Menjemput Mimpi yang Sempat Mati: Lingkaran Takdir Santri Menuju Telkom University

Gedung Landmark Telkom University di Bandung. (Foto: SkyscraperCity)

Ketika Sebuah Mimpi Harus Dikuburkan

Ada mimpi yang tidak benar-benar hilang. Ia hanya tertidur oleh keadaan, lalu bangun kembali ketika waktu yang tepat telah tiba.

Begitulah kisah saya dengan mimpi lama, Telkom University.

Saat duduk di bangku pesantren, saya selalu terpikat melihat perkembangan dunia teknologi. Di antara banyaknya perguruan tinggi yang saya kenal, Telkom University menjadi kampus yang paling menarik perhatian. Modernitas kampus, budaya inovasi, dan atmosfer akademiknya membuat saya membayangkan diri suatu hari nanti menjadi bagian dari keluarga besarnya.

Namun, semua angan itu seolah berhenti pada sebuah brosur. Ketika melihat rincian biaya pendidikan, saya sadar bahwa mimpi tidak selalu cukup diperjuangkan dengan tekad. Ada kenyataan yang juga harus mengimbangi keadaan, angka-angka itu terasa begitu besar. Saya tidak marah apalagi menyalahkan ekonomi orang tua. Saya memilih diam, lalu perlahan mengubur mimpi yang bahkan belum sempat diperjuangkan.

Sejak saat itu, kampus swasta tidak lagi menjadi tujuan. Sampai pada tahun kelulusan, sebuah kabar membangkitkan harapan baru. Program Studi Kedokteran sudah resmi berjalan di tanah kelahiran saya, Bangka. “Program Studinya masih baru, mungkin biayanya tidak begitu menggunung”. Mimpi saya pun berubah. Saya ingin menjadi dokter, lalu kembali mengabdi untuk masyarakat di daerah tempat saya dilahirkan.

Namun lagi-lagi keadaan tidak berpihak. Selepas lulus, saya tidak langsung melanjutkan pendidikan. Saya menjalani masa gap year karena dipercaya menjadi salah satu dari enam belas dari pengabdi di Pesantren Daarul Abror Bangka. Saat itu saya merasa hidup sedang berhenti sejenak. Baru kemudian saya memahami bahwa saya sebenarnya tidak sedang ditunda, melainkan sedang dipersiapkan.

Gerbang Utama Pondok Modern Daarul Abror Kace (Sumber: YouTube/TVRI Bangka Belitung.)

Sunyi yang Menguatkan, Gagal yang Mendewasakan

Saya sempat berpikir bahwa masa pengabdian akan menjadi kesempatan terbaik untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi Kedokteran Universitas Bangka Belitung. Kenyataannya, perjuangan itu jauh lebih berat daripada yang saya bayangkan.

Sebagai pengabdi, saya hanya diperbolehkan memegang ponsel pribadi setiap hari Ahad. Mengikuti bimbingan belajar di luar pondok bukanlah pilihan. Ketika pejuang lain belajar melalui kelas daring, try out, dan berbagai fasilitas pendidikan, saya hanya ditemani tumpukan buku serta doa yang saya panjatkan dalam sunyi setiap malam.

Di balik rutinitas itu, ada kegelisahan yang perlahan tumbuh.

“Bagaimana jika semua usaha ini tetap belum cukup?

Bagaimana jika aku gagal menjadi dokter?”

Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepala saya.

Karena takut tidak memiliki pilihan, saya mencoba mendaftar ke Program Studi Kedokteran Universitas Islam Indonesia melalui jalu reguler. Ketika nama saya lolos, hati saya dipenuhi rasa syukur. Saya mengira perjuangan panjang itu akhirnya menemukan jalan.

Sayangnya, harapan itu kembali diuji.

Setelah berdiskusi dengan kedua orang tua, saya menyadari bahwa pendidikan kedokteran di perguruan tinggi swasta akan menjadi beban yang sangat besar bagi keluarga kami. Mereka tidak pernah melarang saya bermimpi. Bahkan, mereka ingin memberikan yang terbaik. Namun saya tahu, ada perjuangan yang harus mereka tanggung jika saya memaksakan pilihan tersebut.

Akhirnya, saya memilih untuk mengalah.

Bukan karena kecewa, tapi karena saya tidak ingin kebahagiaan saya dibayar dengan kecemasan kedua orang tua. Tidak berhenti di situ, saya kemudian mencoba Jalur Beasiswa Santri UII. Tapi Kedokteran tidak tersedia untuk jalur tersebut, saya terpaksa memilih Farmasi.

Tahap demi tahap berhasil saya lewati. Setiap pengumuman membawa harapan baru. Saya mulai percaya bahwa kali ini perjuangan saya akan berakhir bahagia. Hingga tibalah pengumuman terakhir. Dan ya, kekecewaan kembali muncul setelah tanda merah melambai di dashboard penerimaan mahasiswa.

“Sebenarnya, jalan mana yang sedang Allah siapkan untukku?”

Halaman utama situs pendaftaran. (Foto: Dok. Situs Resmi SMB Telkom University)

Ketika Mimpi Lama Datang Menjemput

Kesempatan mengikuti SNBP telah tertutup karena status gap year. Hari pelaksanaan UTBK-SNBT semakin dekat, sementara keyakinan saya justru semakin menipis. Hingga pada hari ahad, ketika saya membuka instagram, sebuah unggahan melintas di beranda.

Penerimaan Mahasiswa Baru Telkom University.

Jari saya seketika berhenti menggulir layar. Nama yang dulu pernah saya kubur, kini kembali hadir di hadapan saya. Tanpa ekspresi apa pun, saya membuka informasi pendaftarannya. Saya kembali melihat rincian biaya yang dahulu membuat saya menyerah. Anehnya, kali ini semuanya terasa berbeda. Setelah berbulan-bulan saya melihat biaya pendidikan kedokteran yang jauh lebih tinggi, nominal di Telkom University justru lebih realistis.

Dalam hati saya bertanya,

“Apa mungkin… mimpi ini sebenarnya belum selesai?”

Malam itu saya memberanikan diri berbicara kepada kedua orang tua. Di luar dugaan, mereka tidak hanya mengizinkan saya mendaftar, tetapi juga memberikan dukungan penuh. Restu mereka seolah menghidupkan kembali mimpi yang selama ini saya anggap telah mati.

Dengan keyakinan baru, saya mendaftarkan diri pada Program Studi S1 Sains Data Telkom University Kampus Pusat yang dulu membuat mata saya berbinar. Sains data yang berkutat banyak dengan teknologi, sejalan dengan minat dan ketertarikan saya selama ini.

Pengumuman kelulusan (Foto: Dok. Akun Pribadi SMB Telkom University)

Mimpi Itu Tidak Pernah Mati

Hari pengumuman Telkom University tiba lebih dulu dibandingkan hasil UTBK-SNBT. Dengan tangan yang sedikit gemetar saya membuka laman pengumuman.

Beberapa detik saya hanya menatap layar.

“Selamat Anda dinyatakan Lulus pada jalur seleksi Jalur Prestasi Akademik (Jpa) 2”

Saya tersenyum.

Bukan karena semua perjuangan telah selesai, melainkan karena akhirnya say memahami bahwa tidak semua mimpi yang terkubur benar-benar hilang. Ada yang hanya menunggu waktu terbaik untuk kembali.

Saat hari pelaksanaan UTBK-SNBT tiba, saya memasuki ruang ujian dengan hati yang jauh lebih tenang. Saya mengerjakan setiap soal sebaik mungkin, tetapi kali ini tanpa dihantui rasa takut seperti sebelumnya. Apa pun hasilnya, saya telah menemukan tempat untuk melanjutkan perjalanan.

Beberapa hari kemudian, tepat pukul 15.00 WIB, pengumuman UTBK-SNBT resmi dibuka. Saya membuka hasilnya.

Saya tidak lolos.

Anehnya, sore itu saya tidak menangis.

Saya hanya tersenyum, lalu mengucap syukur.

Saat itulah saya benar-benar memahami bahwa Tuhan tidak selalu mengabulkan doa dengan memberikan apa yang kita inginkan. Terkadang, Dia mengabulkannya dengan menunjukkan jalan yang sejak awal memang paling baik untuk kita.

Hari itulah saya menyadari bahwa Telkom University bukanlah pilihan kedua. Sejak awal, mungkin memang di sanalah Allah menuliskan tempat saya bertumbuh. Saya hanya perlu melewati jalan yang sedikit lebih panjang untuk sampai ke sana.

Seandainya saya langsung diterima di jalan yang saya inginkan sejak awal, mungkin saya tidak akan pernah belajar tentang arti kesabaran, pengabdian, keikhlasan, serta betapa berharganya restu kedua orang tua. Kini saya memahami bahwa setiap jalan memutar ternyata memiliki tujuan.

Pengabdian di pesantren, keterbatasan akses belajar, kegagalan demi kegagalan, hingga mimpi yang berkali-kali terasa runtuh bukanlah hukuman. Semua itu adalah cara Allah membentuk saya agar siap menerima apa yang telah ditetapkan.

Untuk siapa pun yang berjuang mengejar mimpi, jangan pernah menganggap kegagalan sebagai akhir dari perjalanan. Bisa jadi, jalanmu memang lebih panjang daripada orang lain. Bukan karena Tuhan menjauhkanmu dari impianmu, melainkan karena Dia sedang membentukmu agar mampu menjaganya ketika impianmu benar-benar tiba.

Karena pada akhirnya saya belajar bahwa mimpi yang sempat mati bukanlah mimpi yang gagal. Ia hanya sedang menunggu waktu terbaik untuk dijemput.

Tinggalkan Komentar