Perjalananku dan mimpiku tidak berakhir pada harapan yang tidak sesuai
Sebelum pengumuman itu, saya cukup percaya diri. Nilai rapor saya berada di rata-rata yang menurut saya sudah cukup baik/memuaskan, bahkan mencapai angka sekitar 91. Saya bangga pada diri saya sendiri, bukan semata karena angka tersebut, tetapi karena saya tahu proses dan apa yang saya lalui di baliknya. Ada waktu yang dikorbankan, usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan yakin bahwa kerja keras akan membawa hasil terbaik bagi diri saya. Karena itu, saya menaruh harapan yang sangat besar pada pengumuman eligible atau syarat untuk mendaftar jalur SNBP.
Saya masih mengingat hari ketika hasil siswa/siswi eligible diumumkan. Jantung saya berdegup lebih cepat dari biasanya, berharap nama saya tertera di daftar seperti yang selama ini saya bayangkan. Saya telah menyusun banyak rencana dan menaruh harapan besar pada kesempatan itu. Namun, saat daftar itu terpampang, nama saya tidak ada dalam daftar tersebut. Hampir setiap pulang sekolah air mata menjadi hal yang sangat biasa.
Saat itu, saya merasa kecewa. Bukan hanya sedih tidak tercantum namanya, melainkan karena kenyataan tidak berjalan sesuai dengan rencana yang sudah saya susun jauh-jauh hari, lebih tepatnya saat masih duduk di bangku kelas 10.
Saya merasa bahagia dan bangga melihat teman-teman lolos SNBP pada tanggal 31 Maret dan menatap wajah mereka yang penuh rasa lega. Namun, di saat yang sama, saya juga tahu bahwa hati tidak selalu bisa langsung menerima keadaan. Saya ingin bersyukur. Namun, saat itu rasa kecewa masih jauh lebih besar.
Sejak awal, saya memiliki keinginan untuk melanjutkan studi di kampus impian, salah satunya UNS. Saya sudah menjalankan berbagai rencana sedari awal seperti belajar UTBK, berusaha menaikkan nilai rapor tiap semesternya. Namun, setelah diumumkannya eligible, saya lebih menutup diri cukup lama dan kehilangan semangat belajar.
Setelah beberapa waktu, saya mencoba bangkit dan memulai kembali belajar UTBK. Akan tetapi, membuka kembali buku yang sudah lama tidak saya sentuh terasa lebih berat dari sebelumnya. Saya merasa tertinggal oleh teman-teman saya yang jauh lebih dahulu sudah memetik buah hasil kerja kerasnya. Rasa kurang percaya diri terhadap tes UTBK dikarenakan ada faktor di balik hal tersebut yaitu keterbatasan ekonomi, sehingga saya tidak diikutkan bimbel, dan saya belajar UTBK secara mandiri melalui kuis online, try out, YouTube, dan hanya mengandalkan buku paten UTBK SNBT. Dari hal tersebut membuat saya mulai mencari jalur lain yang tidak mengandalkan tes, salah satunya jalur rapor (SPAN-PTKIN).
Di tengah masa itu, saya menerima pesan WhatsApp dari saudara saya yang berprofesi sebagai guru. Ia memberi informasi mengenai jalur rapor (SPAN-PTKIN) UIN, seleksi masuk perguruan tinggi berbasis nilai rapor. Awalnya saya tidak terlalu yakin. Saya bahkan sudah mulai pasrah dan menjalani semuanya tanpa ekspektasi besar. Ada keraguan dalam diri saya karena saya berasal dari sekolah negeri dan bertanya-tanya apakah saya mampu bersaing dengan siswa/siswi dari sekolah berbasis Islam.
Meski begitu, saya tetap mencoba. Saya memilih program studi Bimbingan dan Konseling Islam sebagai pilihan pertama. Sebenarnya program studi tersebut memang sudah lama menjadi salah satu yang saya impikan, saya memilih program studi tersebut karena saya sangat suka mempelajari perilaku, emosi, dan cara mendampingi siswa/siswi untuk menyelesaikan masalah psikologis, lalu alasan yang kedua karena saya terinspirasi oleh guru BK saya sewaktu SMA dikarenakan sikap beliau yang sangat halus kepada para siswa/siswi saat ada sesi konseling. Saya tahu peminatnya yang tidak sedikit, tetapi ibu dan keluarga saya terus memberi dukungan melalui doa dan kata-kata sederhana, bahwa tidak ada yang mustahil selama mau mencoba.
Tepat pada tanggal 7 April 2026, pengumuman SPAN-PTKIN tiba. Dengan rasa pasrah dan tanpa ekspektasi berlebihan, saya membuka laman tersebut. Tidak disangka, saya dinyatakan lolos melalui jalur rapor (SPAN-PTKIN) di UIN Raden Mas Said Surakarta program studi Bimbingan dan Konseling Islam, pilihan pertama.
Saat itu, rasa bahagia tidak sepenuhnya lepas dikarenakan saya sedang menunggu hari dan tanggal di mana saya akan melaksanakan UTBK, yang akan tiba dua minggu kemudian, tidak lupa saya mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan. Di momen tersebut saya mulai menyadari bahwa percaya diri untuk mencoba itu adalah hal yang penting. Terkadang keberanian untuk tetap melangkah justru membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Tanggal 21 April 2026, saya mengikuti UTBK di UNS. Rasa gugup dan takut mulai bermunculan. Namun, orang tua saya terus memberi semangat tanpa lelah. Mereka mengingatkan saya untuk tetap tenang, pasrahkan semua pada Tuhan, dan percaya bahwa saya sudah berusaha sebaik mungkin.
Hari demi hari berlalu hingga akhirnya tiba tanggal 25 Mei 2026. Hasil SNBT diumumkan dan saya dinyatakan tidak lolos. Saya merasa kecewa, hati terasa hancur, dan sempat menangis lalu ibu saya segera menyemangati diri saya dengan kata-kata penenang yang beliau lontarkan. Lalu di titik itu juga saya berusaha untuk mengikhlaskan semua hal yang terjadi. Dan seiring berjalannya waktu saya mulai menerima UIN sebagai kampus untuk bertumbuh, berkembang, dan mengasah ilmu pengetahuan.
Sebelum menjalani masa perkuliahan di UIN saya memiliki tekad menghafal juz 30, dikarenakan saya bersekolah di sekolah negeri selama SD hingga SMA, yaitu dengan menghafal juz 30 yang sebelumnya belum tuntas saya hafalkan semenjak saya mengakhiri TPA di Masjid waktu kelas 9 SMP, saya menjadi lupa akan hafalan-hafalan saya. Lalu, pada 26 Juni saya memulai kembali menghafal dan mengulangi kembali bacaan yang saya lupa.
Banyak orang bertanya mengapa saya tidak mencoba jalur mandiri atau mengambil gap year. Dikarenakan jalur mandiri memiliki pertimbangan finansial yang cukup besar, sedangkan jika gap year, saya ingin tetap melanjutkan pendidikan tahun ini. Saya ingin selalu bergerak maju dan kembali menuntut ilmu tanpa menunda langkah saya lebih lama lagi.
Untuk teman-teman, dan juga untuk diri saya sendiri, saya ingin menyampaikan bahwa terkadang kita sudah semaksimal mungkin belajar dan bekerja keras hingga lelah, berdoa dengan sungguh-sungguh, dan menyimpan harapan yang begitu besar pada satu tujuan. Namun, jika hasil yang datang tidak sesuai dengan keinginan atau rencana, itu bukan berarti perjuangan kita gagal atau masa depan kita berhenti begitu saja, melainkan kita hanya melewati jalur yang berbeda.
