Karya

Banyak mimpi terlahir dari sebuah kamar yang sunyi. Banyak pula mimpi yang lahir diiringi kegigihan yang penuh ambisi. Begitu pula mimpi itu lahir di kamarku. Sebuah mimpi yang kian lama kian membuat aku bersemangat untuk mengejarnya. Perkenalkan, namaku Monalisa. Seorang perempuan yang berhasil meraih bangku di perguruan tinggi. Perjalanan ini tidak mudah karena di balik setiap langkah yang aku tempuh terdapat banyak sekali usaha dan doa di dalamnya, termasuk secarik doa yang selalu orang tuaku langitkan setiap saatnya.

Sedari masih duduk di bangku SMP, aku sudah bermimpi untuk menjadi seorang dokter. Menurutku yang kala itu masih duduk di bangku SMP, profesi dokter adalah sesuatu yang sangat mulia dan akan ia raih meskipun di dalam benak nya ia tahu itu akan jadi perjalanan yang sangat sulit. Setelah mimpi itu lahir, aku pun memberanikan diri untuk bercerita pada ibuku. Respon ibuku tentu saja mendukung segala mimpiku, mimpi manis yang terucap dari seorang gadis SMP yang masih polos. Setelah mengantongi dukungan dari ibu, aku pun membuat rencana mengenai pendidikanku untuk kedepannya dan yang paling terdekat adalah SMA mana yang harus aku pilih untuk memudahkan jalan ku menuju fakultas kedokteran.

Di masa SMP, aku sudah membuat semua rencana dengan matang tetapi ia hanya gadis polos yang mengira segala sesuatu akan berjalan dengan sangat mudah sesuai perkiraannya. Ia pikir dengan segala usaha dan belajar yang telah ia lakukan sudah cukup untuk membuatnya di terima di SMA favorit pilihannya. Kenyataan pahitnya, aku harus menerima penolakan. Ya, betul. Aku tidak diterima di SMA pilihanku. Perasaan ku sangat kacau, mulai dari rasa sedih, takut, kesal, dan gagal. Namun, ibuku bilang, mungkin memang tempat yang aku pilih bukan tempat terbaik untukku. Semuanya terasa sulit pada saat itu, aku banyak sekali menangis dan meratapi rencana masa depan yang yang sudah aku buat tetapi aku bangkit. Aku berpikir itu bukanlah akhir dari segalanya.

Tiga tahun aku habiskan di SMA yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terlintas di benakku. Tiga tahun yang ternyata menyimpan begitu banyak makna. Benar kata banyak orang, masa SMA adalah masa yang sangat indah dan tak terlupakan. Terdapat banyak sekali suka dan duka di dalamnya termasuk perjalananku menuju bangku perguruan tinggi. Bagiku, kelas 12 adalah puncak dari semuanya. Pada saat itu banyak sekali ketakutan yang terlintas di benakku. Perihal bagaimana jika aku gagal masuk perguruan tinggi negeri? Bagaimana jika aku semakin menyulitkan ibu dan ayah? Serta bagaimana jika setelah lulus SMA nanti aku tidak menjadi apapun? Pertanyaan itu terus terputar dan aku kesulitan juga bingung harus seperti apa.

Aku bukanlah seorang jenius ataupun seseorang yang sering mengikuti perlombaan. Selama tiga tahun di SMA, aku hanya melakukan apa yang aku suka. Dimulai dari mengikuti organisasi dan ekstrakurikuler hingga menghabiskan banyak waktu dengan teman-teman. Tanpa kusadari, aku terlena akan kebahagiaan yang aku dapatkan itu. Akibatnya, pada saat kelas 12 dimulai, aku kewalahan. Aku memutuskan untuk bercerita pada ibuku bahwa aku membutuhkan belajar tambahan. Awalnya ibu dan kakak ku menolak keras permintaan ku. Namun aku tidak menyerah, aku merayu ibu agar keinginanku tercapai. Pada akhirnya, ibu mengalah. Bagaimana pun ibu adalah seseorang dengan hati yang lembut, yang akan selalu berusaha memenuhi keinginan anaknya.

Sampailah pada akhirnya aku berhasil di daftarkan di sebuah tempat belajar tambahan terbaik di kotaku. Namun, ada hal yang membuatku merasa sedih, merasa bahwa diriku ini tak lebih dari seseorang yang egois dan menyusahkan orang tua. Bagaimanapun juga, belajar tambahan tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terlebih aku berasal dari keluarga dengan 5 bersaudara, tentu itu bukan sesuatu yang mudah bagi ibu dan ayah untuk memenuhi semua kebutuhan kami. Maka dari situ, aku bertekad penuh, aku akan memanfaatkan peluang itu dan berusaha keras agar aku bisa membuktikan pada ibu dan ayah bahwa aku bisa.

Di tempat belajar tambahan, aku sangat bersyukur di pertemukan dengan teman-teman yang sangat baik dan membawa energi positif. Mereka mau dan berbaik hati untuk berteman dan belajar bersama-sama. Kami hanya sekumpulan remaja dengan mimpi yang sama yaitu mimpi untuk meraih bangku di perguruan tinggi negeri. Sembari aku belajar untuk mempersiapkan diri mengikuti UTBK, aku juga berkesempatan mengikuti SNBP. Namun, itu tidak berakhir dengan baik. Untuk SNBP, aku memilih Fakultas Kedokteran Gigi. Aku memberanikan diri untuk memilih jurusan itu hanya bermodalkan nekat, tanpa melampirkan prestasi apapun. Hanya niat yang tulus dan gigih serta doa ibu dan ayahku.

Namun, sudah aku bilang bukan, perjalanan kali ini tidak akan mudah. Aku dinyatakan tidak diterima. Tentu saja aku menangis, merasa kesal dan bertanya-tanya mengapa aku selalu gagal. Segala pikiran buruk langsung menghantuiku sore itu tetapi lagi dan lagi, aku bangkit. Aku menghapus air mataku dan memfokuskan tujuanku pada satu kesempatan yang tersisa yakni UTBK.

Aku berdoa sepenuh hati pada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa tersisa UTBK inilah jalan ku agar bisa berkuliah. Orang tuaku bisa saja mendaftarkanku ke PTS ataupun jalu Mandiri tetapi aku tidak menginginkan itu. Bukan karena stigma PTN lebih bagus dari pada PTS. Namun, aku punya janji kepada diriku sendiri, janji kepada ibuku bahwa dari belajar tambahan yang aku ikuti ini akan menghasilkan sesuatu yang manis. Aku sudah berjanji dan aku akan berusaha keras untuk memenuhi janji tersebut.

Aku menghabiskan malam demi malam untuk belajar, berlatih banyak soal setiap harinya yang tak jarang membuatku pusing dan mual karena terasa begitu sulit. Banyak sekali tangis ku yang tumpah dalam proses belajar ini karena aku merasa aku tidak berkembang. Nilai try out yang kudapatkan selalu kurang dan tidak melebihi passing grade, serta banyak sekali kebingungan pada saat menjawab soal-soal yang ada. Waktu makan dan tidur sudah pasti akan banyak terkorbankan tapi aku pikir itu adalah harga yang harus aku bayar untuk meraih bangku perguruan tinggi yang aku inginkan. Aku tidak ingin kalah. Setidaknya, tidak untuk  kali ini. Maka dari itu, aku pun meminta kepada Dia yang pasti akan membantuku. Aku berdoa, mengangkat kedua tanganku dan bersujud dengan penuh kepasrahan. Aku juga meminta doa pada kedua orang tuaku yang sedang menjalankann ibadah di Tanah Suci tersebut. Dengan segala kerendahan hati, hal terakhir yang bisa kulakukan adalah meminta kepada Tuhan YME dan doa tulus dari kedua orang tuaku.

Saat kedua orang tuaku pulang, ibu langsung masuk ke kamarku dan membisikkan satu kalimat manis kepadaku yang masih setengah tertidur. Ibuku bilang bahwa ia sudah mendoakanku di sana dan berharao semoga Allah SWT kabulkan doanya. Bukan hanya ibuku, ayahku pun melakukan hal yang sama. Menurutku, itu adalah memori yang sangat manis, dimana usaha yang kulakukan adalah menaklukan dunia dan usaha yang dilakukan ibu dan ayahku adalah merayu Yang Maha Pengasih dan Pemurah melalui doa-doa yang mereka panjatkan.

Pada hari pelaksanaan UTBK, aku pun di antar oleh kedua orang tuaku. Segala hal yang aku pelajari sudah aku berikan semampuku, selanjutnya adalah kuasa dari Yang Maha Kuasa. Hari-hari setelah ujian kujalani dengan penuh harap, pemikiran positif dan doa lalu tibalah masanya. Hari pengumuman UTBK.

Aku membuka pengumuman bersama Ibu, aku dinyatakan lolos. Namun, ada sekelibat raut kecewa di mata Ibu yang bisa aku tangkap. Ya, aku gagal menjadi mahasiswa kedokteran dan berhasil lolos menjadi mahasiswa fisioterapi. Aku paham kenapa ibuku kecewa karena nyatanya, mimpiku ini adalah gabungan dari mimpi ibu yang sudah lama terkubur. Dengan perasaan bersalah, aku meminta maaf kepada ibu tapi ibu bilang tidak apa-apa karena aku sudah melakukan yang terbaik. Kabar aku diterima melalui UTBK tersebar ke telinga ayah dan kakakku.

Malam harinya, perasaanku bercampur aduk, tentu aku senang dinyatakan lolos UTBK dengan usaha kerasku dan berhasil menyelesaikan janjiku kepada Ibu. Namun di sisi lain, dokter adalah mimpiku sedari SMP, tidak mudah bagiku untuk menerima nya. Ayah bertanya padaku, apakah aku ingin mencoba kembali tes melalui jalur Mandiri tetapi aku dengan keras menolak. Aku tidak mau semakin menyulitkan.

Pada akhirnya, aku belajar menerima takdir yang datang padaku ini. Bagaimana pun ini adalah jawaban dari Tuhan atas segala doa yang aku dan kedua orang tuaku selalu langitkan setiap saatnya. Pada dasarnya, aku hanya butuh waktu untuk bersedih, kini aku bahagia dengan apa yang aku dapat. Aku menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk yang sama dengan apa yang kita impikan. Aku juga meyakini, apa yang aku dapatkan sekarang tak luput dari segala usaha dan doa yang aku dan kedua orang tuaku langitkan. Perjalanan yang dimulai dari sebuah kamar yang sunyi, hingga perjalanan yang penuh akan air mata dan harapan. Tak lupa secarik doa  dari kedua orang tuaku yang berhasil menembus langit, yang terdengan begitu tuls dan berhasil merayu-Nya.

Kisah ini bukan hanya sebatas kisah perjuanganku untuk mendapatkan bangku di perguruan tinggi. Namun, ini juga mengenai proses menerima kenyataan atas apa yang sebenarnya tidak pernah terlintas di dalam benakku. Perjuangan ini mengajarkanku mengenai bagaimana usaha dan doa adalah satu paket istimewa yang tidak akan mengkhianati hasil. Serta perjuangan ini juga mengenai bahwa tidak apa-apa untuk merasa takut dan lemah karena itu adalah hal yang manusiawi. Namun, satu yang tidak boleh dilakukan adalah berhenti berusaha dan menyerah akan keadaan. Aku percaya, di mana ada sebuah usaha jujur dan gigih diiringi secarik doa yang tulus, di situlah mimpimu pun akan datang kepadamu selangkah demi selangkah. Ini adalah kisahku yang akan selalu aku kenang, terima kasih sudah berkenan membaca hingga akhir, jangan menyerah dan teruslah semangat.

Ditulis oleh : Monalisa

Note : Dokumentasi ini di ambil oleh Penulis dan untuk wajah di blur demi kenyamanan bersama. Mohon Pengertiannya.