Langkah Awal Menuju Mimpi

Halo, teman-teman. Perkenalkan, namaku Ragheed Fayyaz Alvaro Lintang. Saat ini aku merupakan mahasiswa baru Program Studi Teknik Elektro di Universitas Bangka Belitung. Aku lahir di Kota Pangkalpinang pada 6 Juli 2007. Menariknya, artikel ini kutulis tepat tiga hari setelah ulang tahunku yang ke-19.

Seperti kebanyakan lulusan SMA lainnya, aku memiliki mimpi yang besar. Sejak masih duduk di bangku sekolah, aku bercita-cita melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi terbaik di Indonesia, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Bagiku, nama-nama besar itu bukan sekadar kampus impian, melainkan simbol dari harapan, kerja keras, dan masa depan yang ingin kuperjuangkan.

Namun, perjalanan menuju dunia perkuliahan ternyata tidak sesederhana yang kubayangkan. Di balik setiap impian, selalu ada tantangan, pengorbanan, dan pelajaran hidup yang perlahan membentuk diriku hingga akhirnya berdiri sebagai mahasiswa Universitas Bangka Belitung.

Sebelum menceritakan perjalanan itu lebih jauh, izinkan aku memperkenalkan sekolah yang telah menjadi tempatku bertumbuh selama enam tahun.

Setelah lulus dari sekolah dasar, aku melanjutkan pendidikan di Pondok Modern Daarul Abror Bangka. Selama enam tahun, mulai dari jenjang SMP hingga SMA, pondok ini menjadi rumah keduaku. Di sanalah aku tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga ditempa untuk hidup mandiri, disiplin, bertanggung jawab, serta terus memperbaiki diri. Semua nilai itulah yang menjadi bekal penting dalam perjalanan untuk mengejar cita-cita besarku ini.

Ada satu tradisi yang selalu dinanti sekaligus membanggakan setiap kali masa kelulusan tiba, yaitu pemilihan Guru Pengabdian. Dari seluruh santri kelas akhir, hanya enam belas orang yang dipilih untuk mengabdikan diri di pondok selama satu tahun penuh. Alhamdulillah, aku menjadi salah satu dari enam belas santri yang dipercaya menerima amanah tersebut.

Selama menjalani masa pengabdian, kami belum diperbolehkan melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Masa itu menjadi tahun jeda atau gap year bagiku. Namun, aku tidak ingin waktu tersebut berlalu begitu saja. Di sela-sela kesibukan mengajar dan mengabdi, aku mengikuti bimbingan belajar serta berbagai try out sebagai persiapan menghadapi UTBK-SNBT.

Sejak saat itu, aku menaruh harapan yang begitu besar kepada Institut Teknologi Bandung. ITB bukan hanya kampus impian, tetapi juga tempat yang kupercaya mampu memberiku lingkungan belajar terbaik, pengalaman yang luas, dan kesempatan untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun, sebesar apa pun impian seseorang, restu orang tua tetap menjadi hal yang paling penting. Karena itu, aku menyampaikan keinginanku kepada ibunda tercinta. Beliau mendengarkan dengan penuh perhatian, tetapi menyarankan agar aku tetap mengabdi di pondok dan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi yang lebih dekat dengan rumah.

Aku memahami alasan beliau. Namun, saat itu aku masih begitu yakin dengan mimpiku. Aku terus belajar, mengikuti bimbingan belajar, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Ketika masa pendaftaran UTBK-SNBT tiba, aku kembali diliputi kebimbangan. Di satu sisi, ada impian yang selama ini kuperjuangkan. Di sisi lain, ada nasihat orang tua yang tidak ingin kuabaikan.

Aku kembali meminta pendapat kepada ibu. Jawaban beliau tetap sama. Sebelum pembicaraan berakhir, beliau berkata dengan lembut agar aku melaksanakan salat istikharah dan memohon petunjuk kepada Allah Swt.

Aku melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Namun, hatiku masih belum menemukan jawaban yang benar-benar menenangkan. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk tetap memilih ITB sebagai pilihan pertama pada UTBK-SNBT.

Hari ujian pun tiba. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian tes, aku langsung menelepon ibu dan menceritakan bahwa ITB menjadi pilihan pertamaku.

Di seberang telepon, ibu terdiam cukup lama.

Kemudian beliau berkata dengan suara yang pelan, "Pulang ke rumah ya, Dek… Mama mau ngomong."

Aku menjawab singkat, "Iya, Ma. Nanti adek pulang."

Telepon pun berakhir.

Sesampainya di rumah, ibu menyambutku seperti biasa. Kami duduk bersama di ruang keluarga sambil menonton televisi. Suasana masih dipenuhi canda dan tawa, seolah tidak ada sesuatu yang sedang dipikirkan.

Hingga akhirnya aku membuka pembicaraan.

"Jadi gimana kuliah Ragheed, Ma?"

Ibu terdiam. Televisi yang sejak tadi menyala dimatikannya. Dalam suasana yang begitu sunyi, beliau mulai menceritakan kondisi ekonomi keluarga yang sedang mengalami masa sulit. Beliau menjelaskan semuanya dengan jujur, tanpa ada yang disembunyikan.

Saat itulah aku menyadari bahwa selama ini aku hanya melihat besarnya mimpiku, tanpa benar-benar memahami besarnya perjuangan kedua orang tuaku.

Ruangan yang beberapa menit sebelumnya dipenuhi tawa perlahan berubah menjadi saksi air mata kami berdua.

Di momen itu aku mengambil keputusan yang mungkin menjadi salah satu keputusan terbesar dalam hidupku. Jika aku tetap memaksakan diri mengejar ITB, mungkin aku sedang mengejar mimpiku sendiri, tetapi pada saat yang sama aku juga sedang menambah beban bagi kedua orang tuaku.

Sepulang dari rumah menuju pondok, perlahan aku mengikhlaskan kampus impianku. Aku memantapkan hati untuk melanjutkan pengabdian dan memilih berkuliah di perguruan tinggi yang lebih dekat dengan rumah. Keputusan itu memang tidak mudah, tetapi aku percaya bahwa berbakti kepada orang tua tidak pernah menjadi pilihan yang salah.

Hari ini aku memang tidak berdiri di kampus yang dulu paling kuimpikan. Namun, aku berdiri di tempat yang Allah pilihkan untukku. Dan aku percaya, kesuksesan tidak ditentukan oleh nama besar sebuah kampus, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar, bekerja keras, dan memanfaatkan setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya.

Perjalanan ini mengajarkanku satu hal yang tidak akan pernah kulupakan: kita semua bebas memiliki mimpi setinggi langit, tetapi kita juga harus memiliki kebesaran hati untuk menerima kenyataan, menghormati pengorbanan orang tua, dan percaya bahwa setiap jalan yang Allah tetapkan pasti menyimpan hikmah terbaik.

3 Komentar

  1. Hari ini mungkin kamu tidak dapat menggapai apa yang kamu inginkan, tapi percayalah didepan sana Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik untuk masa depan, Keep spirit ma Broo

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *