oleh : Tarish Agung Setiawan
Suara riuh di suatu warung makan sore itu perlahan memudar, kalah oleh debar jantung yang mendadak tidak beraturan. Di antara gelas-gelas es kopi yang mulai berembun dan tawa teman-teman yang membahas rencana liburan pasca kelulusan, saya justru terpaku pada layar ponsel. Hasil try out online dari sebuah aplikasi belajar baru saja keluar. Angka-angka di bidang Saintek itu terpampang nyata, dingin, dan telak, berantakan. Sebagai siswa kelas 12 MIPA di SMAN 91 Jakarta yang sebentar lagi menghadapi pertaruhan bernama UTBK, skor itu terasa seperti vonis mati. Saya sadar, saya sedang berjalan di lorong yang buntu, memaksakan diri di jalur yang bukan tempat saya tumbuh.
“Mungkin lo harus coba lintas jurusan,” celetuk seorang teman, setelah mengintip sekilas ke layar ponsel saya yang masih menampilkan grafik skor berwarna merah.
Saran itu terasa seperti tamparan sekaligus pelukan yang menyesakkan. Pindah ke rumpun Soshum berarti saya harus membuang semua hafalan rumus fisika, kimia, dan biologi yang saya tekuni selama tiga tahun, lalu mulai membedah sejarah dunia dan struktur sosial dari titik nol. Namun, realitas tidak pernah berbohong. Bertahan di ego MIPA hanya akan mengantarkan saya pada kekalahan yang memalukan. Dalam kepanikan itu, saya mengambil keputusan nekat. Dengan waktu yang hanya tersisa tiga pekan, sebuah durasi yang sangat tidak masuk akal untuk menelan materi tiga tahun IPS, saya memutuskan untuk berbelok arah.
Saya mulai menilik kembali silsilah keluarga, menjadi pendidik seolah sudah menjadi garis tangan yang sulit ditolak. Dengan restu orang tua yang melarang saya merantau jauh dari Jabodetabek, pilihan akhirnya tertuju pada Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Pendidikan Sejarah menjadi pilihan pertama, disusul PPKn di posisi kedua. Jujur saja, ada keraguan yang sering menyelinap. Saya tahu betul bagaimana narasi tentang guru di negeri ini, guru sering dianggap kurang dihargai secara materi. Tapi saat itu, ambisi untuk sekadar punya “tempat berlabuh” dan tidak menjadi pengangguran intelektual jauh lebih besar daripada ketakutan tentang masa depan yang belum terjadi.
Tiga pekan itu menjadi masa di mana saya benar-benar menanggalkan diri saya yang lama. Saya yang biasanya kecanduan game online hingga lupa waktu, mendadak berhenti total. Semua aplikasi permainan di ponsel saya hapus tanpa sisa, sebuah pengorbanan kecil untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Hiburan saya berganti menjadi lembaran kertas kusam dari buku UTBK King atau Wangsit yang saya beli dengan menyisihkan uang saku sedikit demi sedikit. Saya tidak punya kemewahan untuk duduk di ruang kelas bimbel yang sejuk, mendengarkan tutor menjelaskan tips-tips cepat menjawab soal, atau membeli tumpukan modul eksklusif. Senjata saya hanyalah doa, ketekunan yang dipaksakan di sudut kamar, dan harapan besar pada beasiswa KIP-Kuliah agar pendidikan saya kelak tidak menjadi beban baru bagi orang tua.
Setiap malam, ada beban yang lebih berat dari sekadar menghafal tahun-tahun revolusi atau teori sosiologi, rasa minder. Setiap kali teringat kondisi ekonomi keluarga, saya selalu dihantui ketakutan akan adanya tagihan besar yang tak sanggup kami bayar jika saya salah melangkah. Lingkungan saya memang sangat suportif, namun dukungan mereka justru terasa seperti beban moral yang membuat saya takut untuk gagal. Saya seringkali menatap langit-langit kamar, membayangkan bagaimana raut wajah orang tua jika nama saya tidak muncul di layar pengumuman nanti. Ketakutan itu nyata, lebih nyata daripada teori sejarah mana pun yang sedang saya pelajari. Saya belajar dalam kesunyian, berkejaran dengan waktu yang terus berdetak, mencoba menaklukkan gunung materi yang seolah tak habis-habis.
Momen pertama saya menginjakkan kaki di kampus UNJ adalah bersama seorang teman SMA. Kami berdiri di depan sebuah gedung tinggi dengan perpaduan warna merah, hijau, dan krem yang khas. Meski banyak yang bilang kampus ini sering jadi pilihan kedua bagi sebagian orang, bagi saya yang tumbuh besar di Jakarta Timur, gedung itu adalah lambang martabat. Rawamangun mungkin terasa awam bagi orang lain, tapi bagi saya, ia terasa seperti rumah yang sedang menanti untuk dimasuki. Ada kebanggaan yang aneh saat menatap gedung itu, seolah-olah ia berbisik bahwa perjuangan saya tidak akan sia-sia.
Pagi hari saat ujian tiba, dunia terasa berjalan terlalu cepat. Saya terbangun pukul lima pagi dengan rasa tegang yang luar biasa hingga perut terasa melilit. Kegrogian itu bermanifestasi secara fisik; saya bahkan harus bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk membuang hajat sebelum berangkat. Dengan mengandalkan ojek online, saya membelah jalanan Jakarta yang masih lengang, mencoba merapal doa-doa pendek di sepanjang jalan. Saat tiba di lokasi, kepercayaan diri saya sempat goyah melihat ratusan peserta lain yang tampak jauh lebih siap, membawa buku-buku catatan tebal yang tidak saya miliki.
Saat soal-soal mulai muncul di layar komputer, otak saya mendadak blank. Putih. Kosong. Semua hafalan tentang sejarah politik dan teori demokrasi yang saya pelajari selama tiga pekan seolah menguap begitu saja. Dalam kepanikan yang nyaris membuat saya menyerah, saya mencoba mengalihkan pandangan sejenak ke luar jendela ruang ujian. Dari sana, saya kembali melihat gedung-gedung tinggi UNJ yang berdiri kokoh di bawah langit pagi yang cerah. Pemandangan itu seolah menjadi jangkar yang menarik saya kembali ke bumi. “Saya harus ada di sana,” bisik saya dalam hati. Ketenangan itu kembali secara ajaib, dan tangan saya mulai bergerak kembali, mengisi kolom demi kolom pertanyaan dengan sisa keberanian yang ada. Saya berjuang melawan rasa putus asa, mengubah blank menjadi fokus, dan rasa takut menjadi energi untuk menyelesaikan setiap soal hingga detik terakhir.
Hari pengumuman adalah hari yang paling sunyi sekaligus paling bising di kepala saya. Saya duduk di rumah bersama keluarga, menatap layar dengan jantung yang rasanya ingin melompat keluar. Saat jemari saya yang gemetar menekan tombol “Lihat Hasil”, layar berubah dan memunculkan satu kata sakti yang membuat napas saya tercekat: “Lolos”. Ledakan syukur pecah di ruang tamu. Saya dan saudara saya yang ternyata juga berhasil lolos hanya bisa saling pandang dengan mata berkaca-kaca. Segala puasa bermain game, rasa minder karena masalah ekonomi, dan perjuangan nekat lintas jurusan dalam waktu tiga pekan itu akhirnya terbayar lunas.
Sekarang, waktu telah membawa saya ke penghujung masa akademik. Saya yang dulu gemetar menatap layar pengumuman, kini sudah bergelut dengan bab-bab skripsi tentang sejarah politik Indonesia, sebuah topik yang mungkin tidak pernah saya bayangkan saat masih duduk di kelas MIPA dulu. Seringkali saya merasa jenuh dan menyesali banyak hal yang terjadi selama kuliah. Namun, di saat-saat paling rendah itu, saya mencoba mengingat kembali pemuda yang berdiri di depan jendela ruang ujian sambil menahan grogi.
Jika ada satu hal yang ingin saya sampaikan pada diri saya di masa lalu, itu adalah, ‘Terima kasih sudah berani menjadi sejarawan bagi hidupmu sendiri.’ Sejarah bukan sekadar menghafal tanggal jatuhnya sebuah kekuasaan, tapi tentang memahami bahwa setiap keputusan sulit adalah titik balik bagi sebuah peradaban kecil bernama ‘masa depan’. Teruslah belajar dan bersungguh-sungguh, karena sejarah selalu ditulis oleh mereka yang tidak pernah menyerah pada keterbatasan.

Gambar 1. Penulis bersama adik saat mengenakan almamater Universitas Negeri Jakarta. Dokumentasi Pribadi (2023).

