Jalan yang Tidak Ada Dipikiranku, Tapi Ternyata Paling Kubutuhkan
Kisah Perjuangan Meraih Masa Depan
Oleh Anindhithia Zahira Puspita
Hai, namaku Anindhithia Zahira Puspita atau kerap disapa Anin. Sejak duduk di bangku SMA, ada satu mimpi yang selalu kupegang erat yaitu masuk sekolah kedinasan. Mimpi ini muncul atas dorongan orang tua serta lingkunganku yang sangat pro dengan sekolah kedinasan. Aku mulai menyiapkan segalanya, mulai dari materi, kondisi fisik, sampai mental. Setiap pulang sekolah aku gunakan untuk latihan fisik, setiap malam aku habiskan untuk belajar, dan setiap akhir pekan kupakai untuk latihan soal.
Saat itu yang aku pikirkan hanya ada satu jalan menuju masa depan yaitu dengan masuknya aku di sekolah kedinasan. Namun tidak bisa dipungkiri hidup punya cara sendiri untuk mengajari kita tentang rencana yang tidak selalu berjalan mulus. Di tengah proses itu, namaku ternyata muncul di daftar siswa eligible SNBP, sebuah kesempatan emas masuk perguruan tinggi lewat jalur prestasi yang mana kesempatan ini hanya dating sekali seumur hidup. Aku senang tapi juga bimbang, pikiranku saat itu masih tertuju pada sekolah kedinasan.
Setelah berdiskusi panjang dengan guru BK dan kedua orang tua, aku memutuskan untuk mendaftar. Hari demi hari berlansung, tibalah di hari pengumuman ternyata namaku tidak ada di sana. Saat itu aku hanya bisa menatap layar pengumuman dan berkata dalam hati “apakah artinya aku harus mengejar sekolah kedinasan”. Orang tuaku tidak pernah berhenti mendukung. Mereka selalu menyemangatiku untuk selalu mencoba semua jalur yang ada, baik kedinasan ataupun perguruan tinggi.
Seperti yang aku pegang sejak awal di bangku SMA, aku ingin masuk sekolah kedinasan. Tetapi orang tuaku ternyata mendukung aku dari sisi manapun. Mereka menyemangatiku untuk ikut SNBT, jalur masuk perguruan tinggi berbasis tes. Aku pun mencoba SNBT dengan pilihan program studi idealisku yaitu Psikologi. Sebelum masuk SMA, program studi ini sering aku sebut sebagai salah satu jurusan impianku, tetapi hatiku goyah setelah duduk di bangku SMA. Aku belajar dengan waktu yang singkat untuk mempersiapkan SNBT. Namun kejadian yang sama terulang, aku gagal lagi.
Tidak tahu kenapa saat pengumuman tiba tangisku pecah, aku kecewa pada diriku sendiri. Aku merasa kurang persiapan, merasa mengecewakan semua orang yang sudah percaya padaku. Air mata dan penyesalan dating silih berganti, aku tahu, di balik senyuman kedua orang tuaku pasti mereka merasakan kesedihan yang sama. Tapi di titik itu mereka selalu berkata, ini bukan kesalahanku, bukan karena aku tidak pintar, ini hanya belum rezekiku. Tidak tahu berapa kali mereka mengucapkan itu tetapi mereka tidak lelah untuk selalu mendukungku apapun jalannya.
Aku difasiitasi mendaftar jalur mandiri di beberapa universitas ternama. Namun rasa sesal dan kecewa belum juga usai, kegagalan datang lagi, bahkan lebih dari satu kali. Perlahan aku mulai merasa tidak percaya diri dan hopeless. Pikiran buruk tentang kemampuan yang ada pada diriku terus datang dan membuatku bertanya pada diriku sendiri “apakah aku se tidak kompeten itu? apakah aku memang tidak cukup baik?”. Tidak tahu berapa lama pikiran itu terus terputar di otakku.
Hingga di akhir bulan Juli, sebuah kabar datang dari tempat yang sama sekali tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, Universitas negeri Yogyakarta, Fakultas Psikologi, aku diterima. Rasa syukur meluap dari kedua orang tuaku. Setelah begitu banyak jalur dan universitas yang kucoba dan gagal, ternyata di tempat ini rezekiku berada. Jujur, saat itu aku masih setengah tidak percaya, ada rasa denial yang bercampur rasa syukur. Tapi saat itu aku memilih untuk menerima dan melangkah maju.
Perkuliahan baru berjalan beberapaa minggu, di sela-sela menjadi mahasiswa baru yang perlu adaptasi dengan suasana kampus, aku tetap menyiapkan berkas untuk seleksi sekolah kedinasan. Mimpi awalku belum sepenuhnya kulepaskan walaupun aku sudah mendapatkan kampus. Aku berangkat mengikuti seleksi tahap pertama seorang diri, membawa restu kedua orang tua. Namun hasilnya sama seperti sebelumnya, aku tidak lolos tahap pertama. Aku mengabari kedua orang tuaku sambal meminta maaf karena aku mengecewakan mereka lagi. Bukan ini yang aku harapkan, bukan kata maaf yang ingin aku ucapkan kepada mereka. Tapi mereka hanya berpesan satu hal, berhenti bersedih dan mulai focus menjalani apa yang sudah ada di depan mata saat ini.
Rangkaian kegagalan yang datang berulang itu menjadi salah satu sumber tekanan terbesar yang aku rasakan. Aku sempat mempertanyakan kemampuan diriku sendiri apalagi ketika melihat teman-teman dengan mudah menggapai impian mereka. Tapi perlahan aku mulai belajar mengingat kembali atas semua perjuangan yang aku lakukan dan seberapa besar usaha orang tuaku agar aku tetap bisa melanjutkan pendidikan. Dukungan dari orang-orang di sekitarku juga menjadi alasan aku untuk terus bangkit. Aku mulai sadar bahwa aku sudah berjuang sangat jauh untuk samapi di titik ini.
Kegagalan adalah proses pembentukan diti menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih mampu menerima keadaan. Dari sini aku belajar bahwa kita tidak boleh hanya berfokus pada hasil akhir, tapi juga menghargai proses dan usaha yang telah kulakukan sepanjang jalan. Kini aku sudah menjalani dua semester perkuliahan di Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Yogyakarta. Meskipun awalnya ini bukan jalan yang kurencanakan, aku menemukan banyak hal baru yang membuatku berkembang. Pengalaman sebelumnya membuatku jauh lebih dapat bersyukur dan memahami bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing.
Untuk kamu yang sedang berada di titik terendah karena kampus impianmu belum juga berpihak, aku ingin mengatakan bahwa kegagalan bukan tanda kalau kamu tidak cukup baik. Terkadang, kegagalan adalah cara semesta menunjukkan dan mengarahkanmu ke jalan yang justru lebih tepat untukmu. Meski belum bisa kamu lihat sekarang, teruslah berjuang, teruslah percaya pada proses, karena rezeki yang sudah tertakar tidak akan pernah tertukar, ia akan datang lewat jalan yang berbeda-beda.
