Dari Keringat Orang Tua Menuju impus Impian

Perkenalkan, nama saya Nikita Ardi. Saya merupakan mahasiswa baru Universitas Negeri Makassar (UNM) yang diterima melalui jalur SNBP. Melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi merupakan impian yang telah lama saya perjuangkan. Namun, perjalanan menuju kampus impian tidak selalu berjalan dengan mudah seperti yang saya bayangkan.

Saya berasal dari keluarga sederhana dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saya memiliki dua adik laki-laki yang masih menempuh pendidikan. Bapak saya bekerja sebagai petani dan sesekali menjadi tukang ojek untuk menambah penghasilan keluarga. Sementara itu, Ibu saya berjualan buah di pasar dari pagi hingga menjelang magrib. Penghasilan orang tua saya tidak selalu tetap, tetapi mereka selalu bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anaknya.

Melihat perjuangan Bapak dan Ibu setiap hari membuat saya sadar bahwa pendidikan adalah harapan untuk mengubah masa depan. Karena itu, selama di bangku sekolah saya berusaha belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saya ingin membuktikan bahwa kerja keras dan doa tidak akan sia-sia.

Sejak duduk di bangku sekolah, saya bercita-cita menjadi seorang guru. Bagi saya, menjadi guru berarti dapat berbagi ilmu dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Cita-cita itulah yang membuat saya menjadikan Universitas Negeri Makassar sebagai kampus impian. Saya yakin bahwa diterima di UNM merupakan langkah awal dari impian saya.

Hari yang di nantikan akhirnya tiba, yaitu pengumuman SNBP. Dengan perasaan gugup, saya membuka hasil seleksi, dengan tangan yang gemetar saat menunggu hasilnya muncul di layar. Beberapa detik terasa begitu lama. Ketika tulisan "Selamat! Anda dinyatakan lulus SNBP" akhirnya muncul, saya langsung mengucapkan syukur. Rasanya semua usaha, doa, dan kerja keras yang saya lakukan selama ini akhirnya terbayarkan. Namun, di balik kebahagiaan itu muncul kekhawatiran mengenai biaya kuliah dan kebutuhan hidup selama merantau di Makassar. Saya memahami bahwa kondisi ekonomi keluarga kami bukanlah kondisi yang mudah.

Saya juga tidak ingin hanya bergantung kepada orang tua. Oleh karena itu, sebelum perkuliahan dimulai saya memutuskan berangkat lebih awal ke Makassar untuk bekerja sebagai kasir di sebuah toko. Hingga saat ini, saya telah bekerja selama kurang lebih satu bulan. Itu merupakan pengalaman pertama saya bekerja sekaligus pertama kalinya tinggal jauh dari keluarga. Awalnya saya merasa lelah karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru, dan saat rasa mengeluhku muncul saat itu pula aku teringat dengan anak kecil penjual kue disebrang jalan yg mulai menjual dari pagi hingga 12 siang tampa rasa mengeluh di wajahnya.

Dari pengalaman bekerja tersebut, saya belajar bahwa mencari nafkah bukanlah hal yang mudah. Saya sering teringat kepada Ibu dan bapak tentang bagaimana mereka bekerja mencari nafkah. Saat itulah saya benar-benar memahami bahwa setiap rupiah yang mereka hasilkan diperoleh melalui kerja keras dan pengorbanan. Pengalaman ini membuat saya semakin termotivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar tidak menyia-nyiakan perjuangan mereka.

Kini saya berhasil menapakkan langkah di kampus impian saya, Universitas Negeri Makassar. Bagi saya, perjuangan menuju kampus impian bukan hanya tentang berhasil lolos SNBP, tetapi juga tentang belajar menghargai pengorbanan orang tua, berani menghadapi tantangan, dan terus berusaha meskipun keadaan ekonomi memiliki banyak keterbatasan.

Masa depan tidak ada yang tahu sampai kita menjalaninya. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki jalan perjuangannya masing-masing. Keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Selama kita terus berusaha, berdoa, dan tidak menyerah, selalu ada jalan untuk meraih impian. Kalimat yang paling saya ingat hingga hari ini adalah perkataan kedua orang tua saya, "Walaupun ekonomi kita seperti sekarang, kami akan tetap mengusahakan yang terbaik untukmu dan adik-adikmu." Kini, giliran saya untuk memberikan yang terbaik melalui pendidikan, agar suatu hari nanti saya dapat membanggakan Bapak dan Ibu serta membalas semua pengorbanan mereka.

Tinggalkan Komentar