Karya

Terkadang hidup mengubah arah perjalanan kita, tetapi mimpi yang kita jaga tetap menuntun langkah ke tujuan yang sama.

Jakarta, 9 march 2026

Virelia Vinney Virdian

Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Universitas Negeri Jakarta

 

Setiap orang memiliki mimpi tentang masa depan yang ingin mereka capai. Bagi saya, mimpi itu mulai terbentuk sejak duduk di bangku kelas 10, ketika ketertarikan saya terhadap ilmu hukum, politik, dan berbagai aspek kehidupan bernegara mulai tumbuh. Dari ketertarikan tersebut, perlahan lahir sebuah tujuan besar dalam hidup saya: suatu hari saya ingin melanjutkan pendidikan di jurusan Ilmu Hukum Universitas Indonesia.

Mimpi itu tidak berhenti sebagai sekadar angan-angan. Sejak saat itu, saya mulai berusaha mempersiapkan diri dengan lebih serius. Saya berusaha belajar lebih giat, menjaga kestabilan nilai akademik, serta terus meningkatkan pemahaman saya terhadap berbagai mata pelajaran yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan analitis. Setiap proses belajar yang saya jalani bukan hanya tentang mendapatkan nilai yang baik, tetapi juga tentang membangun langkah-langkah kecil menuju cita-cita yang saya impikan.

Memasuki masa akhir sekolah menengah atas, kesempatan untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur SNBP menjadi harapan besar bagi saya. Dengan usaha yang telah saya lakukan selama ini, saya dinyatakan eligible untuk mengikuti jalur tersebut. Bagi saya, hal itu merupakan sebuah pencapaian yang sangat berarti, karena menjadi tanda bahwa perjuangan yang saya lakukan selama ini mulai menunjukkan hasil.

Namun, dalam perjalanan menuju mimpi, tidak semua hal berjalan sesuai dengan rencana. Sekolah saya memiliki kebijakan yang mengharuskan siswa yang mengikuti seleksi SNBP untuk memilih perguruan tinggi yang berada di luar wilayah Jakarta. Keputusan tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi saya, karena sejak awal saya telah memiliki tujuan yang begitu kuat untuk melanjutkan studi di Universitas Indonesia.

Situasi tersebut sempat membuat saya dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Di satu sisi, saya memiliki mimpi yang sangat jelas. Namun di sisi lain, saya juga harus menerima realitas yang ada. Dari pengalaman inilah saya mulai memahami bahwa jalan menuju mimpi tidak selalu lurus seperti yang kita bayangkan. Ada kalanya kita harus melalui rute yang berbeda, menghadapi keadaan yang tidak direncanakan, dan belajar menerima arah baru dalam perjalanan hidup.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil langkah baru dengan memilih jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta. Keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, namun saya menyadari bahwa setiap perjalanan memiliki arah dan waktunya masing-masing. Saya pun akhirnya diterima melalui jalur SNBP, dan saat ini saya resmi menjadi mahasiswa Universitas Negeri Jakarta yang sedang menempuh semester dua.

Bagi saya, kesempatan ini bukanlah sebuah kegagalan, melainkan awal dari perjalanan baru untuk terus berkembang dan memperdalam pemahaman saya tentang hukum, politik, serta nilai-nilai kewarganegaraan. Melalui bidang ilmu yang saya pelajari saat ini, saya tetap memiliki kesempatan untuk memahami berbagai konsep penting mengenai kehidupan bernegara, demokrasi, serta kesadaran hukum dalam masyarakat.

Saya percaya bahwa setiap pengalaman belajar akan menjadi bekal yang sangat berharga untuk masa depan. Dari sinilah saya ingin terus mengembangkan diri, memperluas wawasan, serta membangun kemampuan berpikir kritis agar suatu hari nanti saya dapat berkontribusi secara nyata dalam dunia hukum dan perpolitikan di Indonesia. Bagi saya, mimpi untuk turut terlibat dalam memperjuangkan keadilan dan membangun kehidupan bernegara yang lebih baik tetap menjadi tujuan yang ingin saya capai.

Perjalanan menuju mimpi memang tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana awal. Namun saya belajar bahwa mimpi tidak selalu tentang tempat pertama yang kita tuju, melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah meskipun arah perjalanan berubah.

Karena pada akhirnya, mimpi yang sejati tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu kita untuk terus berjalan, menemukan jalannya sendiri, dan membuktikan bahwa meskipun jalannya berbeda, mimpi itu tetap sama.