PUTRI YANG MENOLAK MISKIN MIMPI
"Kenapa gak coba daftar ke ITB aja? Gak ada salahnya dicoba, siapa tahu jalanmu di sana."
Kalimat dari kakak saya sore itu, saat kami sedang makan bersama sebelum perburuan kampus impian dimulai, mendadak menjadi pemantik sebuah mimpi besar. Kalimat sederhana yang menjadi dorongan hangat agar saya berani melompati batas ketakutan saya sendiri untuk menatap Institut Teknologi Bandung—sebuah tempat yang sering dijuluki sebagai rumah bagi "putra-putri terbaik bangsa". Dalam hati, ada bisikan kecil yang lancang: Aku juga ingin menjadi salah satu dari putri terbaik itu.
Namun, realitas sering kali mengetuk pintu tanpa permisi. “Weh, angel loh mlebune. Lha kowe les ga? (Wah, susah loh masuknya. Emang kamu les gak?)" Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang pengusaha yang malam itu baru saya temui. Sebuah tanya bahasa Jawa yang langsung menghantam telak ego saya. Jawaban yang bisa saya berikan saat itu hanyalah sebaris kata pelan, “Mboten, Pak. (Tidak, Pak)”
Dari sorot matanya, terbaca skeptisisme yang nyata. Bagi dunia luar, mengimpikan ITB tanpa sokongan bimbel dan modul tebal adalah sebuah kegilaan. Jujur, mental saya sempat goyah malam itu. Realitas ekonomi keluarga memaksa saya untuk menekan ego dalam-dalam. Menonton teman-teman lain dengan mudah mendaftar bimbel berbiaya jutaan rupiah menjadi pemandangan seputar masa SMA yang harus saya telan mentah-mentah.
Mengapa harus ITB? Bagi saya, ITB adalah sebuah ruang pembuktian—sebuah gerbang yang saya yakini bisa mengubah arah masa depan keluarga. Saya ingin menunjukkan bahwa keterbatasan finansial bukanlah batasan bagi seseorang untuk memiliki hak dan kemampuan duduk di kursi perguruan tinggi terbaik bangsa. Saya menolak untuk miskin mimpi.
Ketakutan itu sempat saya kubur dalam-dalam saat memilih FMIPA-M ITB di jalur SNBP. Di setiap sujud, doa-doa terus saya langitkan, berharap keajaiban datang. Sayangnya, takdir punya kejutan tersendiri. Hari pengumuman tiba, dan layar portal berubah menjadi warna merah menyala. Gagal. Respons pertama saya hanyalah senyum getir yang dipaksakan, berusaha sok kuat dan meyakinkan diri bahwa ini bukan jalan satu-satunya. Namun, pertahanan itu runtuh dalam hitungan detik. Tangis saya pecah di meja belajar yang mendadak terasa begitu sesak. Dada saya sakit, dihantam rasa kecewa, marah, dan linglung yang bercampur menjadi satu.
Kakak tidak membiarkan saya larut dalam kesedihan. Dia menarik saya keluar rumah, membawa saya ke sebuah kedai kopi lokal untuk memulihkan diri. Di sana, di antara aroma kafein tempat pelarian terbaik saat itu, saya memutuskan untuk memunguti sisa-sisa semangat yang hancur.
Kegagalan SNBP memaksa saya memutar kemudi secepat mungkin. Sebagai seorang pejuang yang sedang menaruh harapan besar pada verifikasi KIP-Kuliah, fokus saya adalah mencari peluang yang tidak memberatkan finansial orang tua. Beruntung, saya menemukan informasi tentang Seleksi Siswa Unggul (SSU) ITB berbasis Rapor yang membebaskan biaya pendaftaran bagi calon penerima KIPK. Harapan yang sempat redup mendadak menyala kembali. Kesempatan memakai jaket almamater Ganesha belum sepenuhnya tertutup. Kali ini saya memantapkan hati memilih Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK).
Sejak hari itu, perang yang sesungguhnya dimulai. Sembari menunggu proses SSU Rapor, saya harus bertempur di jalur UTBK secara mandiri. Tantangan terbesar dari berjuang dalam kesunyian tanpa mentor adalah merawat motivasi agar tidak cepat jenuh.
Metode drill soal menjadi senjata utama. Berburu bank soal dari segala penjuru; menelusuri unggahan di media sosial X, berselancar di internet, hingga memanfaatkan buku-buku lungsuran dari kakak kelas. Karena belajar di kamar sering membuat fokus saya buyar, Perpustakaan Dispersip Surakarta akhirnya menjadi markas andalan. Hampir setiap hari saya mengurung diri di sana, mengerjakan soal, menganalisis kesalahan, dan mengevaluasi materi ditemani tumpukan kertas coret-coretan.
Menjelang hari H, sebuah kalimat kurang mengenakkan mampir ke telinga. Seorang guru memberi wejangan kepada salah satu saudara saya, "Saudaranya ambil ITB ya? Itu kampusnya susah buat lolos, sebelum-sebelumnya belum ada yang lolos dari sini soalnya."
Mendengar kalimat skeptis dari guru sendiri tidak lagi membuat saya jatuh seperti saat bertemu bapak pengusaha dulu. Mental saya sudah ditempa melalui ribuan soal di ruang sunyi Perpustakaan. Ucapan itu justru saya jadikan bensin tambahan agar kobaran semangat di dada menyala semakin hebat. Saya bertekad untuk mencetak sejarah baru bagi sekolah saya.
Saat hari pengumuman UTBK tiba, warna hijau justru menyambut saya di layar komputer. Saya dinyatakan lulus UTBK, di kampus pilihan lain yang menjadi cadangan saya, bukan di ITB. Hati saya mendadak diliputi rasa yang campur aduk. Ada rasa lega karena saya membuktikan diri mampu menembus ujian nasional ini, tetapi ada ruang hampa di dada karena menyadari mimpi memakai jaket almamater berlambang Ganesha itu masih menggantung tanpa kepastian.
Namun, skenario Tuhan selalu datang tepat waktu. Satu hari setelahnya, pengumuman SSU Rapor ITB dirilis. Ketegangan memuncak. Saya sengaja menghidupkan lagu dari Raim Laode di ponsel. Lirik bernada optimis, “selalu ada pelangi pada setiap mendungnya, setiap derita,” samar-samar terdengar di telinga, seolah berbisik menenangkan detak jantung saya yang berdegup kencang mengiringi jemari saya yang membuka portal pengumuman.
Layar itu berwarna hijau. Tulisan "Selamat" terpampang nyata. Saya lolos di ITB, jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Jurusan yang dulu kerap saya sebut dengan ragu saat ditanya, kini menjadi tempat berlabuh yang nyata. Tuhan tidak memberikan FMIPA-M lewat jalur tertulis, tetapi Dia menggantinya dengan PWK melalui jalur yang menghargai konsistensi nilai rapor saya sejak kelas 10.
Perjalanan ini menjadi bukti nyata bagi saya—dan siapa pun yang pernah meragukan—bahwa ketiadaan suatu fasilitas bukan penentu akhir dari sebuah mimpi, selama keberanian untuk melangkah tetap digenggam erat. Kini, di Bumi Ganesha, saya siap membuktikan bahwa benih yang ditanam dalam keterbatasan pun berhak untuk menancapkan akar dengan kuat, bertumbuh menghadapi badai, hingga akhirnya mekar menjadi salah satu dari putra-putri terbaik bangsa.
