Kampus Swasta

oleh : Marisa Ade Syahfitri

Hiduplah seakan kamu akan mati besok, belajarlah seakan kamu hidup selamanya.” – Mahatma Gandhi. 

Sebagai anak pertama, aku adalah harapan pertama dari orangtua, dan sebagai anak pertama aku adalah pelajaran pertama bagi keluarga. Aku, Marisa Ade Syahfitri merupakan anak perempuan pertama dari tiga bersaudara, umurku 20 tahun, aku lahir pada tanggal 27 November 2003. Di umurku yang menjelang 21 tahun ini aku banyak sekali mengambil pelajaran hidup, salah satu yang paling penting dari sekian banyak pelajaran hidup ini adalah tentang pendidikan.

Tahun 2021 adalah tahun terakhirku di sekolah tingkat menengah atas, yang artinya aku duduk di kelas 12. Selama tiga tahun bersekolah, aku selalu mendapat juara pertama dikelasku. Bukan hanya tiga tahun, dimulai sejak aku kelas 5 SD hingga kelas 12 MAN aku selalu menjadi juara satu, yang disebut paralel bahkan juara umum di sekolah. Aku anak yang suka belajar, merasa bertanggung jawab atas setiap tugas-tugas sekolahku, dan mempunyai rasa ingin tahu, tapi tanpa ku sadari aku telah lalai dan membuat suatu kesalahan.

Di akhir semester kelas 12, ditengah kesibukan tugas-tugas akhir sekolah dan ujian akhir sekolah, di tengah huru hara berisiknya tentang SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di antara siswa-siswi, aku menjadi salah satu yang tidak terlalu bersemangat diantara siswa-siswi tersebut. Hal itu semenjak salah satu temanku bertanya kepadaku “Marisa, kamu ingin lanjut ke universitas mana?” lalu aku menjawab “aku belum tahu.” Teman-teman ku sebagian dari mereka telah memiliki tujuannya masing-masing dan bersemangat hingga berdoa supaya mereka bisa lulus di tempat yang ingin mereka tuju.

Suatu malam, aku merenung panjang tentang kemana aku akan melangkah selanjutnya, aku benar-benar tidak tahu apa yang aku ingin lakukan selanjutnya, bahkan terlintas di pikiranku “apa aku sebaiknya tidak kuliah saja sampai aku benar-benar yakin apa yang akan aku lakukan selanjutnya” begitulah isi benak ku pada saat itu, namun aku memikirkan hal lain, aku terlalu memikirkan reputasi ku sebagai anak yang pintar dan rajin disekolah, lantas jika guru-guru dan teman-teman bertanya apa yang harus aku jawab “mereka pasti akan mengomentariku” pikirku saat itu. 

Aku memutuskan untuk ikut SNMPTN aku mengambil program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Andalas. Keputusan ini aku ambil dengan setengah hati, karena aku masih ragu ingin benar-benar lanjut atau tidak, tapi di satu sisi aku juga memang ingin lanjut di Universitas ini. Pada tanggal 22 Maret 2021 pukul 15.00 merupakan pengumuman SNMPTN, hal yang mendebarkan bagi seluruh siswa-siswi di Indonesia yang mengikuti SNMPTN, termasuk aku yang sudah menunggu hingga akhirnya tepat pukul 15.00 WIB, aku langsung membuka situs website pengumuman dan akhirnya aku mendapat ucapan selamat dinyatakan lulus di program studi dan universitas negeri yang aku tuju. Masih bisa aku bayangkan betapa bahagia nya aku pada saat itu, sontak berteriak dan memberi tahu kedua orangtuaku bahwa aku lulus, mereka menciumku dan bahagia untukku.

Agustus 2021, aku sudah masuk di bangku perkuliahan yaitu sebagai mahasiswa baru, waktu itu aku mengikuti segala rangkaian kegiatan kampus mulai dari kegiatan ospek hingga beberapa kegiatan lainnya secara daring atau online, karena pada saat itu COVID-19 masih melanda dan marak di Indonesia sehingga segala kegiatan dilakukan jarak jauh, atau bahkan hybrid (konsep yang menggabungkan kegiatan secara daring atau online dan tatap muka). 

Ditengah-tengah kesibukan kegiatan kampus sebagai mahasiwa baru, aku benar-benar tidak menyangka aku tertekan, emosiku tidak stabil, setiap malam setelah mengikuti kegiatan kampus secara online aku menangis dalam diam, aku menahan suara tangisku hingga tak terdengar oleh siapapun orang dirumahku, aku merasa sangat lelah, aku benar-benar lelah padahal ayah berkata kepadaku “apapun akan ayah lakukan asal kamu bisa berkuliah dan belajar dengan baik, ayah siap mempertaruhkan nyawa asal anak ayah bisa mencapai cita-citanya”. Aku selalu terpikir oleh itu, di saat aku menangis “andai ayah ibu dan keluarga ku tahu, aku tidak sekuat itu, aku kali ini benar-benar merasa lelah aku benar-benar ingin beristirahat dari semuanya” sampai akhirnya di suatu malam, aku memberitahu orangtuaku bahwa aku telah berhenti kuliah, aku telah keluar dari semua grup kelas, aku benar-benar berhenti. Keputusan yang tidak disangka oleh orangtuaku dan bahkan diriku. 

Malam itu aku benar-benar mengecewakan orangtuaku, semua orang yang menaruh harapan padaku. Aku benar-benar berada di titik terendahku. Aku menyesal kenapa aku lebih mengutamakan egoku dibanding memikirkan dampak dari hal yang aku lakukan, aku seharusnya mengikuti kata hatiku sejak awal untuk tidak melanjutkan kuliah terlebih dahulu, aku harusnya memikirkannya dengan matang jauh sebelum semua tentang perkuliahan ini menyerang pikiranku. Aku sadar ternyata aku benar-benar tidak siap, ternyata keteguhan hati dan niat sepenuh hati itu perlu.

Dua tahun aku menyesali perbuatanku sejak aku memutuskan untuk berhenti kuliah pada September 2021 hingga pada tahun 2022. Keadaan ku tidak baik, aku membelenggu diriku dirumah, sepanjang tahun sepanjang hari sepanjang waktu aku hanya di kamar, aku menghapus semua kontak teman-temanku, aku tidak keluar rumah aku berhenti bergaul, hubunganku dengan orangtuaku juga kurang baik semenjak aku mengecewakan keduanya, aku sangat mengerti aku sangat tau aku salah, aku telah meruntuhkan kepercayaan orangtuaku, sampai aku berniat untuk bunuh diri. Aku benar-benar frustasi memotong rambut panjangku sambil menangis terisak, aku kacau. Dua tahun aku merenung dan merefleksikan diri. Aku tidak berniat untuk kuliah lagi, aku bahkan tidak punya gairah dan semangat untuk belajar lagi. Terkadang ibuku menangis melihat ku yang mengurung diri dan frustasi, sampai dia datang kepadaku, “ibu akan mendukungmu dimanapun kamu ingin melanjutkan kuliah lagi.”

Setelah masa perenunganku selama dua tahun, hatiku tergerak untuk melanjutkan kuliah lagi, tapi kali ini di tempat yang berbeda dan di program studi yang berbeda. Kali ini aku telah benar-benar meyakinkan diriku, berdiskusi panjang dan beberapa kali dengan orangtuaku. Selama dua tahun aku mengunci diriku, aku kadang-kadang berkomunikasi dengan teman-teman virtual yang aku jumpai di media sosial, saling bertukar cerita, saling support satu sama lain, sampai suatu malam salah satu teman virtualku berkata “semangat ya, better late than never (lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali)” disitu aku menangis, hatiku tergerak aku harus kembali belajar walau tidak seperti dulu, setidaknya aku tidak akan pernah berhenti belajar.

Pada tahun 2023 aku memutuskan untuk mendaftar di salah satu kampus swasta, “Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Yayasan Syekh Hamzah Fansuri” aku mengambil program studi Agribisnis, mulai berkuliah sejak September 2023 hingga saat ini aku sudah menyelesaikan dua semester dan akan memasuki semester baru. Aku bersyukur, aku sedikit tidak terbiasa dengan tugas-tugas di perkuliahan ini karena selama dua tahun menganggur yang ku lakukan hanyalah berdiam diri menangis seperti tidak ada secerca harapan untukku dalam meraih gelar itu. Aku membiasakan diriku dengan belajar lagi, aku membiasakan diriku bergaul dengan teman-teman kampus, walau terkadang dalam benakku teman-teman angkatan ku sudah menjadi mahasiswa semester akhir. Sementara aku, ya disinilah aku, tapi dengan begitu aku tidak terlalu sedih lagi, karena sejatinya tidak ada batasan usia dalam belajar dan menuntut ilmu itu.

“… I was so ahead of the curve, the curve became a sphere, feel behind all my classmates, and i ended up here… i just wanted you to know that this is me trying, i just wanted you to know that this is me trying, at least i’m trying …”

Penggalan lirik lagu diatas merupakan penggalan lirik lagu dari salah satu lagu Taylor Swift, yang berjudul “this is me trying” ini sangat menggambarkan kisahku, lirik tersebut mengambarkan tentang seseorang yang berada di garis terdepan di antara orang-orang, namun ternyata keadaan  berbalik seseorang tersebut menjadi yang paling terbelakang dan tertinggal diantara orang-orang lainnya, namun seseorang tersebut menyadari akan kesalahannya dan mencoba memperbaiki keadaan dengan kembali mencoba. Terkadang aku menangis mendengarnya, dan lagu ini juga menjadi motivasiku untuk kembali semangat lagi dalam belajar, setidaknya aku akan mencoba lagi, aku tidak berhenti.

Nyatanya, tidak semua orang punya punya cita-cita, tidak semua orang tahu jalan mana yang akan dituju. Tapi yang pasti, semua orang ingin berhasil dan sukses. Begitupun aku, aku beruntung menjadi anak pertama, aku menjadi pelajaran pertama dikeluargaku, dan bagi adik-adikku, aku bersyukur akan hal itu. Kegagalan bukan menjadi penghalang untukku dalam kembali memulai, setiap orang melakukan kesalahan, begitupun diriku.

“Learning starts with failure, the first failure is the beginning of education.” (Belajar dimulai dari kesalahan, kegagalan pertama adalah awal dari pendidikan). – John Hersey. 

“Anyone who has never made a mistake has never tried anything new.” (Siapa pun yang tidak pernah membuat kesalahan, tidak akan pernah mencoba suatu yang baru). – Albert Einstein.

Jangan pernah berhenti belajar, sekalipun kamu pernah melakukan kesalahan jangan pernah berniat untuk tidak akan pernah kembali memulai, kesempatan yang sama tidak datang dua kali itu memang benar, tapi kesempatan yang lainnya akan datang jika kita ingin mencoba, semangat lah dalam meraih masa depan, semangat lah dalam meraih kampus impian, tidak ada yang sia-sia dari sebuah pengalaman dan kegagalan. Teruslah berusaha dan berdoa, bangkitkan gairah untuk menjemput kesuksesan itu! “never stop learning never stop growing” hidup penuh dengan perjuangan, semangat.