“Keberanian mengambil langkah ketika keadaan belum benar-benar siap”
Saya pernah berada di titik ketika mimpi terasa terlalu mahal untuk diwujudkan. Bukan karena saya tidak mampu belajar, tetapi karena keadaan ekonomi keluarga membuat setiap langkah menuju bangku kuliah terasa mustahil. Di akhir masa SMK, saya mulai memikirkan apa yang harus saya lakukan setelah lulus. Pilihannya hanya dua, bekerja untuk membantu ekonomi keluarga atau justru memilih untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, saat itu saya bertekad bahwa jika melanjutkan pendidikan, saya ingin merantau ke luar kota. Saya ingin belajar hidup mandiri, merasakan fase menjadi dewasa , serta membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu bertahan jauh dari keluarga, mengenal lingkungan baru, keluar dari zona nyaman, dan mencoba banyak hal.
Setelah lulus dari SMK saya akhirnya memutuskan untuk mencoba mendaftar SNBP di salah satu universitas negeri dan saat pengumuman tiba dinyatakan tidak lolos, tidak berhenti di situ. Saya mencoba lagi melalui jalur SNBT dan mengikuti tes UTBK. Sayangnya, usaha saya tidak sebanding dengan hasil yang saya harapkan. Saya sadar belum memberikan persiapan terbaik. Saat itu saya hanya ingin lulus tes kuliah, tapi belum benar-benar memahami tujuan yang ingin saya capai. Saya hanya mengikuti alur tanpa memiliki rencana yang jelas. Masih ada kesempatan ketiga yaitu melalui jalur mandiri. Apakah saya mencobanya lagi? Tentu tidak. Selain karena persiapan yang belum maksimal salah satu penyebabnya karena tes mandiri harus membayar dan benar saja uangnya belum memadai saat itu. Saat itu saya langsung memutuskan untuk gap year, bekerja terlebih dahulu dan melanjutkan pendidikan di tahun berikutnya. Kegagalan itu membuat saya sadar bahwa keinginan saja tidak cukup. Saya perlu menentukan tujuan yang jelas dan mempersiapkan diri dengan lebih matang.
Singkat cerita, setahun telah berlalu. Pendaftaran SNBP sudah tidak bisa bagi siswa yang gap year, saya juga tidak melakukan tes untuk jalur SNBT. Setelah menjalani satu tahun gap year, saya mulai menyadari bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh status negeri atau swasta. Selama dijalani dengan sungguh-sungguh, keduanya sama-sama dapat menjadi tempat untuk berkembang.
Mengingat keinginan saya yang begitu besar untuk melanjutkan pendidikan diluar kota, yang saya lakukan pertama adalah bukan mencari kampusnya. Tetapi mencari kota mana yang harus saya tuju untuk menempuh pendidikan. Yogyakarta menjadi pilihan final saya karena mempertimbangkan jogja merupakan kota pelajar dan juga dikenal dengan biaya hidup yang lumayan murah. Setelah menetapkan Yogyakarta sebagai tujuan, Setelah menentukan tujuan, langkah berikutnya adalah mencari kampus yang membuka peluang beasiswa. Saya juga melakukan riset terhadap para alumni agar memiliki gambaran mengenai prospek lulusannya. Saya mulai mencari kampus yang sesuai dengan kondisi dan cita-cita saya. Saya membutuhkan kampus yang membuka peluang beasiswa KIP Kuliah sekaligus memiliki jurusan yang benar-benar saya minati. Universitas Amikom Yogyakarta adalah pilihan yang tepat. Setelah mencari tahu informasi dari berbagai sumber hasilnya seperti dengan apa yang saya harapkan, jurusan yang saya inginkan juga ada disini dan akhirnya saya mengambil jurusan tersebut yaitu kewirausahaan, karena menjadi seorang entrepreneur muda adalah cita-cita saya sejak kecil yang menyukai dunia bisnis.
Pada saat mendaftar diawal saya dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi dalam diri saya sudah yakin akan mendapatkan Beasiswa KIP Kuliah. Saat izin untuk melanjutkan pendidikan dan memutuskan untuk merantau. Orang tua saya selalu mengatakn iya dan setelahnya disusul dengan kalimat “kamu boleh melanjutkan hidupmu sesuai dengan apa yang kamu inginkan dan kami akan terus mendungmu, tapi maaf perihal dana kami tidak bisa membantu banyak” saya sadar akan hal itu melihat kondisi ekonomi keluarga yang masih harus membayar uang sewa rumah tiap bulannya dan masih ada adik saya yang harus dibayarkan sekolahnya, serta untuk memenuhi kebutuhan demi melanjutkan kehidupan.
Saya melakukan pendaftaran dan akhirnya dinyatakan LULUS SELEKSI. Apakah saya puas?? Belum. Justru setelah pengumuman tersebut saya terus dihantui rasa takut, penasaran, sedih, bahagia semuanya bercampur jadi satu. Setelah lulus seleksi harus membayar uang perkuliahan semester pertama yang kurang lebih 5,5JT. Di keluarga saya ini adalah jumlah yang sangat besar. Setelah berdiskusi dengan keluarga, akhirnya biaya tersebut diperoleh melalui pinjaman koperasi yang kemudian dicicil setiap minggu hingga lunas. Senang rasanya bisa kuliah diluar kota, tapi sedih kerena uang itu harus dipinjam agar saya bisa melanjutkan pendaftaran tersebut.
Saat merantau yang saya bawa bukan cuman perihal kesiapan diri dan mental. Tapi saya membawa harapan orang tua untuk pulang menjadi sarjana. Saya mengikuti semua tahapan seleksi untuk menerima Beasiswa KIP-K mulai dari seleksi berkas hingga wawancara. Pengumuman pun tiba. Tidak ada nama saya didalamnya. Sedih, kecewa, putus asah, mental saya down rasanya saya tidak mau lagi melanjutkan pendidikan ini mengingat biaya kuliah persemester hampir mencapai 10JT, di pikiran saya waktu itu bagaimana bisa membayar sebesar ini tiap semesternya?? Sedangkan diawal masuk saja uang yang dibayarkan adalah uang pinjaman. Saya mencoba menenangkan diri saya terlebih dahulu. Saya tidak boleh berhenti hanya karena persoalan dana, saya yakin kalau niat kita besar semua pasti ada jalannya, saya juga percaya bahwa jika itu baik maka akan dikabulkan begitupun sebaliknya.
Cara saya mengatasinya waktu itu, karena uang semester 1 sudah dibayarkan sebagian sisa menambahkan sekitar Rp 500.000 untuk tambahan biaya SKS agar bisa menyelesaikan semester 1 dan sisa melanjutkan perkuliahan saja, maka saya harus memikirkan untuk pembayaran semester kedua, mulai cari info beasiswa yang lain. Saya mulai tenang dan coba meyakinkan diri sekali lagi bahwa semua ini pasti akan ada jalan terbaiknya. Rencana awal saya untuk memenuhi biaya hidup adalah dengan berjualan makanan atau cemilan yang disukai mahasiswa saat itu saya jualan salad buah dengan cara menawarkan secara langsung dari mahasiswa 1 ke mahasiswa yang lainnya sekaligus ini saya anggap praktik awal sebagai mahasiswa kewirausahaan walaupun dana yang dihasilkan tidak begitu besar tapi setidaknya saya sudah coba, tidak menyerah, dan tetap semangat agar bisa melanjutkan pendidikan.
Perkuliahan pun mulai berjalan. Saat pertama kali masuk seperti mahasiswa baru pada umumnya yang mengikuti rangkaian penerimaan mahasiswa baru, saya ingat persis disitu saya coba memberanikan diri mewakili jurusan untuk memberikan pertanyaan, bagi saya langkah kecil sudah harus dimulai saat itu juga.
(Dokumentasi Penerimaan Mahasiswa baru)
Siapa sangka? Sebulan perkuliahan berjalan atas kehendak tuhan. Malam hari notifikasi email saya masuk ada pengumuman Beasiswa KIP-K Tambahan jumlahnya ada 90 orang dan salah satunya adalah saya sendiri, reaksi pertama saya kaget, shock, terharu semuanya bercampur jadi satu, air mata saya keluar dengan sendirinya, tangan saya gemetar memegang Handphone sambil memastikan bahwa itu adalah berita yang benar. Ternyata penerima beasiswa tambahan baru ada ditahun itu artinya ditahun sebelumnya itu tidak ada. Bahagia sekali rasanya akhirnya bisa berkuliah dengan tenang tanpa memikirkan biaya kuliah lagi. Semua permintaan berkaspun langsung segera saya lengkapi. Kabar bahagia selanjutnya adalah Beasiswa ini akan diserahkan langsung oleh Ibu Titiek Soeharto (Ketua Komisi IV DPR RI). Kami dikumpulkan disalah satu kampus swasta di Yogyakarta yang ditunjuk sebagai tuan rumah, dan tiap kampus harus ada yang mewakili 1 orang untuk penyerahan secara simbolis di depan panggung dan perwakilan itu salah satunya adalah saya yang menjadi perwakilan kampus. Seandainya saya menerima beassiwa kip-k ini dari awal saya tidak akan merasakan bertemu langsung dengan sosok inspiratif ibu titiek soeharto, dan mungkin saya juga tidak akan melakukan perjuangan yang begitu keras demi bertahan untuk melanjutkan pendidikan. Saat ini saya sudah berada disemester kedua, harapan saya bisa lulus tepat waktu, menjadi lulusan terbaik, punya bisnis berkembang dan menjadi mahasiswa berprestasi, semoga tuhan selalu memudahkan jalan dan niat baik saya, Aamiin.
(Dokumentasi Penyerahan Beasiswa KIP-K Secara Simbolis)
-ambil resiko itu sekarang-
Saya belajar bahwa keberanian bukanlah tentang merasa siap, melainkan tetap melangkah meski dipenuhi rasa takut. Jika hari itu saya memilih menyerah karena gagal masuk perguruan tinggi atau karena keterbatasan biaya, mungkin saya tidak akan pernah sampai di titik ini. Kini saya percaya, Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan secepat mungkin, tetapi selalu memberikan yang terbaik pada waktu yang tepat. Dan dari semua perjalanan ini, saya memahami satu hal: mimpi memang membutuhkan keberanian, tetapi keberanian juga membutuhkan tindakan.
Percayalah, akan selalu ada jalan bagi siapapun yang mau berusaha, Tuhan adalah penulis skenario terbaik dalam kehidupan, saya juga tidak pernah menyangka bahwa alurnya akan berjalan seperti ini. Fokus saja dulu untuk memulai karena hal besar juga dimulai dari sesuatu yang kecil. Jangan pernah takut untuk mencoba, jika gagal coba lagi. gagal bukan akhir dari segalanya, tapi kegagalan adalah batu loncatan menuju kesuksesan dan saya percaya bahwa hidup yang tidak dipertaruhkan, juga tidak akan pernah dimenangkan. –mega
Yogyakarta, 2 Juli 2026
