Oleh: Yuniar Dwi Setiawati
Seluruh dunia lumpuh sejak pandemi covid-19 melanda Indonesia. Perekonomian ambruk dan masyarakat sulit untuk hidup dengan pengharapan yang pasti. Saya yang saat itu sedang merintis usaha pun mendadak kaget, karena usaha tersebut tidak mampu berjalan stabil. Disitulah, saya mulai tergugah untuk melanjutkan pendidikan lagi dengan tujuan mengisi otak agar tidak kosong, meski usia tidak lagi muda.
Saya ingat, saat itu saya bertemu dengan teman-teman dari Universitas Terbuka. Kampus tersebut sempat saya pandang remeh beberapa waktu lamanya. Ah, kampus abal-abal itu, pikir saya. Padahal, kampus tersebut adalah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang resmi terdaftar di Kementerian Riset, Teknologi dan Informasi. Biaya kuliahnya pun sangat ramah di kantong dengan sistem pembelajaran jarak jauh yang menjadi unggulan sejak sebelum pandemi covid-19 hadir. Justru, ketika Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terhambat dengan sistem pembelajaran tatap muka, Universitas Terbuka menjadi pilihan terbaik bagi mereka untuk tetap melanjutkan pendidikan.
Usia saya kala itu memang tidak muda ketika masuk untuk menempuh jurusan Ilmu Komunikasi. Menariknya, saya tidak merasa malu diledek oleh teman-teman yang kebanyakan usianya di bawah saya, karena memang saya bisa kuliah tanpa ada mereka di sekitar saya. Ya, mereka hanya sebatas ada di ruang diskusi yang sifatnya maya. Dosen pun begitu, tidak ada dosen yang karena ketidaksukaannya dengan mahasiswa lantas tega memberi nilai ‘merah’ kepada anak didiknya. Saya akui, dosen di Universitas Terbuka sangat obyektif dalam menilai sesuai dengan kemampuan mahasiswa.
Universitas Terbuka juga menawarkan sistem kuliah dengan waktu yang sangat fleksibel, sehingga saya tidak perlu meninggalkan usaha yang saya rintis tersebut. Buku mata kuliah yang dikirim via ekspedisi, bisa saya bawa kemana saja untuk saya pelajari ketika saya bosan mengerjakan tugas di rumah. Jika saya terlalu keberatan membawa buku-bukunya yang tebal, saya pun memanfaatkan e-book yang juga sudah tersedia di perpustakaan digital. Menjalani kuliah seperti ini, saya akhirnya bertobat untuk tidak lagi menganggap Universitas Terbuka sebagai kampus abal-abal, sekalipun saya tahu bahwa untuk lulus S1, mahasiswa tidak perlu mengerjakan skripsi dan cukup jurnal ilmiah saja. Jika ditanya, adakah 3 kata yang mampu menggambarkan perasaan saya ketika berkuliah di Universitas Terbuka? Saya pun menjawabnya demikian, “simpel, fleksibel dan bermutu.”
Soal usia, jujur saya akui bahwa saat itu saya sudah menginjak usia 30 tahun saat menempuh jurusan Ilmu Komunikasi. Usia yang sejak tadi saya katakan dengan terang-terangan ‘sudah tidak muda lagi.’ Bahkan, rata-rata pada usia segitu, seseorang sudah mencapai kestabilan ekonomi yang secara tak langsung bisa dikatakan mapan. Lagipula, usia segitu dengan posisi saya yang dulunya sudah pernah kuliah S1 terkesan dianggap aneh. Mengapa harus S1 lagi? Bukankah enak kalau langsung melanjutkan S2? Banyak orang yang mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya dengan keputusan yang saya ambil. Mereka tak habis pikir melihat saya yang seakan banting setir dengan mengambil jurusan lain yang bertolak-belakang dengan jurusan sebelumnya.
Menanggapi hal tersebut di atas, tentu ada hubungannya dengan usia. Bagi saya, menjalani usia yang tidak muda lagi memang membuat saya akhirnya merefleksi diri: bagaimana saya ingin merajut masa depan dan sebagai apa nanti saya ingin dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tidaklah mungkin saya kuliah tanpa sebuah motivasi. Jika saya asal-asalan mengambil jurusan, pasti saya akan kehabisan waktu, energi dan juga uang. Bukankah hal tersebut jauh lebih konyol? Keputusan banting setir dari jurusan yang berbeda dengan yang sebelumnya memang sudah saya pikirkan matang. Sebelumnya, saya mengambil jurusan teologi kependetaan, sedangkan saya mengenal diri saya lebih cocok di dunia literasi.
Selama ini saya berprofesi sebagai penulis, dan ditambah lagi usaha yang saya rintis adalah jasa penerbitan buku. Jadi mengapa tidak saya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi yang saya rasa lebih pas? Saya tekuni dari jenjang S1 pun tak apa, supaya nanti S2-nya saya bisa teruskan, sehingga gelarnya linear alias tidak bervariasi. Syukur bisa terpilih jadi dosen. Lagipula, ilmu komunikasi juga saya rasa bisa membekali saya dan mendukung apa yang saya kerjakan selama ini. Dimanakah letak kesalahannya?
Bukankah justru tambah gila, apabila saya yang merasa terpanggil memajukan dunia literasi, harus pusing dengan urusan kehidupan umat yang kompleks? Keputusan banting setir mengambil jurusan lain pun membuat saya sempat latihan untuk berdamai dengan diri sendiri. Di depan cermin, saya seringkali memandangi diri dan berkata, “tidak apa-apa jika kamu tidak menjadi pendeta dan membina umat di Gereja. Kamu berharga dengan versimu sekarang. Kamu adalah creative writer sekaligus writerpreneur!”
Kesimpulannya, berapapun usia kita, pendidikan harus diperjuangan. Baik melalui Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan apapun jurusannya, hal itu tidak seharusnya menjadi masalah besar. Karya kita sebagai anak bangsa itulah yang justru dinantikan karena bangsa ini semakin kesini akan terus maju. Mari kita ingat tema Hari Ulang Tahun Indonesia ke-79, “Nusantara Baru, Indonesia Maju.” Jika Indonesia maju, mengapa kita cenderung berpikir mundur dan sulit untuk move on dari masa lalu? Masa lalu biarlah berlalu. Namun, masa depan ada di tangan kita. Keputusan kita hari ini akan menentukan masa depan kita. Sudahkah keputusan yang kita ambil setiap hari bijak? Renungkanlah.

