Kampus Swasta

Langit Bogor cerah di siang itu, seolah ingin menyapa semangatku yang mulai meredup. Duduk di depan layar laptop, aku menanti pengumuman hasil ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Jantungku berdebar kencang, menyerupai irama drum yang menggema di telingaku. Ingatan akan perjuangan panjangku sejak kelas 12 menghantui pikiranku. Tekanan dari segala penjuru, dari orang tua yang berharap aku bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit hingga ambisi diri sendiri untuk membuktikan kemampuan, membuatku berjuang tanpa henti.

Setiap malam, kamarku menjadi medan perang, buku-buku berserakan, catatan memenuhi setiap sudut, dan camilan sebagai teman setia melawan kantuk. Aku bergabung dengan klub belajar, berharap melatih kemampuan berpikir. Di sana, kami berdiskusi tentang berbagai topik, mengerjakan soal-soal bersama, dan saling memotivasi untuk meraih mimpi. Teman-temanku selalu menyemangatiku, mengajakku bersantai sejenak, dan mengingatkan bahwa aku tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Mimpi itu, Institut Pertanian Bogor (IPB), kampus impianku, berkibar begitu indah di benakku. Aku membayangkan diriku belajar di sana, bertemu dengan para dosen yang ahli di bidangnya, dan menjalani kehidupan kampus yang penuh tantangan dan inspirasi. Aku membayangkan berjalan-jalan di sekitar kampus yang hijau, menikmati suasana asri di tengah hiruk pikuk kota Bogor. Saat mencoba jalur SNBP, aku memilih Komunikasi Digital Media sebagai pilihan pertama dan Agribisnis sebagai pilihan kedua. Namun, hasilnya nihil, aku tidak diterima di kampus Impianku. 

Kekecewaan mendalam menyelimuti saat mencoba jalur UTBK-SNBT dengan pilihan yang sama. Institut Pertanian Bogor (IPB) kembali mengecewakanku. Air mata mengalir, menyertai rasa hampa yang menggelayuti hati. Aku merasa semua usahaku sia-sia. Ibu-ku berkata, “Kamu harus tetap semangat, Nak,” suaranya lembut namun penuh kekuatan. Dengan tekad baru, aku mencoba jalur kedinasan di Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD). Berlatih keras untuk lolos, tetapi gagal di tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). 

Kekecewaan menyelimuti, namun aku tetap teguh pada prinsipku yaitu tidak boleh menyerah. Aku mencoba jalur mandiri di beberapa PTN favorit seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan Universitas Indonesia (UI). Semua berakhir dengan kekecewaan. Aku merasa semua usahaku sia-sia. Apakah aku tidak pantas meraih mimpi ini? Apakah aku tidak cukup pintar? Rasa itu menghantuiku, membuatku merasa terpuruk.

Sempat terlintas untuk menyerah, aku lelah berjuang dan merasakan kekecewaan. Aku mulai mencari-cari Perguruan Tinggi Swasta (PTS), mencoba melupakan mimpi besar yang dulu begitu membara. Aku mendaftar ke Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), berharap menemukan harapan baru. Namun, tiba-tiba, seolah ada setitik cahaya yang menerobos kegelapan di tengah keputusasaan. Aku menemukan informasi bahwa Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) masih membuka pendaftaran mandiri prestasi di bulan Agustus, ketika banyak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sudah menutup pendaftaran. 

Kesempatan kedua ini memberi dorongan semangat. Aku segera mendaftar dengan memanfaatkan prestasi olimpiade nasional yang aku miliki dan memilih empat prodi yaitu Teknik Industri, Ilmu Hukum, Akuntansi, dan Pendidikan Masyarakat. Hari-hari berlalu penuh harap dan kekhawatiran. Pengumuman administrasi keluar, aku dinyatakan lolos. Kemudian, aku menjalani tahap wawancara dengan rasa cemas dan deg-degan menunggu hasil akhir. Alhamdulillah, aku dinyatakan lolos di Teknik Industri. Aku bersyukur bisa lolos di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), walaupun bukan kampus impianku. Namun, aku memiliki prinsip bahwa meskipun tidak masuk kampus impian, aku harus tetap masuk ke PTN.

Perjuangan ini mengajarkanku banyak hal. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, justru dari kegagalan kita bisa belajar dan menjadi lebih kuat. Aku belajar untuk tidak menyerah pada mimpi, bahkan ketika jalan yang dilalui penuh rintangan. Aku juga belajar untuk menghargai setiap kesempatan yang diberikan, sekalipun itu bukan apa yang kita harapkan. Perjuangan ini telah membentukku menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi tantangan.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus Singaperbangsa, aku disambut oleh suasana para mahasiswa yang terlihat bersemangat dan ramah. Kehidupan di kampus sangat dinamis dengan banyak kegiatan menarik. Aku berharap bisa belajar banyak hal di kampus ini, mengembangkan potensi diri, dan menjadikan diriku sebagai pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kini, aku menapaki hari-hariku di Universitas Singaperbangsa Karawang, kampus yang mungkin tak pernah kuharapkan sebelumnya. Perjuanganku belum usai, tetapi dengan semangat pantang menyerah, aku yakin tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk digapai.