Kampus Swasta

Perkenalkan nama saya Ni Made Dwi indrayani. Mahasiswa Politeknik Negeri Bali. Berikut adalah kisah saya dalam mencapai kampus saya yang saat ini, dimana pada akhirnya sangat memotivasi saya.

Saat aku duduk di bangku SMA, aku memiliki mimpi besar untuk menjadi seorang perawat. Bagiku, dunia kesehatan adalah panggilan jiwa, dan aku selalu ingin bisa membantu banyak orang dengan menjadi seorang perawat yang berdedikasi. Saat itu, aku masuk dalam kategori siswa “eligible”, di mana aku bisa mendaftar tanpa tes ke universitas impianku, Universitas Udayana. Dengan penuh semangat, aku mendaftarkan diri di jalur pertama, yaitu SNBP. Jurusan Keperawatan menjadi pilihanku yang pertama, sementara pilihan kedua jatuh pada Jurusan Kesehatan Masyarakat. Kedua jurusan ini sejalan dengan kecintaanku pada bidang kesehatan.

Menunggu pengumuman SNBP terasa seperti menunggu hujan di tengah musim kemarau. Sambil menunggu hasil, aku tetap giat belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi jalur SNBT, jika nantinya aku tidak diterima di jalur SNBP. Namun, ketika pengumuman tiba, hatiku terasa remuk. Aku tidak lulus di jalur tersebut. Meski kecewa, aku tidak menyerah. Aku segera mendaftar di jalur SNBT dengan jurusan yang sama dan universitas yang sama pula.

Selain menjadi perawat, aku juga memiliki mimpi lain yaitu menjadi taruni di Politeknik Imigrasi (Poltekim). Oleh karena itu, sambil menunggu hasil SNBT, aku melanjutkan belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi tes SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) untuk pendaftaran kedinasan Poltekim. Aku pun mempersiapkan semua berkas yang dibutuhkan. Ketika pengumuman tahap pertama untuk seleksi berkas keluar, aku lulus! Aku sangat bahagia dan segera mengabarkan berita baik ini kepada orang tuaku.

Tes SKD berlangsung di kantor pusat BKN wilayah Bali, dan aku merasa sangat percaya diri saat menjawab soal-soalnya. Sayangnya, ketika skor keluar, aku belum berhasil lolos ke tahap berikutnya. Meskipun kecewa, aku tidak putus asa. Aku tahu aku bisa mencoba lagi di tahun depan. Hari demi hari berlalu hingga tiba saat pengumuman SNBT. Sore itu, aku sangat cemas. Rasa takut dan pikiran negatif menguasai diriku. Ketika hasilnya keluar, hatiku kembali hancur. Aku lagi-lagi tidak lolos.

Banyak orang di sekitarku menyarankan agar aku mencoba mengikuti seleksi mandiri. Namun, aku harus mempertimbangkan berbagai hal, terutama biaya awal yang cukup tinggi. Untuk masuk ke jurusan impianku, aku harus membayar puluhan juta, di luar Uang Kuliah Tunggal (UKT). Aku tidak tega membebani orang tuaku dengan biaya sebesar itu. Malam itu, aku memikirkan alternatif lain. Jurusan apa yang masih bisa aku pilih selain Keperawatan? Aku terus mencari informasi tentang kampus negeri mana yang masih membuka pendaftaran jalur mandiri. Akhirnya, aku menemukan Politeknik Negeri Bali, sebuah kampus vokasi yang pendaftarannya masih dibuka untuk jurusan Manajemen Bisnis.

Dengan rasa syukur yang mendalam, aku langsung mendaftar, meskipun saat itu tinggal dua hari sebelum penutupan pendaftaran. Aku merasa sangat beruntung bisa menemukan kesempatan ini. Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku tidak terlalu fokus belajar karena waktu yang sangat sempit. Namun, aku yakin pada diriku sendiri, dan percaya bahwa aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

Ketika pengumuman keluar, aku diterima di Politeknik Negeri Bali. Kebahagiaan yang kurasakan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Semua perjuangan, kegagalan, dan pengorbanan selama ini akhirnya berbuah manis.

Motivasi:

Dalam hidup, kegagalan adalah bagian dari proses. Terkadang, jalan yang kita pilih tidak selalu lurus dan mulus. Namun, ketekunan, kerja keras, dan keyakinan pada diri sendiri adalah kunci untuk mencapai impian. Jangan pernah menyerah pada kegagalan. Setiap kegagalan adalah pelajaran, setiap pengorbanan adalah langkah menuju sukses. Teruslah berusaha dan percaya bahwa pintu yang lebih baik akan selalu terbuka bagi mereka yang tidak pernah berhenti mencoba. Aku telah membuktikannya, dan kamu juga bisa!