Kampus Swasta

Halo semuanya, perkenalkan nama aku Championi Lona Geosastra Sinaga atau biasa dipanggil Oni. Saat ini aku adalah mahasiswa baru di Universitas Sumatera Utara (USU). Tentunya, bukan perjalanan yang mudah untuk bisa duduk di bangku USU ini.

Perjuangan ini dimulai ketika aku, seorang siswa yang penuh harapan, memutuskan untuk mengejar mimpi masuk ke PTN. Sejak awal aku tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tapi dengan semangat dan tekad yang tinggi, aku siap menghadapi semua tantangan yang ada. Setiap hari adalah medan pertempuran dan musuh tebesarku adalah diriku sendiri yang dibarengi dengan rasa malas, rasa takut, dan ketidakpastian. Aku harus melawan itu semua dengan tekad yang kuat. 

Oh iya iya teman-teman aku adalah lulusan dari SMA SW. RK Bintang Timur Pematangsiantar. Sekolahku adalah sekolah yang cukup ketat dengan peraturan dan kedisplinan, yang dimana juga salah satu syarat kelulusannya adalah menyelesaikan sebuah  Karya Tulis Ilmiah (KTI). Menjadi siswa kelas 12 jurusan IPA di SMA ini cukup berat karena sembari menyiapkan KTI, juga harus menyelesaikan tugas sekolah, les sore di sekolah dan les tambahan di luar sekolah dan persiapan ujian sekolah.  By the way aku les tambahan di luar sekolah di Ruangguru. Selama berbulan-bulan, aku menghabiskan waktu belajar tanpa henti. Ada saat-saat dimana aku merasa sangat lelah dan hampir menyerah, namun setiap kali rasa itu muncul, aku ingatkan diriku bahwa tidak ada hasil yang bisa dicapai tanpa perjuangan.

Pada tanggal 26 Maret 2024 pengumuman SNBP tiba yang dimana aku juga tepatnya  akan meja hijau (sidang) KTI. Aku selalu berdoa, “apapun yang terjadi, rencana-Mulah paling indah Tuhan”. Ternyata hasil pengumuman sudah keluar sebelum aku dipanggil untuk sidang dan ya, jodohku bukan di teknik pangan. Tentunya aku menangis dan berpikir, “Tuhan keknya ga mau kalo perjuanganku hanya sebatas ini, Dia pengen lihat aku lebih berjuang lagi”. Disitu aku mencoba untuk menenangkan diri karena sebentar lagi aku akan dipanggil untuk sidang KTI. Puji Tuhan sidangnya berjalan dengan lancar dan aku dinyatakan lulus.

Setelah hari itu aku dinyatakan tidak lulus SNBP, jiwa belajarku semakin meronta-ronta. Aku mengorbankan banyak hal untuk fokus pada jalur SNBT lagi. Aku selalu pulang malam karena harus les tambahan di luar sekolah. Sesampai di rumah aku try out online lagi dari berbagai sumber. Rasa frustasi kadang menghampiri ketika hasil try out tidak sesuai harapan. Namun, aku terus memaksa diriku bangkit, karena aku tahu perjuangan ini belum selesai. Setiap hari aku berdoa kepada Tuhan, bahwa rencana Tuhan jauh lebih indah.

Namun, di sisi lain aku bingung lagi memilih jurusanku, apakah aku harus tetap mengambil jurusanku di perkuliahan dengan jurusan IPA atau IPS?. Akhirnya setelah berdebat dengan pikiran yang cukup lama, aku memutukan untuk lintas jurusan. Pada saat pendaftaran SNBT ada  4 jurusan yang aku pilih, yaitu pilihan 1 jurusan Ilmu Komunikasi (S1) di USU, pilihan 2 jurusan Administrasi Publik (S1) di USU, plihan 3 jurusan Pengelolaan Perhotelan (D4) di UDAYANA dan pilihan 4 jurusan Bahasa Inggris (D3) di USU.

Ketika hari ujian tiba, aku tahu inilah momen yang menentukan. Semua yang telah kupelajari dan semua kerja keras yang kulakukan selama ini akan diuji. Dengan penuh keberanian, aku menghadapi ujian tersebut, memberikan yang terbaik dari diriku. Waktu menunggu hasil seleksi adalah saat-saat penuh kecemasan. Aku berusaha tetap tenang dan berdoa agar perjuanganku tidak sia-sia. Dan ketika pengumuman itu akhirnya datang, aku membukanya dengan penuh rasa khawatir dan Puji Tuhan aku teriak bahwa aku LULUS pilihan 2 jurusan Ilmu Adminitrasi Publik di USU. Rasanya seperti beban besar yang akhirnya terangkat. Semua rasa lelah, sakit dan pengorbanan yang telah aku lakukan terbayarkan. 

Kini, aku berada di PTN yang dulu hanya ada dalam anganku. Setiap langkah di kampus ini adalah pengingat akan perjuanganku. Perjalanan ini mengajarkanku banyak hal tentang ketekunan, keyakinan dan pentingnya dukungan dari orang-orang tercinta. Aku tahu, ini baru awal dari perjalanan yang lebih panjang, tapi aku siap menghadapi setiap tantangan berikutnya dengan semangat yang sama.

Perjuangan ini mengajarkanku bahwa tidak ada yang mustahil jika kita memiliki tekad yang kuat. Mimpi besar membutuhkan kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk terus maju, meski jalan di depan terlihat sulit. Dan ketika kita tidak menyerah, pada akhirnya kita akan sampai di tempat yang kita impikan.