Inspirasi

Rina Rismawati

Aku Rina. Anak ke dua dari tiga bersaudara. Aku adalah seorang mahasiswa semester 5 yang saat ini sedang menikmati libur semester setelah KKN. Aku mau bercerita tentang perjuanganku mencapai salah satu mimpi terbesarku, yaitu kuliah.

Awalnya, kedua orang tuaku tidak mengizinkanku untuk kuliah, karena alasan ekonomi tentunya. Namun aku tidak langsung menyerah. Aku berusaha mencari berbagai beasiswa hingga akhirnya aku menemukan beasiswa KIP-Kuliah. Aku mencari tahu semua tentang beasiswa itu. Setelah dirasa cukup informasi, aku pun menjelaskannya kepada orang tuaku. Namun ternyata orang tuaku tidak langsung percaya begitu saja. Aku sempat ingin putus asa, namun alasanku ingin kuliah terlalu kuat jika harus menyerah. 

Aku ingin kuliah karena keinginan untuk memperbaiki ekonomi, memutus rantai kemiskinan dan pemikiran kuno. Ditambah, jika aku melihat kedua orang tuaku, saudaraku, saudara bapak, saudara ibu, semuanya tidak ada yang kuliah. Pendidikan yang mereka tempuh hanya sebatas Sekolah Dasar, termasuk kedua orang tuaku. Mungkin paling tinggi sampai SMA. Kakakku salah satunya.

Ibu pernah bilang, “Buat apa kuliah? Lihat keluarga kamu, orang-orang sebelum kamu tidak ada yang kuliah. Lihat si A, dia kuliah tapi tetap saja seperti itu. Kuliah tidak menjamin kesuksesan.” Dadaku sesak saat itu. Ternyata begitu pemikiran ibu. Tapi aku punya pendapat lain. Justru karena dikeluarga besarku tidak ada yang kuliah, aku mau jadi orang pertama yang kuliah. Aku mau memperbaiki keturunan. Aku tidak mau seperti ini terus. Dan, lagi pula, jangan melihat contoh orang yang kuliah tapi tidak jadi apa-apa. Yang berhasil jauh lebih banyak, bukan? Memang betul, kuliah tidak menjamin kesuksesan, tapi memperbesar peluang untuk sukses. Pengalaman lebih banyak, relasi lebih banyak, apa lagi ilmu. Asalkan kita mampu memanfaatkan dengan baik masa-masa kuliah itu. Dengan menjadi sarjana, peluang kerja menjadi lebih besar karena tidak terbatas syarat minimal pendidikan. Kalau pun nantinya aku jadi ibu rumah tangga, apakah kuliahnya sia-sia? Tentu tidak. Tidak ada ilmu yang sia-sia. Bukannya nanti anak menjadi bangga jika memiliki ibu yang cerdas dan banyak pengetahuan? Dan pengetahuan itu bisa kita ajarkan kepada anak kita nanti.

Alasan lain kenapa aku sangat ingin kuliah adalah karena pengalaman burukku sewaktu kecil. Aku lahir dan hidup di keluarga dengan perekonomian menengah kebawah. Begitu menyakitkan rasanya ketika teman-teman seumuranku waktu itu bisa membeli makanan yang mereka mau, sedangkan aku harus menahan diri. Sakit rasanya ketika aku sekolah diniyah membawa Iqra bekas kakak yang lecet tanpa sampul, buku yang hanya satu untuk semua pelajaran, dan penghapus menggunakan karet gelang. Ditambah dengan ejekkan teman-temanku yang merupakan orang kaya. Lengkap sudah.

Sebenarnya, keinginan kuliah sudah ada sejak aku SD. Aku pernah bilang mau kuliah waktu SMP, dan mamah mengiyakan. Mungkin mamah pikir aku tidak benar-benar ingin kuliah waktu itu. Pernah terbersit pertanyaan, “Kenapa tidak adikku saja yang kuliah? Biar orang tuaku tidak terlalu berat karena fokus membiayai kuliah ke satu anak saja. Kalau aku yang kuliah, orang tuaku masih menanggung hidup adikku.” NO! Adikku nanti akan punya keinginan sendiri yang belum tentu sama denganku. Kalau pun sama, bisa jadi dia punya cara sendiri, yang berbeda dengan caraku. Aku tidak mau memaksa, yang membuat dia mengubur keinginannya hanya karena untuk keinginanku.

Waktu pembuatan akun LTMPT (Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi) tinggal seminggu lagi, dan aku belum mendapatkan izin. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku mengajak Ibu ke salah satu guruku di SMK yang selalu membahas tentang kuliah. Mungkin guruku itu banyak tahu tentang kuliah, termasuk beasiswa KIP-Kuliah. Itu akan membantu membuat Ibuku percaya, pikirku waktu itu. Benar saja, setelah pulang dari rumah guru, orang tuaku menjadi sedikit percaya.

Beberapa hari setelahnya, nenek dari Bapakku tiba-tiba ingin menginap. Nenekku menginap selama tiga hari. Ada satu percakapan yang aku sukai, yaitu ketika nenekku menanyakan bagaimana kelanjutan hidupku. Apakah kuliah atau kerja? Dan disitu nenekku sangat mendukungku untuk kuliah. Alhamdulillah.

Singkat cerita, aku sudah diizinkan kuliah oleh orang tuaku dengan syarat, harus ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan mendapatkan KIP-Kuliah. Aku ingat baik-baik dan kuperjuangkan itu. Aku sangat berharap bisa lolos karena merasa nilaiku bagus sejak kelas 10. Aku ingin mengambil program studi Teknik Informatika. Tidak ada program studi lain yang kuinginkan selain itu. Namun ternyata, keberuntungan belum berpihak padaku. Ketika pendaftaran SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dibuka, aku tidak bisa mendaftar. Aku bertanya kepada teman-temanku yang lain, ternyata mereka semua sama, tidak bisa mendaftar SNMPTN. Saat itu aku segera menghubungi pihak sekolah, meminta penjelasan kenapa hal ini bisa terjadi. Namun aku tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Seketika aku teringat beberapa hari kebelakang ketika aku menanyakan terkait pemeringkatan. Dan jawaban dari salah satu guruku begini, “Intinya tugas kami pihak sekolah sudah selesai, tinggal kalian tunggu pendaftaran SNMPTN dibuka.” Aku dapat menyimpulkan bahwa telah terjadi kesalahan, dan yang aku yakin pasti bukan salahku. Karena kalau kesalahannya di aku, mungkin yang tidak bisa mendaftar hanya aku saja. Tapi ini seangkatan.

Saat itu aku frustrasi, merasa gagal sebelum berjuang. Aku menangis, dan lagi-lagi hampir putus asa. Namun aku tidak boleh menyerah, masih ada jalur lain yang bisa kutempuh, SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Seleksi ini mengharuskan calon mahasiswa mengerjakan soal. Aku segera mencari tahu tentang soal yang diujikan. Dan … aku merasa terlambat. Materi yang diujikan begitu banyak dan itu merupakan materi SMA, sedangkan aku sekolah di SMK. Meski begitu, aku tetap belajar dengan mengandalkan materi dari internet dan berbagai latihan soal.

Hingga tibalah hari pengumuman SBMPTN. Ternyata aku mendapatkan warna merah dan kata maaf. Itu artinya aku harus mencari jalan lain. Ya, jalur seleksi mandiri. Untungnya saat itu seleksi mandiri terbuka untuk yang mau mendaftar KIP-Kuliah. Jadi aku bisa daftar. Masih di kampus dan prodi yang sama. Namun lagi-lagi, merah yang kudapat. Aku kecewa dan marah dengan kegagalan beruntun itu. Kenapa? Disaat aku sudah mendapatkan izin, sekarang malah sulit diterima di PTN.

Karena orang tuaku tetap mau aku kuliah di PTN, aku memutuskan untuk gap year tahun ini. Aku kerja di beberapa tempat. Pernah merantau juga. Sambil aku belajar untuk mempersiapkan SBMPTN tahun depan. 

Bekerja tentu saja bukan keinginanku untuk saat itu. Aku ingin kuliah. Aku tidak pernah fokus ketika bekerja. Ketika tubuhku di tempat kerja, pikiranku malah sedang berada di kampus orang lain. Saat itu aku kesulitan menerima kenyataan bahwa aku ditolak berkali-kali hingga harus gap year. Aku menangis setiap malam. Sedih berkepanjangan hingga aku kehilangan nafsu makan dan berat badanku pun turun 4 kg dalam waktu tiga bulan. Aku berkali-kali pindah tempat kerja, yang awalnya kukira memang kerjanya tidak cocok untukku. Tapi ternyata sebenarnya akulah yang memang sulit menerima bahwa aku sudah bekerja.

Kondisiku saat itu membuatku bertekad tidak boleh gap year lagi, dan tidak mau. Sejak saat itulah keinginanku berubah, yang awalnya harus masuk negeri, sekarang boleh swasta asalkan prodi Teknik Informatika dan mendapatkan KIP-Kuliah. Namun tentu saja, aku harus kembali meyakinkan orang tuaku.

Saking kuatnya keinginan untuk kuliah, sembari bekerja dan menunggu pendaftaran SBMPTN, aku mendaftar berbagai beasiswa kuliah diberbagai PTS (Perguruan Tinggi Swasta). Yang paling banyak kuikuti adalah beasiswa kuliah di Tel-U. Namun selalu, semuanya gagal, hingga aku merasa terbiasa dengan kegagalan.

Waktu begitu cepat berlalu, aku mengikuti SBMPTN untuk yang ke-dua kalinya dengan memilih kampus dan prodi yang sama dengan tahun sebelumnya. Aku izin tidak masuk kerja, saat itu aku sedang bekerja sebagai Customer Service di perusahaan pemasaran internet. Hingga hari pengumuman SBMPTN itu tiba, lagi lagi dan lagi, aku gagal. Meskipun aku terbiasa dengan kegagalan, tak pelak aku menangis juga. Membayangkan bagaimana jika aku tidak mendapatkan izin kuliah di PTS, dan aku tidak kunjung diterima di PTN, kemudian aku harus gap year lagi. Sungguh, aku tidak sanggup!

Aku segera mencari tahu tentang jalur masuk seleksi mandiri. Sayangnya untuk tahun ini tidak terbuka untuk yang mendaftar KIP-Kuliah. Pupus sudah harapanku untuk kuliah disana. Aku semakin merasa sedih dengan diriku sendiri ketika mengetahui dua temanku sudah lolos di kampus itu, dan satu temanku yang lain sudah kuliah tahun kemarin. Sedangkan aku? Aku masih harus menyakinkan orang tua, mencari kampus yang cocok, dan mengikuti seleksi lagi. Prosesnya masih sangat panjang ternyata.

Singkat cerita orang tuaku sudah mengizinkanku kuliah di PTS, asalkan aku mendapatkan KIP-Kuliah. Oh ya, semenjak pengumuman SBMPTN itu, aku memutuskan berhenti bekerja. Aku ingin fokus belajar, mempersiapkan diri menghadapi seleksi di PTS. 

Sebelum mencari kampus swasta, aku menentukan beberapa kriteria kampus yang aku inginkan. Pertama, akreditasi minimal B. Dua, ada jurusan Teknik Informatika atau sejenisnya, tapi aku prioritaskan Teknik Informatika. Tiga, bisa mendaftar KIP-Kuliah. Empat, pengumuman KIP-Kuliah sebelum kuliah dimulai.

Awalnya aku mencari PTS di kotaku. Aku hampir mendaftar di Universitas X, namun kuurungkan karena ternyata pengumuman KIP-Kuliah setelah perkuliahan dimulai. Setelah aku bertanya lebih jauh, ternyata katanya pembayaran segala macam bisa tidak dibayar dulu sebelum pengumuman KIP-Kuliah. Jika tidak lolos KIP-Kuliah, baru harus bayar, dan jika keberatan boleh mengundurkan diri. Aku tidak mau seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan sakit hatinya jika aku sudah kuliah tapi tiba-tiba harus berhenti. Akhirnya aku mencari kampus lain. Namun ternyata kebanyakan kampus di kotaku menggunakan konsep pengumuman KIP-Kuliah setelah perkuliahan dimulai.

Dirasa tidak menemukan yang cocok di kotaku, aku coba ke kota tetangga terdekat dari rumahku. Aku mendatangi kampus Y, sendirian, hanya bermodal google maps. Di kampus tersebut tidak ada prodi Teknik Informatika, hanya ada Sistem Informasi. Awalnya aku mau ambil, tapi setelah bertanya lebih jauh, ternyata Sistem Informasi adalah prodi baru di kampus tersebut dan belum akreditasi sehingga tidak bisa mendaftar KIP-Kuliah untuk prodi itu.

Aku terus berusaha mencari kampus lain. “Apa aku nyari kampus yang di Bandung aja, ya? Sesuai keinginan awalku, kuliah di Bandung.” Kataku waktu itu. Namun aku tahu itu pasti tidak akan diizinkan oleh orang tuaku. Aku mencari kampus di kota tetangga lainnya, yang jaraknya 2 jam dari rumahku. Hingga akhirnya aku menemukan kampus yang memenuhi empat kriteria yang sudah aku tentukan. Aku mendaftar ke kampus itu sebagai calon mahasiswa KIP-Kuliah. Beberapa hari kemudian aku harus mengikuti seleksi KIP-Kuliah secara offline. Aku pergi ke sana diantar Bapak, tentu saja hanya bermodal nekat dan google maps. Aku berangkat dari rumah pukul 06.30 dan tiba di kampus sekitar pukul 09.00. Saat itu aku sama sekali tidak punya pegangan uang karena memang sudah lama berhenti bekerja. Tapi aku membawa bekal nasi dari rumah dan kumakan sekitar pukul 16.30.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya tibalah hari pengumuman KIP-Kuliah. Aku menguatkan hati sebelum membuka daftar nama yang lolos itu. Bersiap jika yang kudapat penolakan lagi. Setelah berkali-kali gagal, alhamdulillah, akhirnya, pada tanggal 24 Agustus 2022, aku dinyatakan lolos sebagai mahasiswa KIP-Kuliah di Institut Teknologi Garut.

Tak henti-hentinya aku mengucapkan sukur waktu itu. Akhirnya aku merasakan juga rasanya menang setelah kegagalan berulang. Tidak lama lagi aku akan merantau. Kuliah di luar kota, sesuai keinginanku dulu.

Ada beberapa hal yang aku dapatkan dari pengalaman berharga ini. Pertama, kita harus selalu siap menghadapi kegagalan, karena kedepannya akan lebih banyak menemukan kegagalan, dan kegagalan membuatku lebih kuat dan lebih berani mencoba hal baru. Kedua, jika gagal di satu tempat, cobalah di tempat lain, mungkin tempat lain itu lebih tepat untuk kita. Tiga, selalu belajar untuk ikhlas, karena sekeras apa pun berusaha, serapih apa pun menata rencana, hidup akan tetap berjalan sesuai rencana Tuhan. Hal-hal lain yang mungkin didapat dari pengalamanku bisa disimpulkan sendiri. Semoga ceritaku memotivasi banyak orang untuk terus berusaha menggapai apa yang diinginkan.

 

Tasikmalaya, 15 September 2024