapan dan membangun kepercayaan diri. Saya ingin menjadi guru yang inspiratif, menumbuhkan budaya literasi, dan mendorong siswa berpikir kritis.
Selama kuliah saya akan membangun fondasi akademik, aktif di organisasi, magang di lembaga pendidikan, dan menyiapkan skripsi. Setelah lulus, saya ingin mengadakan Pojok Baca Gratis dan Kelas Menulis Kreatif agar lebih banyak anak merasakan manfaat literasi.
Orang tua adalah sumber kekuatan saya. Di tengah keterbatasan, mereka selalu berkata, "Belajarlah dengan sungguh-sungguh, Nak." Kalimat itu menjadi penguat saya. Saya bertekad membuktikan bahwa keringat Ayah dan usaha Ibu melahirkan masa depan yang membanggakan. Karena saya percaya, pendidikan benar-benar mengubah kehidupan.
