Karya

Dulu, kalau ditanya mau kuliah di mana, jawaban saya cuma satu dan tidak bisa diganggu gugat: Teknik Sipil ITS. Nama besar kampus perjuangan di Surabaya itu sudah jadi obsesi. Saya sudah membayangkan pakai jaket himpunan, berkutat dengan maket jembatan, dan menghitung kekuatan beton di sana. Persiapan? Jangan ditanya. Buku latihan soal sudah habis dilahap, doa sudah kencang, dan ekspektasi sudah setinggi langit. Tapi ternyata, pengumuman seleksi berkata lain. Layar monitor yang saya harapkan berwarna biru atau hijau tanda lolos, justru menampilkan kalimat penolakan yang dingin. Rasanya? Patah hati paling hebat yang pernah saya rasakan. Ternyata, tiket menuju Sukolilo bukan milik saya tahun ini.

Belok Arah ke Sidoarjo

Setelah fase “berkabung” berlalu, realita menuntut saya untuk segera bangkit. Hidup tidak berhenti hanya karena satu pintu tertutup. Di tengah kebimbangan itu, pandangan saya beralih ke Sidoarjo, tepatnya di Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA).

Bukan cuma kampusnya yang ganti, jurusannya pun ikut bergeser. Dari yang tadinya ingin membangun infrastruktur di Teknik Sipil, saya justru “terdampar” di Teknik Industri. Awalnya ada keraguan besar: “Bisa gak ya? Cocok gak ya? Ini kan jauh banget dari rencana awal.”

Menemukan “Rumah” di Teknik Industri

Namun, setelah mulai menjalani hari-hari sebagai mahasiswa UMAHA, pandangan saya perlahan berubah. Ternyata, Teknik Industri itu seru dengan caranya sendiri. Kalau di Sipil saya belajar membangun benda mati, di Industri saya belajar membangun sistem yang hidup. Saya belajar tentang efisiensi, manajemen, hingga bagaimana mengoptimalkan peran manusia di dalam industri.

Saya mulai sadar bahwa kualitas seorang mahasiswa tidak melulu ditentukan oleh nama besar universitasnya, tapi oleh seberapa besar rasa lapar dia akan ilmu di mana pun dia berpijak. Di UMAHA, saya tetap bisa aktif, tetap bisa belajar AutoCAD, bahkan mulai mengeksplorasi dunia desain kreatif di luar jam kuliah.

Berdamai dengan Keadaan

Memang benar kata orang, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi kita akan selalu mendapatkan apa yang kita butuhkan. Mungkin kalau saya dipaksakan masuk Sipil ITS, saya tidak akan punya kesempatan untuk mengenal dunia teknik industri yang ternyata sangat fleksibel dan luas cakupannya.

Sekarang, kalau saya lewat di depan gerbang ITS, rasa sedih itu sudah hilang. Digantikan dengan senyuman karena saya bangga dengan diri saya yang sekarang. Saya adalah mahasiswa Teknik Industri UMAHA, dan saya siap membuktikan bahwa sukses itu tidak punya alamat tunggal. Ia bisa tumbuh di Surabaya, dan ia bisa sangat subur di Sidoarjo.

Kapalnya boleh beda, tapi kamulah kapten yang menentukan ke mana kapal itu akan berlabuh.

Nama     : Shavalia Ramadhani

Kampus & Jurusan : Universitas Ma’arif Hasyim Latif & Teknik Industri