Cahaya Kecil dari Ujung Timur
Sebelum saya sampai pada titik ini, saya melewati beberapa masa yang sangat sulit. Saya gelisah dan bimbang Perguruan Tinggi mana yang harus saya pilih untuk melanjutkan studi saya. Saat itu juga orang tua saya menyarankan untuk bekerja karena memang saya merupakan lulusan SMK. Tetapi, pada saat itu tekad saya untuk masuk PTN agar dapat belajar hukum di Indonesia tidak bisa saya lepaskan begitu saja. Saya awalnya sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti beberapa tes seperti SNBP dan SNBT untuk masuk PTN. Namun pada saat itu saya masih menjalani praktik kerja lapangan dan harus mengikuti ujian sekolah. Saat itu saya sudah mulai menyerah, karena menurut saya jika saya tidak bisa masuk PTN apakah saya masih bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi? Mengingat biaya PTS yang sangat mahal. Namun, semua itu dihancurkan dengan semangat yang diberikan ayah saya. “kalau nona mau melanjutkan studi di PTS silahkan, bapak siap biaya dan dukung nona. Belajar yang rajin biar bisa lebih dari bapak dan mama.” Itu membuat saya terharu dan sejak saat itu saya berjanji dengan diri sendiri untuk bisa belajar lebih giat agar bisa membanggakan orang tua. Setelah perbincangan itu, saya pun mendaftarkan diri di salah satu universitas yang ada di Jawa Timur.
Tidak sedikit orang berpendapat bahwa di daerah bagian timur Indonesia, masih memiliki keterbatasan dalam hal pendidikan, seperti fasilitas yang kurang memadai dan kurangnya guru di daerah-daerah terpencil, dan itu sangat berpengaruh dengan cara berpikir seseorang. Namun, itu bukan berarti kami anak-anak emas Indonesia dari bagian timur tidak bisa berkembang dan tidak bisa mencerdaskan kehidupan bangsa. Saya, salah satu mahasiswa dari Nusa Tenggara Timur merantau ke daerah di luar provinsi dengan tujuan untuk mencari, menambah, serta mengasah pengetahuan dan keterampilan saya, karena saya percaya ilmu bisa didapatkan oleh semua orang ketika dia mau berusaha untuk mencapai targetnya.
Selama perkuliahan berjalan, dengan tugas-tugas seperti membuat makalah, membuat PPT untuk presentasi kelompok, saya selalu berusaha untuk mengambil bagian dalam diskusi, tetapi salah satu teman saya berbisik pada saya “sudah, biar kami yang mengerjakan kamu duduk saja.” Saya langsung menjawabnya, “Kenapa hanya duduk? Saya bisa membantu kalian. Ini tugas kelompok saya tidak mau hanya menjadi mahasiswa yang bersembunyi di belakang kalian.” Dia hanya terdiam, lalu dia mengizinkan saya untuk berdiskusi. Saya selalu bingung dengan perlakuan mereka terhadap saya, karena saya berpikir saya datang jauh-jauh dari daerah saya untuk mengembangkan diri, saya tahu batasan kemampuan saya. Jika memang saya merasa saya tidak bisa pasti saya akan bertanya, bukannya berhenti dan tidak mau mencoba lagi.
“Keberhasilan itu ada ketika kamu mau mencoba dan berusaha,” Itu adalah kalimat yang selalu saya tanamkan dalam diri saya. Ketika saya takut untuk mencoba, maka saya tidak akan pernah tahu apa yang akan saya dapat ketika saya bisa melakukannya dengan usaha sendiri. Selain itu, saya juga selalu mengingat kerja keras orang tua yang sudah membantu saya hingga sejauh ini. Sedikit demi sedikit saya belajar hal-hal baru dari teman-teman yang memiliki kemampuan lebih, awalnya saya merasa gugup dan takut diejek ketika melakukan kesalahan, tapi nyatanya mereka malah mendukung saya. “Tidak apa-apa, baru percobaan pertama kan? kita ulangi lagi ya jangan gugup santai saja,” kalimat sederhana yang mereka ucapkan membuat saya lebih semangat dan merasa banyak orang yang mendukung ketika kita mau mencoba dan ingin maju. Keberhasilan memang butuh proses bukan protes, jadi apa salahnya kita mencoba iya kan?
Setiap pembelajaran dalam perkuliahan saya belajar perlahan dengan usaha sendiri dan bantuan beberapa teman saya. Awalnya saya merasa ini semua pasti akan sulit, tetapi ketika mencoba untuk masuk ke dalam dunia itu dan mulai mempelajarinya saya mulai mengerti dan saya merasa semuanya terasa mudah ketika kita paham mengenai suatu hal. Bukan hanya memahami sesuatu, tetapi kita juga perlu memahami diri kita. Apa yang diri kita inginkan? Apakah metode belajar kita harus sama dengan orang lain? Semua itu bergantung pada diri kita. Ketika kita tidak bisa mempelajari sesuatu dengan metode belajar orang lain, maka buatlah metode belajar sendiri, tetapi jangan sampai menyerah dan tidak mau belajar.
Dari semua yang sudah saya pelajari selama semester 1 saya mengambil salah satu kesimpulan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan berpikir lebih, tidak akan bisa berkembang ketika dia tidak memiliki kepercayaan diri. Mengapa saya katakan demikian? Karena kemampuan seharusnya di kembangkan agar pengetahuan bisa lebih luas. “Banyak bertanya saat perkuliahan berlangsung berarti cari perhatian dosen,” itu yang mereka katakan ketika saya dan beberapa teman di kelas bertanya. Saya hanya merasa aneh dengan semua perkataan mereka. Apakah mereka tidak berpikir biaya kuliah yang sudah orang tua keluarkan? Menurut saya biaya-biaya tersebut sangat besar dan akan sia-sia jika saya tidak memanfaatkannya untuk mendapatkan ilmu yang lebih dari dosen. Dengan ilmu itu, saya bukan hanya dibantu tetapi juga bisa membantu teman-teman lain.
Pada akhirnya, semua pengetahuan itulah yang memberikan saya nilai yang sangat memuaskan untuk diri saya sendiri dan orang tua. Saya membuktikan kepada semua orang bahwa anak dari timur ini bisa menjadi cahaya di tengah-tengah anak-anak emas Indonesia lain. Saya membuktikan bahwa anak-anak timur juga punya usaha dan semangat belajar untuk terus maju dan berkembang untuk bisa bersama mencapai tujuan negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kami tidak pernah banyak meminta tetapi kami punya banyak cara untuk berusaha dan memberikan yang terbaik. Bagi saya Kurangnya akses serta fasilitas yang belum memadai tidak bisa menjadi acuan untuk menilai kemampuan sebagian orang, karena pada dasarnya setiap orang itu berbeda. Bapak dan mama, jalan anak kalian masih panjang. Tunggu putri kecil kalian pulang dengan membawa kemenangan yang bukan hanya seporsi tetapi kemenangan yang utuh, menyeluruh, dan berkelanjutan.
