Kampus Swasta

oleh : Dinda Alifah Khairunnisa

 Universitas adalah tingkatan sekolah yang lebih tinggi setelah menempuh pendidikan di SMA selama tiga tahun lamanya. Berbeda dari sekolah, faktanya, universitas memiliki beragam jurusan. Seperti Teknik, Kedokteran, Hukum, Perikanan, Kehutanan, dan lain sebagainya. Persaingannya pun bukan hanya dengan siswa lain yang satu kota lagi, tetapi bersaing dengan siswa seluruh Indonesia. Maka dari itu, banyak siswa yang akhirnya gugur dan memilih alternatif lain yaitu universitas swasta yang tak kalah unggulnya.

   Seperti kisah seorang siswi asal Bandung yang kerap dipanggil Khai. Ia perlu berjuang selama dua tahun untuk masuk universitas. Di tahun pertama, Khai  tidak cukup puas atas hasil yang diperolehnya. Ia ditolak oleh tiga universitas di jalur yang berbeda. Tetapi saat itu Khai sadar diri karena itu murni kesalahannya. Ia kurang meluangkan waktunya untuk belajar karena jadwal kelas dua belas yang saat itu sangat padat.

   Cita-cita Khai adalah menjadi seorang Psikiater. Untuk meraih mimpi tersebut, Khai memilih untuk menunda satu tahunnya untuk berkuliah, atau anak-anak masa kini memanggilnya dengan sebutan gapyear. Enggan menerima penolakan lagi, ia memilih mendaftarkan dirinya ke salah satu bimbingan belajar terbaik di Indonesia yang mencetak banyak siswa masuk universitas pilihan mereka.

   Banyak yang terjadi selama satu tahun penundaan itu. Khai tidak jarang menerima penekanan dari keluarga besarnya karena pilihannya tersebut. Sisi baiknya adalah Khai menemukan teman-teman baru di tempat bimbingan belajarnya, dari sana juga banyak inspirasi atau motivasi yang tumbuh seiring berjalannya waktu menuju UTBK kali keduanya.

   Sayang sekali, banyak kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Khai harus menelan  perih-perih penolakan, rencananya untuk masuk universitas impiannya harus ia pendam. Ia gagal dalam jalur tes manapun. Hal itu menyebabkan banyak pro dan kontra lagi dalalm keluarganya, salah satunya pilihan antara mengulang satu tahun lagi atau terpaksa memilih swasta. Khai berulang kali meminta kepada orang tuanya agar ia diizinkan mengambil pilihan semigap, mengambil kampus swasta namun tahun depan tetap mengikuti UTBK terakhirnya. Tetapi orang tua Khai menolak saran itu dan hanya memberikan dua pilihan— yang tak lama kemudian kian menyempit menjadi satu-satunya pilihan—yaitu salah satu universitas swasta di Bandung.

   Dengan berat hati, Khai mengiyakan pilihan tersebut meskipun jauh di dalam lubuk hatinya ia masih ingin memperjuangkan universitas negeri impiannya. Berikut salah satu perkataan Ibunda Khai yang cukup mengharukan, “Udah, Kak. Mungkin memang PTN bukan rezeki kamu, tolong ikhaskan saja, ya?”

   Hanya ada satu pilihan yang tersisa, mau tidak mau, nyaman tidak nyaman, Khai harus menerimanya. Sebab inilah proses hidup yang sebenarnya, kegagalan adalah satu langkah menuju kesuksesan. Mungkin butuh waktu untuk menerima kegagalan, tetapi harus yakin setelah itu akan ada kebahagiaan yang menyambut kita nantinya.

   Masuk universitas swasta bukan sebuah kesalahan, juga gagal masuk universitas negeri bukan suatu kehendak yang bisa kita atur sesuka kita. Usaha keras jika tidak diiringi dengan takdir ya kami sebagai manusia biasa apa boleh buat? Jadi, siapapun kamu yang sedang menyalahkan dirimu sendiri karena gagal, tidak usah buru-buru, nikmati kesedihanmu. Tapi, setelah itu harus bangkit. Ingat, dunia masih akan tetap berputar, banyak kesuksesan lain yang menunggumu di depan. Karena itu, jangan berhenti berjuang sampai akhir tujuan.