Tidak semua orang punya jalan mulus menuju kampus. Sebagian teman saya lulus sekolah lalu langsung kuliah. Formulir pendaftaran diisi, pengumuman keluar, hidup berjalan sesuai rencana. Saya sempat mengira hidup saya juga akan seperti itu. Ternyata tidak. Saya lulus dari SMK Negeri 1 Semarang jurusan Teknik Tenaga Listrik. Seperti kebanyakan siswa SMK, pikiran saya waktu itu sederhana. Setelah lulus, saya harus bekerja. Bukan karena saya tidak ingin kuliah, tetapi karena realitas hidup tidak selalu memberi banyak pilihan.
Di rumah, saya melihat sendiri bagaimana orangtua bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu ketika ada kesempatan mengikuti seleksi kerja di sebuah perusahaan tambang, saya memilih mengejarnya dengan serius. Pada saat yang sama sebenarnya saya juga punya peluang mencoba jalur masuk perguruan tinggi, tetapi kesempatan kerja terasa jauh lebih nyata. Bagi saya saat itu, bekerja berarti bisa membantu keluarga. Proses seleksi di perusahaan tersebut tidak mudah. Ada berbagai tes yang harus dilalui. Saya menjalaninya dengan penuh harapan, karena dalam bayangan saya pekerjaan itu bisa menjadi awal kehidupan yang lebih stabil. Tahap demi tahap berhasil saya lewati. Sampai akhirnya saya sampai di tahap terakhir, medical check-up. Saya masih ingat perasaan hari itu. Dalam pikiran saya, semuanya hampir selesai. Tinggal satu langkah lagi dan saya mungkin sudah resmi menjadi calon operator di perusahaan tambang tersebut.
Namun hidup sering kali berubah hanya dalam satu hari. Hasil pemeriksaan kesehatan menyatakan saya tidak memenuhi kualifikasi yang ditetapkan perusahaan. Sederhana, satu kalimat saja.Tetapi bagi saya saat itu, kalimat itu terasa seperti menutup semua rencana yang sudah saya susun sejak lama. Saya pulang dengan perasaan kosong. Rasanya seperti berdiri di tengah jalan tanpa tahu harus melangkah ke mana lagi. Lamaran kerja saya kirimkan ke berbagai tempat, tetapi tidak banyak yang membuahkan hasil. Untuk beberapa waktu, saya menjalani hari-hari tanpa arah yang jelas.
Akhirnya saya mendapatkan pekerjaan melalui bantuan seorang kenalan keluarga. Hidup kembali berjalan seperti biasa. Saya bekerja setiap hari, menerima gaji setiap bulan, dan menjalani rutinitas yang sama seperti kebanyakan orang. Dari luar semuanya terlihat baik-baik saja. Namun di dalam diri saya muncul satu pertanyaan yang terus berulang. Apakah hidup saya akan berhenti sampai di sini? Pertanyaan itu terus mengganggu pikiran saya. Saya mulai memikirkan kembali sesuatu yang dulu pernah saya tunda: kuliah. Keputusan untuk mencoba kuliah bukan keputusan yang mudah. Saya harus berhenti dari pekerjaan yang sudah memberikan penghasilan dan memulai sesuatu yang belum tentu berhasil. Tetapi saya memutuskan mengambil risiko itu. Saya mulai merintis usaha kecil-kecilan sambil mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Usaha itu tidak selalu berjalan lancar. Ada hari ketika saya mendapatkan keuntungan, tetapi ada juga hari ketika saya harus menutup usaha dengan kerugian.
Dari situ saya belajar banyak hal tentang hidup. Tentang risiko, tentang ketidakpastian, dan tentang bagaimana tetap berdiri meskipun rencana tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Dengan harapan baru, saya mengikuti UTBK dan mencoba mendaftar ke Universitas Gadjah Mada dengan jurusan Manajemen. Itu adalah kampus yang sejak lama saya bayangkan sebagai tujuan. Hari pengumuman tiba, dengan tangan gemetar saya membuka laman pengumuman. Namun nama saya tidak ada di sana. Sekali lagi hidup saya berjalan tidak sesuai rencana. Namun tidak lama setelah itu saya menerima kabar lain. Saya diterima di Universitas Negeri Semarang dengan jurusan Manajemen. Jujur saja, awalnya perasaan saya campur aduk. Ada rasa kecewa karena tidak masuk kampus yang saya impikan sejak awal. Tetapi juga ada rasa syukur karena akhirnya saya benar-benar mendapatkan kesempatan untuk kuliah. Seiring waktu saya mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan.
Kampus impian ternyata tidak selalu berarti kampus yang sejak awal kita kejar. Kadang kampus impian adalah tempat yang kita temukan setelah berbagai rencana gagal. Hari ini saya belajar di Universitas Negeri Semarang, tempat yang dulu bahkan tidak pernah saya bayangkan sebagai tujuan utama. Justru di tempat inilah saya memahami bahwa pendidikan bukan sekadar tentang nama besar kampus, tetapi tentang kesempatan untuk tumbuh dan memperbaiki arah hidup. Jika dulu saya lolos medical check-up itu, mungkin hari ini saya sudah bekerja sebagai operator tambang, bukan mahasiswa. Dan mungkin saya tidak pernah mengetahui bahwa kegagalan yang saya alami waktu itu ternyata bukan akhir dari perjalanan, melainkan pintu menuju jalan hidup yang sama sekali berbeda. Saya pernah hampir tidak kuliah. Justru dari jalan yang berliku itulah saya akhirnya sampai di tempat yang sekarang saya sebut sebagai kampus impian.
Ditulis oleh : Sri Aji Ongkowi

