Kampus Swasta

Semua orang mempunyai tujuan indah, tapi tidak semua orang punya langkah yang mudah. Kamu boleh lelah, tapi jangan menyerah. Tetap semangat, tetap kuat hingga kamu menjadi hebat.

Namaku Navishabilillah, biasa dipanggil dengan Navis. Aku tinggal disebuah desa dengan sebutan Desa Jeriji. Aku adalah anak terakhir dari 3 bersaudara, yang pastinya aku adalah harapan keluarga.

Walaupun aku tinggal di desa, tetapi di desaku ada Sekolah Menengah Atas. Dengan diberi nama “ SMA NEGERI 3 TOBOALI” lebih singkatnya smanetatob. Dulu waktu SMA, aku sekolah di desaku sendiri. Lebih tepatnya, SMA Negeri 3 Toboali baru dibuka dan aku adalah alumni angkatan pertama dari SMA Negeri 3 Toboali.

Smanetatob, mungkin bukan sekolah yang  aku impikan dari awal. Aku ingin sekolah di smansa yang aku impikan dari dulu. Walaupun smanetatob bukan sekolah impianku, tetapi aku harus berprestasi di sekolah smanetatob.

Di Smanetatob aku pernah menjadi ketua osis, wakil ketua osis, mengikuti berbagai lomba seperti membaca puisi, O2sn, olimpiade fisika dan membuat cerpen (cerita pendek).  Alhamdulillah membuat cerpen aku mendapatkan juara dua (2). Di kelas aku juga selalu mendapatkan juara.

Suatu hari, saat aku bermain ke rumah saudaraku yang ada di Toboali. Aku selalu bercerita dengan saudaraku, namanya Amel. Aku memanggil Amel dengan sebutan kakak, karena dia lebih tua daripada aku.

Aku dan kakak Amel sedang duduk di depan rumahnya.

“Kak, mau tau tidak? Aku kemarin mengikuti lomba membuat cerita pendek loo, terus aku menang kak dapat juara 2,” ceritaku bersemangat.

“Wahh, keren banget kamu vis. Kakak bangga loo sama kamu, tingkatkan terus ya prestasi kamu. Ya walaupun sekolahnya bukan sekolah yang kamu impikan. Tapi, suatu saat nanti pasti tergantikan dengan universitas impian,” ujar Amel sambil tersenyum dan sorot matanya menatapku.

“Aamiin, semoga ya kak universitas yang aku impikan bisa tercapai,” ujarku tersenyum.

“Tapi, kamu hebat vis bisa bertahan sejauh ini dengan sekolah yang bukan kamu impikan. Biasanya kalau orang sekolah yang bukan dia mau, pasti sekolahnya dibuat main-main,” ujar Amel.

“Menurutku kak, semua sekolah sama saja yang penting aku bisa belajar. Tapi, suasananya saja yang berbeda. Aku harus berprestasi, karena aku ingin suatu saat nanti bisa menggapai sebuah universitas impianku. Kalau SMA tidak impian tapi, kuliah nanti harus mendapatkan kampus impian,” ujarku dengan senyuman semangat.

“Semangat ya adik sepupu yang pintar, jangan pantang menyerah ya. Didepan masih banyak lagi hal-hal yang indah. Sebentar lagi, kamu mau lulus kan dan mau ikut tes jalur prestasi dan maupun tes ujian tertulis,” ujar Amel sambil menepuk-nepuk pundakku.

Iya benar, aku sudah mau lulus dan tidak lama lagi aku bersaing dengan seluruh dunia untuk mendapatkan universitas impian. Semua jalur untuk masuk universitas selalu aku mencoba nya.

Pada waktu itu, aku mendapatkan siswa Eligible dari sekolahku. Jadi, aku mengikuti jalur prestasi untuk mendapatkan universitas impian. Jalur prestasi tersebut diberi nama dengan sebutan “SNBP”.

Aku memilih “Universitas Gadjah Mada”, yang dari dulu sudah lama aku impikan. Aku tau keinginan ku terlalu besar, orang-orang pun meremehkan ku katanya kamu tidak akan bisa mencapai impianmu itu. Kalau tidak mencoba pasti tidak akan tau hasilnya, aku memilih mencobanya walaupun hasilnya nanti mengecewakan. Setidaknya aku pernah berusaha dan mecoba, daripada tidak mencoba sama sekali.

Kalau suatu saat, kampus Negeri tidak bisa tercapai aku juga memilih Swasta dengan nama kampusnya “Universitas Aisyiyah Yogyakarta”. 

Sebelum aku mengikuti  jalur “SNBP”, aku mengikuti jalur prestasi “PMDP” di ‘POLTEKKES KEMENKES PANGKALPINANG’. Syarat-syarat yang harus dikumpulkan sudah aku siapkan semuanya. Hanya satu yang belum, yaitu berkas akreditas sekolah. Akreditas sekolah minimal B, tetapi dikarenakan sekolahku baru dan akreditasnya pun tidak ada, itu salah satu untuk masuk “POLTEKKES KEMENKES PANGKALPINANG”akan gugur, aku sangat kecewa. 

“Percuma saja aku mengikuti jalur ‘PMDP’ pasti aku tidak akan lolos. Kesal sekali benar- benar kesal aku harus apa ya? Apa ikut jalur SIMAMA  saja” ujarku berbicara sendiri sambil menahan air mata.

Aku tidak sanggup, akhirnya air mataku jatuh membasahi pipiku. 

“Gagal lagi,gagal lagi. Kapan berhasilnya?,” ujarku menangis.

Aku menangis sendirian dikamar, 

“Menangis saja tidak mengubah apapun,aku harus bangkit dari kegagalan ini kan baru permulaan. Semangat aku pasti bisa,” ujarku menyemangati diri-sendiri sambil menghapus air mata.

Tidak lama kemudian, jalur ‘SNBP’ pun sudah dibuka aku pun mengikuti jalur ‘SNBP’. Aku menyiapkan berkas-berkas untuk pendaftaran jalur ‘SNBP’. Sesudah menyiapkan berkas, berkas itu lalu di foto dan dikirimkan menggunakan laptop dari pihak sekolah.

Pengumuman jalur ‘SNBP’ cukup lama sekitar satu(1) bulan. Rasa ke khawatiran, overthinking, ketakutan, dan kegelisahan semuanya sudah mengahantui dipikiranku.

“Apa kali ini aku berhasil?Apa aku gagal lagi?,” ujarku dalam hati.

Rasanya satu(1) bulan ini terasa cepat sekali, sudah mau membuka pengumuman saja. 

“Apa aku langsung buka saja pengumuman ini?,” ujarku kebingungan.

Beberapa waktu kemudian, aku memberanikan diri untuk membuka hasil pengumuman jalur ‘SNBP’.

Setelah membuka hasil pengumuman, ternyata aku tidak lolos lagi. Aku sangat kecewa, sedih dan menangis berhari-hari. Karena aku tidak bisa melanjutkan pendidikan di universitas yang aku impikan.

Awalnya memang aku sudah berpikir, bahwa pasti aku tidak lolos. Dikarenakan sekolahku tidak memiliki akreditas, yang pastinya peluang untuk lolos kecil sekali. Perasaan ku kacau rasanya aku berpikir belajar ku selama ini sia-sia. Sudah 2 kali aku gagal hanya permasalahannya akreditas sekolah.

Untuk saat ini, aku tidak dapat membedakan pura-pura kuat atau memang benar-benar kuat. Karena sepertinya, semua yang dilakukan saat ini memang sebuah keterpaksaan dan bingung apa yang terjadi kedepannya.

“Sabar nak, ini baru awal menuju kesuksesan. Masih banyak kegagalan lainnya, teruslah mencoba sampai kamu menemukan titik keberhasilan,” nasehat ibuku sambil memelukku.

“Aku lelah bu, aku sudah berusaha tapi apa aku gagal lagi. Kemarin aku merelakan SMA impianku, dan sekarang masa aku harus merelakan universitas impianku lagi,” ujarku menangis dipelukan ibuku.

“Coba cara lain ya nak, ikuti jalur tes ujian. Ibu yakin kamu pasti bisa, disini ibu selalu mendoakan kamu terus biar putri ibu lolos universitas impian kamu,” ujar ibuku sambil menghapus air mataku yang jatuh dari pipiku.

Berlarut-larut dari kesedihan tidak ada gunanya. Aku berpikir, ini baru proses awal dan masih banyak proses lainnya dan cara lain untuk mendapatkan universitas impian. Dan akupun mengikuti jalur tes ujian.

Sebelum tes ujian dimulai, aku belajar terus tanpa henti. Mengikuti sebuah bimbel supaya nilaiku besar dan lulus. Aku cari-cari soal tahun lalu untuk belajar biar hasilnya tidak mengecewakan.

Mungkin mengejar impian itu bukan seperti pesawat sekali terbang langsung sampai tujuan. Tidak ada kesuksesan yang instan, ada banyak proses yang harus kita lalui. Banyak waktu, tenaga, pikiran yang harus kita manfaatkan sebaik mungkin untuk meraih impian kita.

Beberapa hari waktu, ujian pun sudah dilaksanakan. Aku sudah siap mengikuti ujian karena aku yakin aku pasti bisa.

Ketika aku melihat soal sambil melotot sampai tidak berkedip. Karena soalnya diluar ekspektasi, ada yang sulit dan ada juga yang mudah. Aku menjawab soal ujian dengan tenang, semuanya aku jawab walaupun sulit.

“Aku bisa, aku pasti bisa, jangan nyerah katanya mau mendapatkan universitas impian,” ujarku dalam hati sambil menyemangati diri sendiri.

Beberapa jam, aku pun selesai tes ujian tersebut. Aku keluar dari ruangan dengan kepala yang pusing. Lelah? Iya benar-benar lelah, tapi ini untuk mendapatkan universitas impian.

Menunggu pengumuman lulus cukup lama, dalam waktu satu(1) bulan. Hidupku belum tenang dan masih gelisah.

“Apa aku lulus ya?kalau tidak lulus gimana ya?,”overthinkingku.

Satu(1) bulan pun tiba, hari yang paling ditunggu. Aku masih ragu ingin membuka pengumumannya. Aku takut kalau aku gagal lagi ke sekian kalinya.

Akhirnya…

Aku memberanikan diri untuk membuka link pengumuman ‘SNBT’. Sebelum membukanya aku tarik napas dulu.

Dan yaa…

Hasilnya benar-benar mengecewakan lagi, iya aku tidak lulus lagi ke sekian kalinya.

“Bu, maafkan aku ya bu. Aku tidak lulus lagi bu, aku sudah cukup lelah dengan proses ini,” keluhku sambil meneteskan air mata.

“Tidak apa-apa anakku, kita coba cara lain lagi ya,” ujar ibuku sambil menghapus air mataku.

“Apa aku bilang aku gagal lagi, lagi dan lagi bu,” ujarku menangis dipelukan ibuku.

“ kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi justru merupakan langkah pertama menuju kesuksesan yang sejati. Jangan pantang menyerah teruslah mencoba sampai keberuntungan menghampirimu,” nasehat ibuku sambil mengelus-elus kepalaku.

Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi, harapanku, impianku semua seperti sudah punah. Aku bingung harus gimana lagi mengatasi kegagalan ini. Mengapa kegagalan ini selalu menghampiriku.

Aku sudah cukup lelah mengikuti tes ujian tertulis. Padahal, mengikuti tes jalur mandiri pun masih ada,tapi aku tidak mau ikut lagi. Perjuanganku benar-benar terasa sia-sia, rasanya ingin sekali menyerah.

Lama-kelamaan aku sudah berdamai dengan keadaan dan takdir yang diberikan. Aku memutuskan untuk mendaftarkan di kampus swasta yaitu “Universitas Aisyiyah Yogyakarta”.

Aku melihat kampus ‘Universitas Aisyiyah Yogyakarta’ dengan akreditasi nya sudah unggul. ‘Universitas Aisyiyah Yogyakarta’ juga satu organisasi gerakan social keagamaan yang tumbuh dan berkembang dengan pesat di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia kiprahnya yang positif dan dinamis. Bergerak diberbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk diantaranya bidang pendidikan dan kesehatan.

Dari itu, aku mendaftarkan di Universitas Aisyiyah Yogyakarta dengan mengambil jurusan kesehatan. Orang tua saya pun mendukung saya untuk kuliah di Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Aku mendaftarkan di ‘Universitas Aisyiyah Yogyakarta’ dengan gelombang pertama (1). Dan juga menggunakan jalur rapot. Aku mengisi semua berkas yang disyaratkan oleh kampus. Sesudah mengisi link pendaftaran, aku menunggu hasilnya.

Beberapa hari kemudian, hasilnya pun keluar dan Alhamdulillah aku diterima di ‘Universitas Aisyiyah Yogyakarta’. Aku juga bersyukur mendapatkan prodi di pilihan pertama. Aku berlari menuju ibuku dengan semangat.

“ibuu…ibuu…ibuu…aku lulus bu di Universitas Aisyiyah Yogyakarta dengan prodi pilihan pertama,”ujarku dengan senyum bahagia dan sambil memeluk ibuku.

“Alhamdulillah setelah mengalami badai, akhirnya badai itu lama-kelamaan menjadi reda. Selamat ya buat anakku tercinta, ingat kegagalan bukan berarti membuat kita putus asa dan menyerah, tetapi mengajarkan kita untuk bersabar menerima kenyataan dan terus mencoba sampai rasa sakit dari kegagalan dibayar dengan keberhasilan. Walaupun itu swasta, ibu tetap bangga sama kamu, dan ibu bahagia melihat anak putri ibu tersenyum bahagia tidak sedih lagi,”nasehat ibuku sambil mengelus-elus kepalaku.

Aku tersenyum bahagia, dan memeluk erat ibuku. Akhirnya penantian selama ini sudah tercapai. Walaupun swasta Universitas Aisyiyah Yogyakarta adalah salah satu universitas impianku juga.

Ada bahagia dan ada juga sedihnya. Bahagianya aku bisa lulus dan bisa merantau yang dari dulu aku ingin merantau. Biar tau arti hidup yang sebenarnya merasakan kesendirian.

Sedihnya aku jauh dari orang tuaku, apalagi aku anak perempuan satu-satunya. Yang pastinya berat untuk meninggalkan desa kelahiranku. Tetapi, ini untuk masa depan. Apabila aku sukses suatu saat nanti, aku akan kembali ke kota kelahiranku dengan orang yang berbeda tetapi, tetap rendah hati. Menjadi orang yang berguna, orang yang Berjaya, sukses dan mempersembahkan gelar untuk kedua orang tuaku.

Dari ceritaku ini aku belajar…

Kegagalan ku awal perjalanan ku tanpa ku sadar akhirnya aku bisa melewati kegagalan ini. Ternyata perjalananku baru dimulai atas kegagalan yang pernah melewati hidukpu, sekarang ku tata perlahan yang telah ku mulai saat ini.

Hari terus berganti, detik terus berbunyi, angin berdesir seolah risau dengan teriknya matahari. Sesekali ku melihat ke arah belakang, dan ku kenang sambil tersenyum yang tergambar dibibirku. Kegagalanku sungguh membekas dalam ingatan, kini akan ku hadapi yang akan aku lewati di episode selanjutnya. 

Terima kasih telah mengukir kenangan dalam hidupku walau bentuk kegagalan.

Jangan takut sama sebuah hasil takutlah dengan proses yang tidak mencoba, walaupun gagal setidaknya kita sudah berusaha. Dan tau apa itu arti sebuah pedihnya kegagalan. Tidak ada awal proses langsung mencapai impian, setiap proses selalu mengalami kegagalan.

Kegagalan itu harus kita lawan sampai akhirnya kita menemukan titik keberhasilan. Yakinlah akan ada sesuatu special yang akan datang. Dalam sebuah proses kita boleh mengeluh asalkan jangan pernah mengatakan ingin menyerah.

Terkadang rencana kita tak sejalan dengan yang kita inginkan, tapi percayalah, rencana Allah lebih besar dan lebih indah dari yang kita bayangkan.

Kita memang mempunyai keinginan, tetapi keinginan itu tidak selalu menjadi milik kita. Kita mempunyai impian, namun semesta punya kenyataan.

Setiap manusia punya waktunya masing-masing,

Setiap manusia punya jalannya masing-masing,

“Jangan pernah merasa tertinggal ataupun iri dengan apa yang didapatkan oleh orang lain”

BE PROUD OF YOURSELF!