Inspirasi

(Penulis: Rasya Agustina)

“Masa depan yang cerah tidak pernah dijanjikan pada siapa pun. Kamu harus mengejarnya sendiri.”

Kutipan di atas adalah alasan mengapa aku berjalan sampai sejauh ini. Aku sadar bahwa aku bukanlah seseorang yang memiliki privilege seperti halnya orang lain di luar sana. Oleh karena itu, aku selalu menekankan pada diriku untuk selalu tangguh dalam memperjuangkan mimpi. 

Aku ingin menjadi apoteker. Aku tertarik dengan penyakit-penyakit yang diderita manusia dan juga bagaimana cara pengobatannya. Dari situ, aku mulai memasang target. Aku ingin berkuliah di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. 

Di sekolah, aku mendapatkan beasiswa. Aku tergabung dalam kelas unggulan yang berisi siswa-siswi hebat tentunya. Selain itu, Aku juga bergabung dalam ekstrakurikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja). Dari sini, aku mulai mengikuti lomba-lomba sains dan juga karya ilmiah. Aku juga mendapatkan bimbingan belajar khususnya di bidang kimia dan matematika. Di tengah lingkungan pertemanan yang mendukung, aku yakin bisa merawat mimpiku dan mewujudkannya.

Selama MA ini, aku tinggal di sebuah pondok pesantren, tetapi berbeda yayasan dengan sekolah formalku. Setiap pagi, aku harus mengantri mandi sebelum waktu subuh dilanjutkan dengan kegiatan sholat berjamaah dan mengaji. Sistem mengaji dalam pondok pesantren yang aku tempati berbeda-beda. Kami dibagi kedalam beberapa kelompok dengan guru yang berbeda. Kebetulan, aku terbagi kedalam kelompok mengaji yang bisa dibilang “pulangnya siang” dibandingkan dengan yang lain. Tak jarang, aku harus melewatkan sarapan karena jarak dari pondok pesantren ke sekolah tidak bisa dibilang dekat dan membutuhkan waktu lebih lama karena aku berjalan kaki. Selepas pulang sekolah, aku hanya punya waktu sebentar untuk beristirahat karena harus dilanjutkan pembelajaran di pondok pesantren. Bisa dibilang, aku hanya memiliki waktu belajar, khususnya sekolah formal, itu di malam hari ketika pembelajaran pondok sudah selesai. Hampir setiap malam aku begadang untuk belajar, tidak baik untuk kesehatan memang, tetapi itulah adanya. Tak jarang pula aku ketiduran di luar kamar sampai pagi. Melelahkan memang, tetapi bukankah memperjuangkan mimpi memanglah sulit?

Di samping itu, aku juga berjualan gorengan di sekolah. Setiap jam istirahat, aku berkeliling bersama temanku untuk menawarkan daganganku ke setiap kelas. Tak jarang, aku harus berlarian saat bel masuk berbunyi. Meski sering terlambat, aku bersyukur memiliki guru dan teman yang selalu mendukungku. 

Dari awal kelas 10, aku sudah mencari tahu tentang berbagai jalur masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), mulai dari SNBP, SNBT, dan juga mandiri. Oleh sebab itu, sedari awal aku sudah mengusahan agar nilai raporku tetap stabil dan meningkat. Menjelang kelas 12, aku mulai mempersiapkan SNBT karena aku sadar bahwa kita tidak boleh terlalu berharap di jalur SNBP. Dan benar saja, ketika pengumuman SNBP tiba, aku dinyatakan tidak lolos di universitas dan prodi incaranku. Pilihanku pada saat itu adalah prodi Farmasi Universitas Indonesia di pilihan pertama dan Farmasi Universitas Jenderal Soedirman di pilihan kedua. Pilihan yang tidak realistis, kata kebanyakan orang. Tak sedikit pula orang yang meremehkan pilihanku ini. Meskipun mendapat pandangan seperti itu, aku tetap memilih prodi dan universitas impianku, meskipun risiko yang mungkin terjadi adalah aku akan ditolak. Seperti halnya kata Najwa Shihab, “Kalau mimpimu tidak membuatmu takut, berarti mimpimu kurang besar”.

Setelah melihat kabar kegagalanku di SNBP, aku lebih menguatkan persiapanku untuk jalur SNBT. Aku belajar dengan keras, mengerjakan banyak latihan soal, dan rutin mengerjakan try out. Di fase ini aku banyak mengorbankan waktu tidur. Masih seperti sebelumnya, pilihanku tetap sama. Aku tahu dan bahkan menyadari bahwa prodi yang aku pilih termasuk prodi yang ketat dan banyak peminat. Tapi aku tetap tak gentar. Mimpiku harus kuperjuangkan. Tetap harus kuusahakan meskipun sulit.

Saat pengumuman SNBT tiba, disitu tertulis bahwa aku gagal untuk kedua kalinya. Menangis, kecewa itu pasti, tetapi setelah aku renungi, mungkin memang belum saatnya. Lebih lambat bukan berarti gagal selamanya kan?

Masih belum menyerah, aku mendaftar SIMAK UI. Aku mulai dari awal. Di tengah kesibukanku yang memang sudah bekerja pada saat itu, aku tetap mengusahakan waktu belajarku. Di fase ini aku menyadari bahwa memang prosesnya kurang produktif. Mulai dari jam 7 pagi sampai jam 8 malam aku bekerja, lalu setelahnya belajar untuk ujian mandiri, tubuhku tak sanggup untuk mengerjakan keduanya. Tak jarang aku tertidur karena kelelahan. Dan lagi-lagi, aku gagal. Aku dinyatakan tidak lolos, untuk yang ketiga kalinya.

Mulai saat itu, aku memutuskan untuk gap year. Keputusan yang sulit memang, tetapi aku percaya tidak ada usaha yang akan berakhir sia-sia. Meski gagal berkali-kali, aku harus tetap bangkit dan berjalan kembali mewujudkan mimpi itu, karena pada dasarnya mimpi kita berharga. Aku juga mulai bergabung dalam komunitas belajar Alternatifa, tempat dimana mimpiku dihargai. Di sini aku mendapatkan ilmu-ilmu baru yang selama ini belum aku pahami, teman-teman seperjuangan yang suportif, dan juga mentor-mentor yang selalu menekankan bahwa mimpi kita berharga. 

Perjalananku belum usai, aku belum gagal. Aku sudah melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Aku bangga telah berani mencoba, meskipun hasilnya tak sesuai. Aku bangga karena bisa terus bangkit meskipun sudah jatuh berkali-kali. Terkadang kita harus terbentur terlebih dahulu sebelum terbentuk, bukan? 

Perjalananku baru akan dimulai. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan menamatkan masa gap year ini dengan pengalaman-pengalaman berharga. Aku akan memanfaatkan waktu ini untuk belajar lebih banyak hal. Dan aku berjanji, akan selalu bangkit dari kegagalan dan berjalan menuju impian itu. Kenapa tidak berlari? karena kita sedang tidak berlomba dengan orang lain. Aku percaya bahwa semua orang memiliki timeline nya masing-masing dan yang harus kita lakukan adalah belajar dan berdoa.