5 TAHUN PERJALANANKU DARI SISWA MENUJU MAHASISWA
Oleh: Muhammad Taufik Alwi
Universitas Tadulako
“Dreams are something you have to believe in”
Ke Huy Quan
Ketika meraih mimpi, perjalanan saya ke perguruan tinggi dimulai dalam transisi monumental, narasi kolektif yang dibagi di antara teman sebaya saat bersama-sama melangkah melewati ambang batas pendidikan tinggi. Beralih dari rutinitas sekolah menengah yang terkontrol ketat ke dunia kampus yang dinamis dan independen sungguh menggembirakan sekaligus menakutkan. Sebagai mahasiswa, kita tiba-tiba mendapati diri kita bertanggung jawab untuk menentukan jalur akademik kita sendiri, menguraikan silabus yang kompleks, dan membentuk identitas dalam komunitas yang jauh lebih besar dan asing. Ini adalah fase transisi yang dipenuhi dengan tatapan ketidakpastian bersama di ruang kuliah yang ramai, kebingungan bersama tentang peta kampus, dan kesadaran diam-diam bahwa kita semua sedang menavigasi perairan yang sama persis yang belum dipetakan.
Cerita dari perjuangan ini terletak pada sebuah lsayasan psikologis yang vital: "mimpi adalah sesuatu yang harus kamu percaya." Bagi seorang terpelajar, kutipan ini berfungsi sebagai perisai yang diperlukan untuk mencegah kelelahan akademis dan sindrom penipu sejak dini. Mimpi di pendidikan tinggi bukanlah sekadar pemikiran idealis dan itu adalah risiko yang diperhitungkan yang dibungkus dengan harapan yang gigih yang harus dilindungi dengan sungguh-sungguh. Ketika ujian tengah semester yang sulit membuat saya mempertanyakan kemampuan saya, atau ketika tekanan finansial dan pribadi meningkat, mempertahankan keyakinan mutlak pada harapan awal itulah yang mencegah saya untuk menyerah. Percaya pada mimpi saya berarti mempercayai bahwa pengorbanan saya saat ini memiliki tujuan yang jelas dan tak ternilai, mengubah kecemasan akademis sehari-hari menjadi bahan bakar yang dibutuhkan untuk terus maju.
Perjalanan akademis ini menjadi transformasi kolaboratif di mana aspirasi individu didukung oleh dukungan timbal balik antar sesama mahasiswa. Meneruskan nasihat dari mahasiswa senior kepada mahasiswa baru, atau sekadar berbagi pengalaman dengan teman sekelas tentang makalah penelitian yang menakutkan, mengingatkan kita bahwa impian pribadi kita berkembang dalam ekosistem kolektif. Bangku-bangku perpustakaan dan acara minum kopi larut malam menjadi tempat kita diam-diam saling mengingatkan tentang nilai dan potensi kita. Dengan tetap fokus pada tujuan dan memupuk komunitas ketahanan bersama, pengalaman kuliah berhasil menjembatani kesenjangan antara siapa kita hari ini dan para profesional yang ingin kita capai di masa depan.
Memasuki realitas pendidikan tinggi terkadang terasa seperti penurunan tajam daripada pendakian besar yang dijanjikan. Bagi banyak dari pelajar, perguruan tinggi yang akhirnya diperoleh bukanlah yang selama bertahun-tahun dibayangkan dalam lamunan larut malam. Dengan kecermatan dalam merencanakan masa depan di sekitar kampus impian tertentu, hanya untuk mendapati harapan itu hancur oleh surat penolakan, kendala keuangan yang tiba-tiba, atau perubahan tak terduga dalam keadaan hidup. Menemukan jati diri saya berjalan melalui kampus yang kurang dikenal membawa sengatan yang unik dan sunyi perpindahan tiba-tiba di mana bangunan dan lingkungan sekitarnya terasa asing, dan masa depan yang saya rencanakan terasa benar-benar di luar jangkauan.
Ketidaksesuaian antara harapan dan realitas ini dengan cepat memberi jalan pada rasa putus asa akademis yang mendalam. Duduk di ruang kuliah yang tidak pernah saya inginkan, mendengarkan profesor yang tidak saya pilih, mudah untuk merasa seperti penipu dalam hidup saya sendiri. Angin terasa lebih berat dan rutinitas sehari-hari kehidupan kampus membeli buku modul, mencari tempat duduk di kantin, menjelajahi perpustakaan menjadi pengingat menyakitkan tentang apa yang seharusnya terjadi. Setiap sudut kampus yang tak terpilih ini seolah bergema dengan hantu universitas yang telah hilang, mengubah apa yang seharusnya menjadi tonggak penting yang menggembirakan menjadi latihan harian untuk meratapi ambisi yang telah pupus.
Ketika berbicara dari satu mahasiswa yang patah hati kepada mahasiswa lainnya, kesedihan bersama ini menjadi ikatan yang berat dan tak terucapkan. Saya melihat sekeliling kelas dan menyadari bahwa saya bukan satu-satunya yang mengenakan topeng ketidakpedulian yang sopan dan kampus ini dipenuhi oleh mahasiswa yang diam-diam mengatasi mimpi mereka yang terkompromikan. Di ruang pendidikan ini, kekecewaan kolektif dapat terasa menyesakkan, saat teman-teman sebaya bertukar cerita tentang nilai batas yang tidak tercapai, penolakan beasiswa, atau tekanan orang tua yang memaksa mereka ke jalan alternatif. Menemukan seseorang yang memahami beban perasaan terjebak dalam realitas yang terasa jauh lebih rendah daripada potensi yang saya tahu dan saya miliki menjadi sebuah cara untuk menangani permasalahan ini.
Namun, justru di kedalaman keputusasaan bersama inilah jenis ketahanan baru yang lebih tangguh mulai terbentuk. Saat kepahitan awal perlahan mereda, kesadaran muncul bahwa universitas pada akhirnya hanyalah latar belakang, bukan penentu takdir saya. Kampus yang tidak saya pilih saat ini mungkin tidak menawarkan kelebihan yang saya dambakan, tetapi kampus itu masih menyimpan buku-buku, sudut belajar yang tenang, dan para dosen yang bersedia mendengarkan yang diperlukan untuk membangun kembali. Dengan melepaskan fantasi ideal tentang pengalaman kuliah yang sempurna, saya dapat mulai menerima realitas yang penuh kekurangan dan keras di hadapan kita, mengubah kekecewaan kolektif kita menjadi tekad yang gigih untuk berkembang tepat di tempat kita berada.
Merenungkan seluruh perjalanan ini, mustahil untuk tidak melihat kembali diri saya di masa SMA siswa yang dengan teliti membangun catatan akademik yang cemerlang dengan satu-satunya ambisi yang membara untuk mendapatkan tempat di universitas negeri tingkat atas melalui jalur prestasi bergengsi. Menyaksikan tahun-tahun kerja keras tanpa henti itu bertabrakan dengan kenyataan pahit keterbatasan ekonomi keluarga adalah patah hati yang menghancurkan dan sunyi. Memilih untuk meninggalkan kampus impian itu bukanlah kegagalan kemampuan, tetapi pengorbanan yang disadari dan menyakitkan yang didorong oleh rasa tanggung jawab yang lebih dalam: kebutuhan mutlak untuk tetap dekat dengan rumah dan menemani ibu saya. Universitas yang tidak saya pilih ini mewakili jalan yang ditempa bukan dari ambisi yang diidealkan, tetapi dari cinta, ketahanan, dan ketabahan yang dibutuhkan untuk mengubah arah hidup Saya ketika alam semesta menuntutnya.
Pada akhirnya, menutup cerita ini berarti harus menerima bahwa meskipun kampus ini bukanlah tujuan yang saya harapkan, kampus ini telah menjadi wadah tempat karakter sejati saya diuji dan dibentuk. Mimpi-mimpi sejak SMA yang saya pegang dengan begitu kuat belum lenyap; mimpi-mimpi itu hanya beradaptasi dengan realitas dunia nyata yang lebih mendalam. Berdiri di sini hari ini, saya menyadari bahwa gengsi nama universitas jauh kurang penting daripada tekad kuat yang saya miliki untuk berhasil terlepas dari latar belakangnya. Saat saya melangkah maju, saya bangga dengan pilihan yang membawa saya ke sini, mengetahui bahwa kehormatan terletak pada pemenuhan tanggung jawab saya kepada keluarga sambil terus membangun masa depan yang bermakna dari tempat saya berdiri sekarang.
—-TERIMA KASIH—
