Dari “Gambar Terus Mau Jadi Apa?” Menjadi Calon Arsitek UGM

“Gambar terus, mau jadi apa?” Pertanyaan sederhana itu mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, namun terasa begitu menyakitkan bagiku. Mengapa begitu?

Hai, aku Cika Ridhaputrimardani. Sejak kecil aku sudah sering mendengar kata-kata tersebut dari orang-orang yang mengetahui kalau aku memiliki kecintaan terhadap menggambar. Namun saat itu alih-alih tersinggung, aku hanya tersenyum polos sambil menyimpan pertanyaan di dalam hati, “Memangnya, apakah hidup harus selalu mengikuti perkataan orang lain?” “Bukankah setiap orang berhak menentukan arah dan impiannya sendiri?”

Gambar 1. Dokumentasi Menggambar (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Aku selalu percaya bahwa setiap mimpi memiliki jalannya masing-masing. Bagiku, menggambar bukanlah hobi belaka, melainkan sebuah cara untuk menuangkan kreativitas dan rasa ingin tahu. Sejak kecil aku sangat senang dan penasaran melihat bangunan-bangunan unik yang memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari tata ruang hingga desain interiornya. Dalam pikiranku selalu muncul berbagai pertanyaan: “Bagaimana bangunan sebagus itu dirancang? Bagaimana seseorang dapat menciptakan ruang yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki fungsi? Tanpa kusadari, rasa penasaran itu ternyata membawaku menemukan passion yang sebenarnya di bidang arsitektur.

Aku terlahir dari keluarga sederhana yang mengajarkanku arti perjuangan. Melihat ayah bekerja keras untuk menghidupi keluarga kecil kami membuatku memahami bahwa mimpi tidak akan terwujud hanya dengan angan-angan. Mimpi harus diperjuangkan dengan usaha, ketekunan, dan keberanian.

Perjalanan memang tak selalu mudah. Saat duduk di bangku SMP, aku melewati masa-masa kelam. Saat itu aku kerap menjadi sasaran bullying verbal dari teman sekelas. Perkataan dan ejekan mereka terus menggerogoti rasa percaya diri ku. Hari-hariku di sekolah terasa berat. Aku menjadi pribadi yang diam, takut menyampaikan pendapat, bahkan aku menjadi seseorang yang takut untuk mengacungkan tangan saat ada kesempatan untuk mengikuti perlombaan. Lingkungan toksik itu tentu menghambatku meraih cita-cita yang aku impikan. Meski demikian, aku tidak patah semangat untuk belajar dan berjuang mempertahankan 10 besar di kelas. Aku mulai menyadari bahwa aku tidak ingin selamanya berada dalam keadaan yang menghambat pertumbuhanku.

Ditambah lagi, aku harus menghadapi kehilangan adik bungsuku. Fase ini menjadi luka terdalam bagi keluargaku. Namun, hidup pasti terus berjalan apa pun keadaannya. Setelah lulus SMP, demi mencari lingkungan yang sehat dan mengejar cita-citaku, aku meminta ayah untuk membawaku pulang ke kampung halaman, Cilacap, Jawa Tengah, dan meminta ayah untuk menyekolahkanku di sana. Saat itu, aku datang seperti orang asing. Aku belum mengenal siapa pun. Namun, siapa sangka? Ternyata tempat baru inilah yang menjadi awal perjalanan hebat dalam hidupku.

Di SMA Negeri 1 Maos, aku belajar kembali untuk percaya pada diriku sendiri. Aku menemukan banyak teman-teman baru, lingkungan yang mendukung, dan kesempatan untuk mencoba berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan. Aku bergabung dengan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) sebagai wadah yang mengubah cara pandangku terhadap kemampuan diri sendiri. Di sinilah aku mengenal dunia penelitian, inovasi dan kerja sama tim. Aku mulai memahami bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang selama berani memulai.

Gambar 2. Dokumentasi Kejuaraan (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Aku mulai memberanikan diri mengikuti berbagai perlombaan. Lomba pertamaku adalah International Science Innovation Fair (ISIF) tahun 2023 bersama tim penelitian Smart Safety Helmet dengan keterbatasan kemampuan berbahasa Inggris dan rasa gugup yang luar biasa. Jujur, meraih medali perunggu kala itu seperti keajaiban. Prestasi ini membuka pintu bagiku untuk terus melangkah.

Setiap perjuangan pasti ada kegagalan. Aku pernah gugur di tahap seleksi Olimpiade Siswa Indonesia (OPSI) dan Festival Inovsi dan Kewirusahaan Siswa Indonesia (FIKSI). Kenyataan pahit ketika aku gagal di tahap seleksi Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) sebanyak dua kali dan gagal seleksi FIKSI satu kali. Saat itu aku merasa sedih karena aku mengincar sertifikat dari Pusat Prestasi Nasional untuk digunakan sebagai salah satu senjata saat mendaftar kuliah nanti.

Namun, tidak hanya berhenti dengan meratapi kegagalan, justru aku bangkit untuk mengikuti berbagai perlombaan lain, meraih juara 1 pada lomba Festival ELINS dan VOCOFEST yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada dengan inovasi Caping Agroklimat dan Portable Agriculture. Aku mengembangkan inovasi yang dalam prosesnya tidak hanya belajar tentang penelitian, tetapi juga bagaimana sebuah alat berbasis IoT dapat dirancang sedemikian rupa untuk membuat inovasi yang bermanfaat.

Puncak dari perjuanganku terjadi ketika aku mendaftar lagi Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) yang diselenggarakan oleh Puspresnas, di mana lomba ini sama bergengsinya dengan OPSI. Aku sangat bersemangat untuk mengikuti lomba ini. Aku tidak hanya mengandalkan riset sains, tetapi juga kembali merangkul kecintaanku sejak kecil, yaitu menggambar. Aku mengembangkan commission art yang bertransformasi menjadi SENADIKU_ART, sebuah inovasi bisnis desain grafis yang mengangkat budaya Nusantara. Kombinasi antara kreativitas seni dan ketekunan riset inilah yang akhirnya membuahkan hasil manis. Aku berhasil menjadi finalis FIKSI 2025 dan meraih medali emas di kategori Pengembangan Usaha. Kegagalan pada FIKSI sebelumnya tidak membuatku berhenti. Justru dari sana aku belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang mendapatkan penghargaan, tetapi tentang bagaimana seseorang tetap memilih untuk tidak menyerah dan terus mencoba.

Di tahun yang sama aku juga kembali mengikuti ISIF dengan penelitian Utilization of Bael Fruit Aegle marmelos (L) Correa Extract as Aftersun Lotion in Modern Dermatology. Berbekal pengalaman sebelumnya, aku berhasil meningkatkan kemampuan presentasi berbahasa Inggris.

Harapanku, seluruh medali dan sertifikat yang kukumpulkan ini bukan hanya sekadar pajangan, melainkan jembatan menuju cita-cita yang selama ini kuimpikan. Namun, aku tidak pernah lupa bahwa fondasi utama seorang pelajar adalah akademiknya. Berbekal doa, kegigihan, dan kerja keras, aku selalu berusaha menyeimbangkan antara prestasi nonakademik dan prestasi akademik. Konsistensi ini membuahkan hasil, memungkinkanku selalu bertahan di peringkat 3 besar selama duduk di bangku SMA. Aku sadar betul bahwa perguruan tinggi tidak hanya mencari nilai akademik yang bagus, tetapi juga prestasi yang membanggakan.

Bagiku, setiap pencapaian tersebut adalah bukti nyata bahwa mimpi kecil seorang anak yang dulu hanya suka mencoret-coret kertas ternyata mampu membuka jalan menuju masa depan yang besar. Memasuki akhir semester kelas XII, pendaftaran Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) tiba. Aku semakin mantap dengan satu pilihan yang telah lama kuperjuangkan, yaitu Program Studi Arsitektur. Setelah melewati berbagai proses panjang, aku menyadari bahwa bidang ini adalah perpaduan sempurna dari segala hal yang kucintai, yaitu seni, desain, kreativitas, dan pemecahan masalah. Dengan bekal rekam jejak yang telah kubangun, hatiku bulat untuk meraih impianku ke satu tujuan, yaitu program studi Arsitektur Universitas Gadjah Mada.

Namun, aku sadar sepenuhnya bahwa semakin besar mimpi yang diraih, semakin berat pula tantangan yang menghadang. Masuk ke Program Studi Teknik Arsitektur UGM bukanlah perjalanan yang mudah. Aku pasti akan berhadapan dengan ribuan siswa hebat lainnya yang memiliki ambisi yang sama dalam persaingan ketat yang menuntut persiapan matang. Karena itu, aku tidak hanya duduk diam dan menggantungkan harapan pada satu jalur. Sambil mempersiapkan berkas untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), aku juga belajar untuk menghadapi Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) untuk berjaga-jaga jikalau SNBP-ku belum berhasil lolos. Bagiku, perjuangan sejati bukan tentang menunggu keberuntungan datang, melainkan tentang menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menjemput setiap kemungkinan.

Di tengah proses yang melelahkan itu, aku terus bersandar pada doa. Aku percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah mengkhianati hasil. Aku belajar untuk berikhtiar semaksimal mungkin, sembari menyerahkan hasil akhirnya kepada takdir Tuhan Yang Maha Esa. Allah SWT pun menjawab ikhtiarku dengan cara yang paling indah. Saat hari pengumuman SNBP tiba, dengan tangan yang sedikit gemetar, aku membuka tautan seleksi. Jantungku berdetak kencang, memanjatkan doa agar layar itu menampilkan warna biru sebagai tanda lolos yang selama ini kunantikan. Saat jariku memberanikan diri menekan tombol "Lihat Hasil Seleksi", seketika air mataku menetes. Alhamdulillah, namaku terpampang jelas, resmi menjadi mahasiswa baru Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada.

Gambar 3. Pengumuman Lolos Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) Program Studi Arsitektur UGM 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Momen itu bukan sekadar tentang lolos seleksi. Itu adalah validasi dari setiap air mata, setiap kegagalan di masa lalu, setiap begadang merancang inovasi, dan setiap coretan di kertas yang dulu diragukan oleh orang lain. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati dan rasa syukur yang mendalam, aku kini siap mengemban amanah di kampus ini. Aku berkomitmen untuk terus belajar, berkarya, dan membuktikan bahwa seorang Cika yang pernah ragu, kini akan tumbuh menjadi arsitek yang hebat di masa depan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *