Dari Pusara Ibu ke Bangku Kuliah: Perjuangan Seorang Anak Menjaga Mimpi yang Tidak Ikut Pergi

Perjuangan masuk perguruan tinggi sering dipahami sebatas cerita tentang belajar keras, mengikuti seleksi nasional, lalu merayakan kelulusan. Dalam narasi umum, jalan menuju kampus terlihat seperti lintasan yang bisa diukur dengan nilai rapor, peringkat kelas, atau hasil ujian. Namun bagi sebagian anak, terutama mereka yang tumbuh dalam bayang-bayang kehilangan, perjalanan menuju bangku kuliah tidak pernah sesederhana itu. Ada kisah yang dibangun dari ruang duka, dari penolakan yang datang bertubi-tubi, dan dari keyakinan yang harus dipelihara meski harapan terasa semakin jauh.

Saya mengenal perjalanan itu bukan dari cerita orang lain, melainkan dari pengalaman hidup sendiri.

Tahun terakhir di bangku SMA seharusnya menjadi masa penuh harapan. Banyak teman sibuk mempersiapkan masa depan, membicarakan kampus impian, dan merancang langkah berikutnya setelah lulus. Pada waktu yang sama, hidup saya justru berubah secara drastis. Sosok ibu yang selama ini menjadi tempat pulang dan sumber kekuatan meninggal dunia. Kehilangan itu meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata.

Kesedihan tersebut terasa semakin berat karena ayah telah lebih dulu pergi sejak tahun 2014. Dalam usia yang masih berusaha memahami arah hidup, saya harus menerima kenyataan bahwa dua sosok paling penting dalam kehidupan telah tiada. Pada titik itu saya mulai mengerti satu kenyataan yang sering dibicarakan banyak orang tetapi baru benar-benar terasa ketika kita mengalaminya sendiri. Hilangnya masa kejayaan orang tua bukan sekadar ungkapan, melainkan realitas yang harus dihadapi oleh anak-anak yang ditinggalkan.

Kehilangan orang tua tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga menghadirkan pertanyaan besar tentang masa depan. Bagaimana melanjutkan pendidikan ketika sumber kekuatan utama sudah tidak ada. Bagaimana menjaga mimpi ketika dunia terasa begitu sunyi.

Meski keadaan terasa berat, mimpi untuk melanjutkan pendidikan tetap saya genggam. Perguruan tinggi bagi saya bukan sekadar tempat menimba ilmu. Ia menjadi simbol harapan bahwa kehidupan bisa terus bergerak maju. Saya mencoba berbagai jalur seleksi yang tersedia dengan keyakinan sederhana bahwa setiap usaha layak diperjuangkan.

Harapan pertama saya titipkan pada seleksi SNMPTN. Seperti banyak siswa lain, saya menunggu pengumuman dengan perasaan campur aduk antara cemas dan berharap. Nama saya tidak muncul dalam daftar kelulusan. Kekecewaan itu masih terasa ketika saya mencoba lagi melalui jalur SBMPTN. Pikiran saya dipenuhi harapan bahwa kesempatan berikutnya akan membawa hasil yang berbeda. Kenyataan kembali berkata lain.

Keinginan untuk mengubah nasib membuat saya mencoba satu pintu lain melalui seleksi Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Bayangan tentang masa depan sebagai abdi negara sempat terlintas dalam pikiran. Harapan itu juga tidak terwujud.

Serangkaian penolakan tersebut terasa seperti menutup semua pintu yang sebelumnya saya bayangkan. Pada masa itu muncul perasaan bahwa mimpi untuk kuliah mungkin harus berhenti di tengah jalan. Bukan karena saya tidak ingin berjuang, tetapi karena keadaan terasa jauh lebih kuat daripada keinginan.

Di tengah keadaan yang hampir mematahkan harapan itu, sebuah kesempatan hadir melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah. Bantuan pendidikan tersebut menjadi jalan yang membuka kemungkinan baru bagi saya untuk melanjutkan pendidikan. Kesempatan itu membawa saya menapaki dunia perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas.

Bangku kuliah yang kini saya duduki bukan sekadar ruang belajar. Ia adalah simbol bahwa harapan kadang muncul dari jalan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Banyak orang melihat kampus sebagai tempat menuntut ilmu, tetapi bagi saya ia juga menjadi ruang untuk menyembuhkan luka, membangun kembali kepercayaan diri, dan menjaga mimpi agar tetap hidup.

Perjalanan kuliah membawa saya pada satu kesadaran yang sangat dalam tentang arti pengorbanan orang tua. Dalam sebuah momen yang tidak pernah saya duga, saya mengetahui bahwa ibu telah menyiapkan asuransi untuk masa depan saya. Sebuah keputusan yang mungkin tidak pernah ia ceritakan semasa hidupnya.

Kesadaran itu menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Seorang ibu yang sudah memikirkan masa depan anaknya bahkan ketika ia sendiri tidak lagi memiliki waktu panjang di dunia. Pengorbanan itu menjadi pengingat bahwa cinta orang tua sering kali bekerja dalam diam, tanpa banyak kata, tanpa menunggu balasan.

Sejak mengetahui hal tersebut, perjuangan saya di bangku kuliah terasa memiliki makna yang lebih dalam. Setiap halaman yang saya baca, setiap tugas yang saya kerjakan, dan setiap langkah yang saya tempuh terasa seperti cara sederhana untuk menghargai cinta yang telah diberikan.

Kini saya sedang menyusun skripsi, tahap akhir dari perjalanan panjang di dunia perkuliahan. Di meja belajar yang sederhana, sering terlintas bayangan ibu yang seolah berjalan melewati ruang itu sambil berkata bahwa saya harus tetap semangat. Kata-kata yang mungkin sederhana, tetapi memiliki kekuatan besar bagi seorang anak yang sedang berjuang.

Perasaan itu juga tergambar dalam sebuah surat yang pernah saya tulis untuk ibu. Surat yang lahir dari rindu yang tidak pernah selesai.

Dalam surat tersebut saya membayangkan diri berdiri di samping pusara ibu sambil bercerita tentang kehidupan yang masih penuh badai. Dunia kadang terasa terlalu keras, tetapi kenangan tentang senyum dan pengorbanan seorang ibu selalu menjadi sumber kekuatan untuk kembali berdiri. Ibu mungkin tidak lagi hadir secara fisik, tetapi kehadirannya tetap hidup melalui doa dan kenangan yang terus menguatkan langkah.

Surat itu juga menyimpan janji yang sederhana namun penuh makna. Saya tidak akan berhenti berjuang. Saya akan terus belajar, terus melangkah, dan terus menjaga mimpi yang pernah kami ceritakan bersama di rumah kecil kami.

Perjuangan masuk kampus sering kali dilihat sebagai kompetisi akademik semata. Padahal bagi banyak anak di negeri ini, perjuangan tersebut juga menyimpan cerita tentang ketahanan hidup, tentang kehilangan yang harus dihadapi, dan tentang mimpi yang tetap dijaga meski keadaan tidak selalu berpihak.

Kisah saya hanyalah satu dari banyak cerita serupa yang mungkin terjadi di berbagai sudut Indonesia. Ada anak-anak yang tetap berjuang meski kehilangan orang tua, ada yang tetap belajar meski keterbatasan ekonomi membayangi, ada pula yang tetap memelihara harapan di tengah kegagalan yang datang berulang.

Perjuangan menuju perguruan tinggi bukan hanya tentang berhasil atau tidaknya seseorang melewati seleksi. Ia juga tentang keberanian untuk tetap melangkah ketika hidup terasa runtuh. Ia tentang keyakinan bahwa mimpi tidak harus ikut mati bersama kehilangan.

Bangku kuliah mungkin hanya sebuah tempat belajar bagi sebagian orang. Bagi saya, ia adalah ruang tempat seorang anak menjaga janji kepada ibunya.

Janji untuk tidak menyerah.
Janji untuk terus melangkah.
Janji untuk membuktikan bahwa cinta seorang ibu tidak pernah sia-sia

 

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.