2022 menjadi titik awal perjalanan hidup yang tak pernah terlupakan. Saat itu, saya duduk di kelas 3 SMK Keperawatan dengan perasaan bingung yang amat sangat. Ke mana harus melangkah setelah lulus? Pertanyaan itu terus menghantui setiap malam. Dengan penuh harap, orang tua saya menyuruh untuk memohon kepada guru agar dapat terdaftar dalam program KIP dan mengikuti jalur SNBT atau jalur rapor. Dua pilihan kuliah pun saya ajukan: Universitas Padjadjaran jurusan Keperawatan sebagai pilihan pertama, dan Universitas Pendidikan Indonesia sebagai pilihan kedua.Hari-hari penantian terasa begitu panjang. Dan ketika pengumuman tiba, hati saya hancur berkeping-keping. Saya dinyatakan tidak lolos. Enam puluh persen semangat hidup saya runtuh di hari itu.Namun, kegagalan bukan akhir segalanya. Saya mencoba mendaftar di kampus swasta. Pikiran saya waktu itu sederhana: “Pasti masuk kalau swasta.” Namun, izin dari orang tua menjadi tantangan tersendiri. Ayah saya berkata, ” Sok we kuliah mah, tapi kudu mantuan biaya bari gawé. Jujur, Pa tos teu sanggup.”Terjemahannya kurang lebih: “Silakan kalau mau kuliah, tapi harus membantu biaya sambil kerja. Jujur, Ayah sudah tua, sudah tidak sanggup. Pemasukan berkurang, adik-adikmu masih banyak dan kecil-kecil. Satu SMA, satu SMP swasta plus pesantren. Terbayang bukan biayanya?”
Saya pun memohon sambil menangis di hadapan orang tua, berjanji akan bekerja sambil kuliah. Akhirnya, mereka mengizinkan. Saya pun lolos dan mulai menjadi mahasiswa di STIKep PPNI Jawa Barat jurusan Keperawatan pada tahun 2022.Bayangkan, di minggu pertama Ospek, saat teman-teman baru bersenang-senang berkeliling mal, saya justru bolak-balik terlambat karena harus menghadiri wawancara kerja. Gadis 19 tahun itu rela menerjang hujan di malam hari, lalu paginya tetap mengikuti Ospek dengan mental baja. Prinsip saya sederhana: “Kalau bukan diri sendiri yang mengubah, siapa lagi?”Bahkan di hari terakhir LDKO, saat satu angkatan bersiap berfoto bersama, saya harus izin pulang lebih awal karena ada wawancara kerja. Hasilnya? Tidak lolos. Saya terus mencoba, mengikuti berbagai kegiatan volunteer untuk menambah uang saku. Di semester 1, saat UAS tiba, saya nekat izin seminggu untuk bekerja sebagai medis event. Uang sebesar 1,2 juta memang cukup besar bagi saya. Tapi apa lacur, uang itu langsung dipinjam Ibu untuk membayar kebutuhan adik di pesantren. Berat, sungguh berat rasanya. Menabung untuk diri sendiri saja terasa mustahil.
Memasuki semester 3, pekerjaan Ayah menurun drastis. Warung sepi, toko sepi. Sementara dua adik di pesantren harus dikirimi uang setiap bulan. Belum lagi hutang di BRI dan Pegadaian yang digunakan untuk biaya awal kuliah saya. Jujur, kuliah saya ini modal nekat.Di tengah kesibukan ujian, Ibu menelpon dengan kabar yang mengiris hati. “Udah jangan lanjut kuliah, nikah aja. Ada duda kaya, beda 10 tahun. Nanti dikasih rumah dan mobil.” Tiga hari saya menangis, bingung, bahkan tidak mau makan. Bibi lah yang akhirnya berbicara pada Mamah. “Jangan menjodohkan, kasihan anaknya, dia lagi semangat-semangatnya.” Alhamdulillah, perjodohan itu batal.Saya semakin aktif di organisasi kampus. Saya sadar, untuk mendapatkan sesuatu, saya harus berusaha dua kali lipat lebih keras dari mereka yang berlatar belakang mapan. Menjadi model, muse makeup, even crew, volunteer bencana medis—semua saya jalani di semester 3 hingga 5. Personal branding yang saya bangun akhirnya membuahkan hasil. Di semester 6, saya mendapatkan beasiswa hafal Juz 30. Dari 700 pendaftar, hanya 113 orang yang diterima, dan saya salah satunya! Beasiswa 5 juta per bulan sangat meringankan, meski UKT 10 juta tetap harus ditutup orang tua dengan meminjam ke bank.
Bulan Ramadhan menjadi ujian tersendiri. Sering kali saya tidak sempat buka puasa di waktu yang tepat. Kadang jam 11 malam baru pulang, sendirian, bermodal Google Maps menyusuri jalan sepi dan gelap. Takut? Pasti. Tapi bagaimana lagi? Butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari. Satu mobil tergadai, satu motor tergadai, satu motor lagi terjual. Dan yang paling menyayat hati, saat saya skripsi dan biaya penelitian membengkak, tabungan haji Ayah terpaksa diambil. Hutang di bank masih tersisa 50 juta. Belum lagi insiden emas tetangga yang dipinjam Ibu untuk membayar UKT. Belum genap 6 hari, suaminya marah-marah, membentak, merendahkan orang tua saya. Saya menjual HP dan menggadai laptop untuk menebus emas itu. Ibu mengembalikannya dengan mata bengkak, hati hancur. Surat yang diberikan tetangga itu sangat menampar: “Makanya jangan kuliah kalau tidak mampu! Merepotkan rumah tangga orang lain saja!”Saya ingin menyerah, tapi justru kata-kata itu yang membuat saya semakin maju. Saya harus membuktikan bahwa saya bisa kuliah dan meraih gelar S1. Alhamdulillah, saya lulus di semester 7, lebih cepat dari 3,5 tahun. Seharusnya saya lanjut profesi, karena S1 Keperawatan tidak bisa bekerja tanpa STR. Namun, untuk makan besok saja masih harus berpikir, apalagi biaya profesi. Setiap ada uang job 200 ribu atau bahkan receh 10 ribu, selalu saya berikan ke Ibu untuk kebutuhan sehari-hari: air, listrik, wifi, gas, bayar hutang BRI, dan Pegadaian.Sekarang saya sedang giat melamar pekerjaan. Masih banyak ditolak, doakan ya semoga segera lolos, agar bisa mengembalikan barang-barang yang tergadai demi pendidikan saya
Mungkin ini terasa lebih seperti menulis kisah perjuangan meraih gelar S1. Memang, ini bukan cerita tentang berhasil masuk ke kampus impian. Tapi, aku bersyukur bisa menyusun rangkaian kejadian yang aku alami beberapa tahun ke belakang. Selama ini, aku belum pernah menceritakan kisahku kepada teman atau sahabat terdekat. Aku takut mereka akan menganggapku lemah atau berpikir aku hanya menjual kesedihan. Tapi intinya, inilah kisahku—perjuangan meraih gelar. Ibarat kata, kepala kujadikan kaki, kaki kujadikan kepala. Sakit dan beratnya terasa sekali. Tapi ya, aku bisa melewati semuanya dengan baik. Berkat bantuan Tuhan dan keluarga—yang meskipun sering menjadi tekanan bagiku, mereka tetaplah support system yang tulus.Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Jangan pernah menyerah dengan keadaan, dan percayalah bahwa jika sesuatu yang kita inginkan terjadi, maka bersyukurlah. Namun, jika takdir berkata lain, tetaplah menerima dengan lapang dada.
Ditulis Oleh: Nenden Desipa

