Janjiku Terakhirku utuk Ibu

Mustahil itu sebenarnya nggak ada, yang ada adalah kamu terlalu cepat menyimpulkan menyerah sebelum semuanya terealisasi. Sesuatu yang kamu perjuangkan dari awal tidak akan sia-sia pada akhirnya.

Di akhir tahun 2025 sebagai siswi biasa saja di sekolah aku punya kekhwatiran yang cukup intens. Bulan Oktober tepatnya sebelum peluncuran perdanaku untuk kegiatan Praktik Kerja Lapangan. Setiap malam selalu saja sulit tidur dan itu hampir setiap hari sampai pada akhirnya aku pusing dengan pikiranku sendiri akan kekhawatiran di masa depan setelah lulus.

Hari pertama saat aku melakukan PKL adalah hari terpanjang yang pernah aku alami selama 18 tahun ini aku hidup. Canggung. Syukur semua berjalan lancar meskipun beberapa kali mendapatkan customer yang memang susah dimengerti. Seminggu setelah tahun baru 2026 aku membuka layar ponsel seperti biasa sebelum berangkat PKL dan di situlah semua kekhawatiranku selama ini semakin menapaki puncaknya. Aku dinyatakan masuk eligible di jurusan dan sekolah membuat pikiranku yang awalnya tidak ada tujuan untuk lanjut kuliah sama sekali menjadi terbuka lebar. Apakah pertanda Tuhan itu nyata admanya.

Aku mengambil langkah yang cukup berani untuk mengambil kesempatan itu, mengingat betapa inginnya ibuku dulu untuk melihat anak bungsunya sebagai anggota pertama di keluarga yang masuk perguruan tinggi. Aku memilih jurusan yang memang aku mau dan aku mampu. Desain Komunikasi Visual. Sesuai dengan jurusanku saat itu di SMK. Aku begadang seminggu sebelum penutupan pendaftaran SNBP, itu adalah seminggu panjang penuh dengan kantong mata hitam tebal. Bahkan aku akan terus mengingat saat itu mencari tempat fotokopi yang masih buka, malam-malam di tengah hujan yang lebat hanya untuk membeli meterai. Membuat portofolio itu tampak sulit menurutku kala itu sebab aku sudah beberapa bulan tak menyentuh buku gambar lagi semenjak PKL.

31 Maret 2026. Aku pulang dari sekolah. Dengan hati yang penuh rasa ragu. Sebab hati dan pikiranku yang terus memikirkan kemungkinan yang paling buruk. Apakah aku bisa? Apakah diriku akan lolos? Bagaimana jika aku tidak lolos? Apakah aku akan kecewa jika aku tak mendapatkan warna biru yang ditampilkan di layar mengumuman itu?

Kubuka laptopku dengan hati yang penuh khawatir. Aku tekan satu persatu huruf di keyboard. Hatiku semakin teriris melihat tampilan web itu, aku memasukkan tanggal lahir dan nomor pendaftaran ragu-ragu. Tanpa sadar aku sudah meloloskan air mataku membasahi pipi. Pikiran yang buruk dan tidak ikhlas adalah awal dari kemunafikan diriku sendiri. Warna merah itu jelas terpampang nyata di layar itu setelah aku buka pengumuman itu sendirian di kamar. Hawa sore yang kian dingin dan aku yang sudah kecewa pada akhirnya. Melihat teman-temanku yang lolos membuat hati yang semula tak peduli menjadi serapuh tisu.

Aku menangis dalam diam. Air mataku saja sudah kering karena menangis sebelumnya. Aku termenung di dalam kamar. Tanpa penyemangat. Sebab aku mendaftar juga diam-diam, tak mau jika tidak lolos seperti ini akan mengecewakan ayahku. Aku menguatkan diriku sendiri ditengah dilema yang besar. Aku sebenarnya ingin kuliah. Keinginan yang tak pernah ada dalam rencana karirku sebelumnya. Hatiku sudah beku dan aku tidur malam itu dengan perasaan kosong.

Masuk sekolah pagi itu rasanya seperti menginjak duri-duri durian. Aku mengucapkan banyak selamat pada temanku yang lolos sedangkan orang-orang yang bernasib sama seperti diriku hanya bisa saling menguatkan dan sesekali kegagalan itu dibuat bercanda.

Malam tepat sebelum aku tidur aku sempat deep talk melalui aplikasi chatting dengan sahabatku. Aku termenung sekali melihat sahabatku masih menangis karena dirinya juga tidak dinyatakan lolos SNBP. Aku masih ingat sekali mata sahabatku yang bengkak sembari bilang dan menekankan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan lanjut kuliah, katanya. Kebanyakan orang memang tidak bisa melanjutkan kuliah tentu karena faktor ekonomi keluarga yang tidak mendukung, salah satunya adalah sahabat karibku sejak SD.

Kembali termenung ku telusuri lagi apa yang mau di hatiku. Pikiranku kembali ribut seperti benang yang tercampur dengan benang-benang yang lain. Aku memikirkan atas segala kemungkinan buruk yang belum tentu akan terjadi. Aku menangis. Kenapa aku tak bisa untuk berhenti memikirkan kemungkinan terburuknya, kenapa aku tak pernah memikirkan untuk bagaimana jika aku bisa melakukannya kali ini. Bagaimana jika aku berhasil mewujudkan impian ibuku, betapa bahagianya beliau di surga.

UTBK. Ujian yang bahkan tak pernah menarik perhatian mataku. Tak akan pernah ada dipikiranku malam itu bahwa aku memutuskan untuk mengikuti ujian itu di kehidupan yang sekali ini. Dengan tekad yang kuat sebuah labirin akademis yang selalu kuhindari, kini justru menjadi jalan yang aku pilih dengan kesadaran diri.

Aku hanya punya waktu belajar dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Aku selalu berpegang teguh dan percaya dengan kata-kata ini, “Orang lain itu mencapai tujuannya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang seperti berlari secepat kuda ada juga yang seperti kura-kura yang berjalan sangat pelan untuk sampai di tujuan. Maka melangkahlah pelan-pelan dengan ritmenmu sendiri. Sebab hanya dirimu sendirilah yang tau di setiap keinginan.”

Di tengah huru-hara laporan PKL, ujian kejuruan dan ujian sekolah April kala itu aku menyemangiti diriku sendiri di setiap diriku mulai menyerah ditengah jalan. Jalan untuk menuju apa yang selalu aku impikan memanglah bukan hal yang mudah. Setiap kali aku mau menyerah aku selalu teringat dengan ibuku yang ingin melihat anaknya bisa berpendidikan tinggi.

Aku belajar sendiri. Tanpa bimbingan les, mulai semua dari nol, dan tanpa semangat orang tua karena aku mendaftar ujian ini secara diam-diam. Tujuanku sederhana namun pasti, jika aku lolos itu akan menjadi kabar yang sangat membahagiakan namun jika memang belum rezeki dan takdir yang diberikan-Nya aku berkomitmen untuk tidak melakukan tes ujian mandiri ataupun ikut UTBK tahun depan. Karena ini adalah jalan terakhir.

Bermodalkan belajar dari YouTube. Aku tulis satu-persatu pemahaman yang masuk sedikit demi sedikit ke nalarku. Aku tak pernah merasa seambisius ini sebelumnya. Aku tahu aku hanya siswi SMK yang tak pernah diberikan pelajaran dasar seperti di SMA pada umumnya. Aku bahkan tak tahu bedanya Saintek dan Soshum itu bedanya dimana.

Modal nekat itu membawaku sampai dimana hari ujian UTBK itu tiba. Entahlah aku waktu itu sedikit kesal sebenarnya, dengan belajar yang mepet seperti itu sebenarnya tidak efisien dan diriku kala itu kesal karena mendapatkan ujian UTBK itu tepat di hari pertama ujian UTBK itu dimulai, tepatnya Senin, 21 April 2026.

Aku sendirian mengendarai sepeda motorku melewati panasnya jalan jogja. Melihat banyak sekali orang sepertiku yang sedang mengikuti ujian, menenteng tasnya dan berkas pendaftaran SNBT. Mereka yang diantar di depan Gedung, menyemangati anaknya, bahkan sampai ada orang tua yang menunggu buah hatinya itu selesai ujian disana. Hatiku iri, jujur saja. Tapi aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku pasti bisa.

Aku masih ingat momen dimana aku berkenalan dengan teman-teman sesama UTBK. Ada yang sama rasanya, kecewa sepertiku karena ditolak SNBP kemarin ada juga yang ingin mengubah nasibnya, ada juga yang berjuang sekali lagi sebagai gap year. Semua itu membuatku sadar bahwa hari ini kita semua berjuang dengan titik darah penghabisan.

Aku masih ingat bagaimana aku pulang saat itu. Selembar demi demi selembaran brosur Perguruan Tinggi Swasta aku terima. Perasaan lelah yang benar benar menguras jiwa harus aku paksa untuk membelah jalanan kota Jogja yang padat itu. Di antara teriknya panas matahari yang mulai redup menyingsing di ujung barat. Macet disana-sini. Dahaga dan lapar yang bergemuruh di antara pikiran yang mulai kosong.

Tepat satu bulan lamanya aku menunggu dan berdoa penuh pasrah menghadapi hari ini, hari pengumuman UTBK itu. Setelah berdoa yang cukup dan aku pasrahkan semuanya pada Allah SWT, aku membuka web horror itu. Mengetiknya di layar ponselku satu persatu no pendaftaranku. Sekali lagi sebelum semuanya menjadi titik balik dalam hidupku kali ini aku menarik napas dalam-dalam dan penuh penekanan pada diriku sendiri “Tak apa jika ini menjadi kegagalan yang lain, tak apa jika menangis setelah ini sebab kau telah berjuang sekuat dan sesakit ini dan hanya aku senidiri yang tahu bagaimana kesal dan sesal di setiap perjuangan itu.”

Penuh harap, tentu. Tapi aku sudah pasrah dan meminta tolong ayahku untuk membukakannya. Aku menutup mataku sebentar. Hatiku rasanya benar-benar mau meledak saking gugupnya. Aku benar-benar takut. Aku mengintip layar handphone yang kugenggam dengan tangan gemetar. Jantungku rasanya seperti mau turun melihat barcode dengan tulisan yang sangat membuat hati dan tanganku bergetar tanpa sadar.

Aku langsung lari dari rumahku ke rumah kakakku. Ku gedor kamarnya dan aku bilang bahwa aku lolos. Iya aku lolos. Bahkan aku sendiri masih tak menyangkanya sampai saat ini. Lolos di pilihan pertama kampus yang selalu aku idam-idamkan. Senyumku merekah sempurna melangkah penuh riang untuk memberi tahu ayahku. Senang sekali rasanya bahkan aku tak bisa membendung air mataku. Ibu akhirnya aku bisa wujudin impian terakhir ibu.

Tinggalkan Komentar