Karya

Di bawah langit yang penuh dengan segudang harapan, aku menuliskan impianku didinding hatiku bersama buku – buku yang tidak pernah lelah ku buka. Aku mengejar mimpiku untuk bisa menjadi seorang dokter hebat. Bagiku, kala itu profesi dokter adalah simbol pengabdian dan kepedulian terhadap sesama, alasan itulah yang membuat aku ingin menjadi bagian dari perjuangan mereka dalam membantu orang – orang yang membutuhkan layanan kesehatan.

Aku menghabiskan waktu ku hampir setiap hari hanya untuk belajar, malam – malam panjang aku lewati dengan mata perih dan tangan gemetar memeluk harapanku dengan sekuat tenaga. Tak lupa pula disertai dengan doa yang selalu ku panjatkan setiap hari pada sang pencipta.

Ujian Tulis Berbasis Komputer ( UTBK )

 

Diantara detik – detik yang kian berjalan tanpa henti, ku titipkan harapanku pada setiap hela nafasku yang gugup. Aku bukan hanya sekedar membaca soal ujian, melainkan membaca diriku sendiri diantara layar komputer yang terdapat soal pilihan ganda kala itu sembari mencari arti dari perjuanganku yang senyap tapi membara. Saat itu aku berpegang pada doa yang telah ku langitkan setiap hari dan restu dari kedua orang tuaku. Segala yang ku punya pada hari itu ku letakan dimeja ujian, ilmu, iman, dan sedikit rasa takut yang tidak bisa ku sembunyikan. Namun ketika hasil diumumkan, namaku sama sekali tak menyentuh layar keberhasilan.

Rasanya seperti ditusuk dan mati secara perlahan – lahan, tapi ku rasa itu belum selesai. BELUM. Ada jalur mandiri yang menyisakan ruang mimpiku. Aku mengambil lagi hp ku, membuka website pendaftaran mandiri. Meski hatiku sudah retak. Mandiri, kata orang, penuh tantangan dan biaya, namun yang lebih menakutkan adalah menyerah begitu saja.

Saat waktunya tiba, ku jalani lagi ujian dengan sisa tenaga dan jiwa setengah retak, namun tekadku tetap utuh seperti pagi yang selalu datang. Aku menulis namaku diformulir pendaftaran mandiri dengan harapan yang baru, meskipun aku tahu bahwa tidak semua perjuangan dibayar tunai oleh semesta. Lalu, datang hari itu. Pengumuman. Dan lagi – lagi langit tetap tidak membawa kabar baik. Namaku kembali tertinggal di lorong sunyi bersama ribuan harapanku yang tidak sempat dilihat Tuhan dari dekat.

Air mataku jatuh, tangisku tidak bersuara. Aku kecewa karena aku terlalu mencintai mimpi ini terlalu dalam tanpa menyadari bahwa setiap cinta harus tahu bagaimana rasanya kehilangan. Aku jatuh, aku hancur, aku terluka.  Dengan segala reruntuhan harapan itu, aku bertanya pada diriku sendiri

“Apakah hidup hanya tentang satu jalan?”

Dengan langkah ragu namun dada yang perlahan ikhlas, aku memilih jalur lain. Kali ini bukan kedokteran, bukan universitas tersebut. Bukan kisah yang dulu kutulis dibuku diaryku. Mungkin tahun ini bukan milikku, tapi jalanku masih panjang, hidupku juga harus tetap berjalan seperti semestinya. Aku akan terus berjuang demi kedua orang tuaku dan kakak – kakakku tak peduli meski beribu kali aku jatuh.

Kini aku menempuh jalan yang berbeda, di universitas yang tidak pernah kusangka akan kupijak. Bukan karena aku menyerah, tapi karena aku belajar untuk melihat mimpi dari sudut pandangku yang lebih luas.

Mungkin aku tidak lagi menyembuhkan luka ku, tapi aku berhasil menyembuhkan harapanku yang nyaris patah. Mungkin jalanku berbelok, tapi aku percaya bahwa Tuhan tidak mungkin salah memberi arah. Dan mungkin juga, ditempat yang tidak pernah ku minta inilah aku bisa menemukan versi terbaik dari diriku sendiri. Terimakasih kepada Universitas Muhammadiyah Maluku Utara yang secara sukarela menerimaku sebagai salah satu mahasiswi di kampusmu.

I wish

” Jika kelak Tuhan tidak mengizinkanku untuk menjadi seorang penyembuh luka, maka tolong izinkan aku, dikehidupan selanjutnya, memegang tangan mereka yang butuh harapan dan menyapa dunia dengan jas putih yg kini belum sempat ku pakai “

Ditulis oleh : Miftahuljannah